Home » Kolom Epilude » (Bukan) Suster Hantu

(Bukan) Suster Hantu

FILM Bangkitnya Suster Gepeng bercerita tentang teror yang dilancarkan hantu seorang suster terhadap seorang gadis. Film yang antara lain dibintangi Aelke Mariska, Jenny Cortez, dan Ozy Syahputra itu dirilis 11 Oktober 2012 tapi rencana pemutarannya sudah diprotes di Makassar, Sulsel. Di sana, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Profesi Perawat (AMP3) menganggap film tersebut telah melecehkan profesi perawat dan mahasiswa keperawatan di seluruh Indonesia lantaran mengidentikkan suster sebagai ikon hantu yang menakutkan.

Saya tak pernah menyukai film horor, baik produksi Hollywood maupun (apalagi) produksi orang kita, khususnya yang dibikin satu dekade belakangan. Alih-alih tercekam seperti yang dimaui film jenis itu, sebelum menontonnya, saya telanjur tertawa saat membaca judulnya.

Mari kita baca: Suster Keramas (2009) yang sekuel keduanya dirilis 2011. Apa seramnya suster yang keramas? Juga yang ini: Pocong Mandi Goyang Pinggul (2011). Kalau gambaran pocong seperti yang ada dalam film-film horor kita, ia pasti mandi tanpa melepas kain putih yang membelitnya. Sebab, kalau sudah dilepas, pasti namanya bukan pocong lagi. Kalau ihwal bergoyang pinggul sih, mungkin saat mandi, si pocong mendengar lagu dangdut. Tapi dengan dua kaki terikat kain, goyangan pinggulnya pasti lucu sekali. Atau yang ini: Mama Minta Pulsa (2012). Mana unsur horor dari judul itu? Hari gini, minta pulsa bukan aksi yang menyeramkan, kan?

Sudahlah, ketidaksukaan saya ini pasti semata soal selera yang masing-masing orang memang berbeda. Dan perbedaan selera tidak perlu dipertentangkan satu dengan lainnya, tidak perlu diperbandingkan bahwa yang satu lebih jos dari lainnya. Kalau Anda suka baju kotak-kotak, ya jangan anggap rendah yang suka baju kembang-kembang.

***

MUNGKIN saja kualitas Bangkitnya Suster Gepeng itu serupa dengan film horor yang sudah ada. Plotnya gampang ditebak, ada bagian cerita yang ”aneh” dan dipaksakan. Film ini bercerita tentang Keiko Larasati Hirosuke, gadis blasteran Jepang-Indonesia. Kakeknya, Sato Hirosuke, bekas serdadu Jepang yang ditugaskan di Indonesia. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, sang kakek pulang ke tanah airnya serta menikah dan punya satu putri. Putrinya itu kemudian menikah dengan pria Indonesia dan melahirkan Keiko.

Suatu malam, sepulang clubbing bersama pacar dan teman-temannya, Keiko mendapat teror yang menyeramkan lewat sebuah siaran aneh radio, seperti siaran radio zaman Perang Kemerdekaan. Selain itu, Suster Gepeng muncul menghantui orang di sekitar Keiko. Suster Gepeng menuntut sesuatu yang tak dimengerti oleh Keiko. Sesudah Keiko menelepon Sato yang masih tinggal di Jepang, terkuaklah sebuah kisah dari masa lalu yang berakhir tragis. Konon, Suster Gepeng dulunya bernama Larasati, suster pejuang Kemerdekaan yang berpacaran dengan Sato. Ia mati tragis terjepit lift saat diburu serdadu Jepang.

Seperti itulah kisahnya: plotnya datar. Temanya simpel: balasan atas pengkhianatan terhadap janji adalah balas dendam dalam bentuk teror. Juga ada hal yang berkesan dipaksakan. Apa? Lift! Pada zaman Perang Kemerdekaan, ada bangunan kita yang sudah mengenal lift? Di mana? Sudahlah, mungkin penulis skenario, sutradara, produser, atau siapa pun yang terlibat dalam film itu lupa hal kecil seperti itu. Tapi yang seperti itulah yang sering kita jumpai dalam film-film horor kita satu dekade ini. Ya film-film itu terus dikritik kualitasnya, tapi tetap diproduksi dan tetap ada penontonnya. Mau apalagi?

Tapi betapa pun begitu, bagian mana dalam Bangkitnya Suster Gepeng yang bisa dianggap melecehkan profesi perawat alias suster seperti yang jadi argumentasi para mahasiswa-penolak itu? Hanya lantaran suster dalam film itu dijadikan hantu seram? Kalau logika tersebut diikuti, berapa profesi yang sering dilecehkan sebuah film, novel, atau cerpen? Atau masih soal suster, kisah Suster Ngesot baik yang beredar di Jakarta maupun Semarang, juga sudah diangkat jadi film dalam judul-judul Suster Ngesod (2007), Suster N (2007), atau Kutukan Suster Ngesod (2009). Melecehkan jugakah film-film itu?

Saya tak bersepakat dengan alasan penolakan para mahasiswa itu. Tapi memang satu dekade ini, begitu banyak film horor yang berkisah tentang suster yang jadi hantu. Mungkin itulah kegalauan mahasiswa Makassar. Mungkin pula, mereka hanya sebal lantaran perawat atau suster yang merupakan profesi mulia hanya jadi bahan eksploitasi film-film murahan. Dan saya yakin, kita tak suka pada yang murahan, bukan? (*)

(Masih Epilude, Suara Merdeka, 23 September 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: