Home » Kolom Epilude » Perang Bintang

Perang Bintang

“KATANYA populer, katanya selebritas, lha kok follower-nya hanya 30-an orang?”

Itu ejekan, yang untungnya dalam nada selorohan dari teman-teman ketika tahu jumlah follower akun twitter saya. Itu pun hasil polbek alias timbal balik orang yang akun twitter-nya saya following. Saya hanya tertawa.

Saya memang bukan orang yang pintar dan demen ”menjual diri”, mencitrakan diri, atau ngemis kenalan. Punya akun twitter pun bukan lantaran takut dicap tidak gaul melainkan ingin iseng saja. Kita boleh beda pendapat soal ini. Apalagi, ada sebagian orang begitu serius mengukur popularitas dirinya lewat jumlah follower. Kita ingat bukan, tak sedikit artis yang perang Twitter lalu dengan lugunya membanding-bandingkan jumlah follower. Nah, jangan ngaku seleb kalau follower-mu belum mencapai satu juta, haha….

Dus, sebagai orang yang nirpopuler, saya tak mungkin mendaftar ke suatu partai untuk melamar diri sebagai calon bupati, wali kota, gubernur, apalagi presiden. Meskipun ada lakon wayang Petruk Dadi Ratu atau ungkapan kere munggah bale, saya tetap harus ndhelok githoke dhewe alias tahu diri. Bagaimana kalau sebaliknya, ada partai yang melamar saya? Rasanya kok itu seperti kata Olga Syahputra, ”Nanti saat Lebaran kera.” Atau, kata mendiang Asmuni, itu hil yang mustahal.

Itu beda dengan para artis yang sebutan lainnya selebritas. Selebritas itu pesohor, populer, dan umumnya punya pengidola atau fans. Maka sudah jamak dalam dunia politik, lebih-lebih saat pemilu, artis banyak diburu parpol. Mereka cenderung diposisikan sebagai vote getter atau pendulang suara atau penjaga stabilitas suara. Popularitasnya memudahkan untuk sosialisasi partai dalam menggaet suara pemilih.

Dan ini bukan cerita gres. Migrasi artis dari panggung hiburan ke panggung politik itu sudah berlangsung saat zaman Orba. Dan pada Era Reformasi (masih berdayakah istilah ini?), berapa artis kita yang malih rupa jadi politikus? Banyak sekali. Awalnya mereka hanya menjadi anggota partai dan terpilih sebagai anggota dewan. Lalu ketika pemilihan pemimpin pemerintahan di segala tingkatan dari kabupaten/kota sampai negara itu bersifat langsung, mereka masuk ke situ. Lagi-lagi popularitas memungkinkan mereka jadi orang terpilih. Sebut saja antara lain Dede Yusuf dan Rano Karno. Yang pertama jadi Wakil Gubernur Jabar, yang kedua Wakil Gubernur Banten.

***

BENAR, Aristoteles bilang bahwa manusia itu zoon politicon (istilah yang selanjutnya memunculkan kata politik dan politikus). Ia adalah makhluk yang ingin selalu bergaul dan berkumpul dengan manusia. Ia adalah makhluk yang bermasyarakat. Dan para artis juga manusia, bukan? Jadi, apa salahnya ketika mereka berpolitik? Tak ada.

Pun tak perlu dipersoalkan pula ketika nama-nama pesohor dunia hiburan seperti Deddy Mizwar, Rieke Dyah Pitaloka, Deddy Dores, Rachel Maryam, Dessy Ratnasari, atau Tina Talisa berniat ”menyerbu” Pemilihan Gubernur Jabar 2013. Orang menyebutnya Perang Bintang, dan perang seperti itu selalu menarik. Kita sudah sering menyaksikannya, misalnya dalam sepak bola dan basket.

Saya sebenarnya senang ketika mendengar para artis menjadi pemimpin rakyat. Mereka adalah orang-orang yang pandai menghibur sebab bagaimana pun artis itu sosok penghibur. Jadi, saya selalu berharap ketika menjadi pemimpin, mereka bisa menghibur rakyatnya. Rakyat yang terhibur pastilah rakyat yang riang, dan keriangan bisa menjadi pintu kebahagiaan.

Dan memang orang-orang tidak membutuhkan akting seorang artis di panggung kekuasaan. Sebab, hanya akting seperti itu, orang-orang sudah sering menontonnya dari para politikus yang bukan artis. Bahkan, akting mereka sering lebih termehek-mehek ketimbang artis sinetron. (*)

(Masih Epilude, Suara Merdeka, 14 Oktober 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: