Home » Kolom Epilude » KPI = Komisi Penegur Indonesia?

KPI = Komisi Penegur Indonesia?

AWALNYA saya iseng masuk ke laman Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di kpi.go.id. Di situ begitu banyak teguran dan peringatan yang ditujukan kepada stasiun TV terkait acara atau program yang melanggar UU No 32 tahun 2002 tentang Penyiaran dan atau Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia. Tentu saja, saya sering mendengar dan membaca soal teguran KPI kepada stasiun TV. Tapi tak dinyana, hingga akhir pekan lalu (4/11/2012), jumlahnya lebih dari 200 buah.

Data teguran itu membuat saya seolah-olah kena tempelak. Itu jumlah yang serius. Sebab, hal itu memberi tahu kita bahwa begitu banyak tayangan TV yang berkategori ”tidak pas” untuk pirsawan Indonesia. Kalau kita sigi lebih jauh, jenis tayangan yang disemprit itu sangat beragam. Tak hanya sinetron, film, reality show, talk show, bahkan berita dan tayangan azan Magrib pun kena teguran.

Lalu coba kita lihat stasiun TV yang melanggarnya. Semua TV nasional, bahkan TVRI yang kondang sebagai TV pelat merah, ikut-ikutan jadi pelanggar.

Kita ambil satu contoh saja pada program ”Yuk Hidup Sehat” yang ditayangkan TVRI. KPI melayangkan Peringatan Tertulis bernomor 548/K/KPI/09/12 tanggal 17 September 2012. Saya kutipkan saja seluruh deskripsi peringatan itu: “Pada tanggal 8 Agustus 2012 pukul 09.13 WIB telah menemukan penayangan gambar yang tidak layak untuk disiarkan, yaitu menayangkan gambar payudara dalam kondisi yang mengenaskan akibat serangan penyakit tertentu. KPI Pusat berpendapat, walaupun penayangan gambar tersebut bertujuan untuk menyampaikan informasi kesehatan bagi khalayak, namun penayangan gambar payudara dengan kondisi yang sangat mengenaskan tersebut secara vulgar dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian khalayak. Atas penayangan tersebut, KPI Pusat memutuskan memberikan peringatan tertulis agar memperhatikan kemungkinan munculnya ketidaknyamanan khalayak dalam setiap penayangan gambar dan adegan organ tubuh dalam kondisi yang mengenaskan akibat penyakit tertentu.”

***

SAYA tertempelak lantaran saya seolah-olah disadarkan bahwa betapa kita tidak ”aman” sebagai pirsawan. KPI sering disebut ”polisi moral” terhadap tayangan TV kita, dan dengan begitu banyaknya sempritan, sebagai pemirsa, sangat mungkin moral saya (juga pirsawan semua) terancam.

Apakah saya terlalu paranoid? Mungkin. Sebab, moralitas seseorang tak mungkin rusak hanya oleh satu adegan kecil dalam sebuah tayangan TV. Ataukah KPI yang terlalu lebay karena terlalu banyak menegur meskipun teguran itu sering tak digubris? Tidak, saya menolak anggapan itu. Kalau kita baca regulasi yang dikukuhi KPI tentang penyiaran, semua teguran dan peringatan itu sudah semestinya dilakukan.

Benar, sesuai regulasi, KPI hanya punya kuasa melakukan teguran administratif terhadap stasiun TV pelanggar. Sanksi terberatnya pun hanya penghentian program, umumnya hanya sementara. Dengan sanksi terberat seperti itu, bagaimana para pelanggar itu bisa kapok? Lebih-lebih lagi, tayangan yang kena semprit malah sering menuai berkah berupa rating bagus. Teguran KPI seperti jadi pemantik kepenasaran pemirsa.

Lantas bagaimana? Tentu saja saya tak sepakat model breidel-breidelan zaman Orla dan Orba. Tapi saya begitu berharap KPI lebih punya taji, juga untuk komisi-komisi lain bentukan negara seperti Komnas HAM, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, ya setidaknya sebertaji KPK. Saya tak ingin KPI hanya jadi Komisi Penegur Indonesia. Sebab, hanya berteriak-teriak menegur tapi tak digubris, selain capai mulut, pasti bikin galau. Dan itu tidak keren untuk komisioner lembaga negara. (*)

(Masih Epilude, Suara Merdeka, 11 November 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: