Home » Kolom SMILOKUI » Dasar Orang!

Dasar Orang!

SETIAP menjumpai bangkai tikus, lebih-lebih yang masih baru terlindas ban kendaraan, perut saya jadi sebah. Hati saya selalu merutuki si pembuang bangkai: kenapa harus membuang bangkai di jalan raya? Padahal, hanya beberapa kilometer berkendara saja, saya bisa menjumpai lebih dari seekor si pembuat mual perut itu.

Malang nian nasib para ”jerry” itu, terutama yang dijuluki wirog oleh orang Jawa. Sudah tewas, dan tewasnya pun mungkin nahas lantaran sengaja diberantas, masih pula dilempar dengan gemas ke jalanan dan dilindas-lindas. Nasibnya kalah beruntung dari anak-anak tikus alias cindil yang dimakan orang (tentu bagi yang doyan) untuk alasan kesehatan. (Maaf Pembaca, jangan ikut-ikutan mual membaca baris-baris kalimat ini, ya….)

Di jalan raya, para ”jerry” wirog ini juga kalah terhormat dari nasib para ”tom”. Bila seorang pengendara tanpa sengaja menabrak kucing, sejauh apa pun sudah melaju, dia akan putar balik, mengambil bangkai si kucing dengan perasaan cemas, lalu menguburkannya sembari berharap kenahasan tak menimpanya. Memang itu bukan penghormatan terhadap nasib si kucing melainkan refleksi dari kecemasan atas mitos: penabrak kucing bakal celaka.

Dari situ, rasanya saya ingin menciptakan mitos tandingan: pembuang bangkai wirog bakal diburu hantu wirog yang sangat seram. Tapi pasti mitos ciptaan saya bakal tak berpengaruh apa-apa. Apa pasal? Kita sudah akrab dengan hantu-hantu dari film dan FTV. Apalagi, hantunya yang perempuan cantik-cantik, imut, dan lucu. Kalau ada orang yang merinding takut melihat si cantik-imut-lucu, pasti orang itu bukan saya, haha….

Kembali ke ihwal tikus dan kucing, agaknya kita perlu bertanya: sudahkah kita berperikehewanan? Jangan-jangan sikap peri kemanusiaan kita saja lupa-lupa ingat, apa lagi berperikehewanan? Waduh!

Ya, kucing yang celaka di jalan raya, kita kebumikan dengan ”layak” lantaran kecemasan atas mitos. Sebagian kita juga memiaranya di rumah, bahkan dirawat sedemikian dahsyat dan diikutkan kontes kucing cantik. Sebagian kita juga lumayan dermawan dengan melempar sisa ikan ke kucing-kucing yang berkeliaran.

Tapi itu juga belum cukup untuk menjemawakan diri kita bahwa kita ini berperikucingan. Coba saja ada kucing yang memang tak kenal pasal pidana pencurian itu diam-diam menyikat ikan kita, bisa saja mulut kita sontak mengumpat: Dasar kucing garong! Belum lagi dalam keseharian, kita juga sering menjadikan kucing sebagai kambing hitam (alamak, sayang tak ada istilah kucing hitam…). Bukankah kita pernah atau bahkan sering mengumpat, ”Huh, ta*k kucing!”? Kalau saya cempiang bahasa kucing, saya mungkin sering dengar para ”tom” mengumpat dengan, ”Kau itu ta*k orang!”

***

BICARA tikus dan kucing, kurang afdal tidak membicarakan anjing. Konon sudah dari sono-nya, tikus berseteru dengan kucing yang berseteru dengan anjing. Jadi, lebih lengkap bila yang saling berseteru itu kita ulas bareng-bareng.

Anjing, kata sahibul ujaran, adalah hewan yang dekat dengan manusia dan sangat setia pada majikannya. Anjing juga penjaga rumah yang baik, terutama baik untuk sedikit menakut-nakuti orang yang hendak bertandang ke sebuah rumah lewat tulisan, ”Awas ada anjing galak!”

Tidak ada yang perlu dibantah soal kedekatan dan kefamilieran hewan yang dalam istilah Latin juga menegaskan itu: Canis familiaris. Kata ahli biologi, ia adalah karnivora, si pemakan daging. Maksudnya, pada dasarnya terutama dilihat dari struktur giginya, ia pemakan daging. Kalau ada anjing yang doyan susu sapi dan roti atau nasi, pasti itu lantaran si anjing sudah ”belajar” jadi manusia yang memang omnivora alias pemakan segala.

Maka, lantaran memakan segala, sebagian orang juga doyan makan ”teman” sendiri lewat sajian di warung-warung berlabel Sate Kambing Balap atau Rica-Rica Waung. Bahkan, lantaran banyak yang doyan, kita sudah jarang melihat anjing-anjing yang berkeliaran. Seorang aktivis perlindungan satwa liar di Yogyakarta pernah mengeluhkan soal perburuan anjing liar yang ujungnya berakhir di warung-warung.

Lagi-lagi, sayang sekali, saya tak mewarisi ilmu Nabi Sulaiman yang mahir berbahasa binatang. Andai memiliki itu, mungkin setiap saat saya mendengar para anjing itu keki mendengar umpatan ”Dasar anj*ng!” dari mulut orang. Dan sebagai binatang yang cepat belajar, dia akan mencontoh untuk merutuki sesamanya dengan: ”Dasar orang!” Para anjing itu tidak tahu bahwa umpatan ”Dasar anj*ng!” itu bukan untuk mengutuki mereka melainkan makhluk sejenis si pengutuk. (*)

(Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 14 April 2013)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: