Home » Kolom Epilude » Ber-Gangnam-Style-kah Anda?

Ber-Gangnam-Style-kah Anda?

PERNAH ada masa ketika kita mencemaskan remaja kita yang kebarat-baratan. Sekarang, bila kita masih mencemaskan hal itu, kita mungkin hanya ditertawakan. Apa pasal? Sebab, remaja kita tidak lagi kebarat-baratan tetapi ketimur-timuran. Bukan ketimur-tengahan ataupun ketimur-tenggaraan melainkan ketimur-jauhan. Timur Jauh? Ya, negara macam China, Jepang, Korea (Selatan dan Utara) sering disebut negara-negara Timur Jauh. Dan agaknya selama beberapa tahun belakangan, kita tengah berkiblat ke sana.

Mau bukti? Saat kita tak bisa lepas dari gadget, ponsel misalnya, merek yang kita pegang buatan China. Tentu saja ada sebagian dari kita yang gengsi memiliki ponsel China, tapi sudah sama-sama kita tahu, ponsel-ponsel itu menyingkirkan merek-merek mapan yang sudah ada. Dari Jepang, kita pernah mengandrungi J-Pop, dan yang masih tersisa hingga kini adalah bacaan kita berupa komik-komik manga. Lalu dari Korea (dengan catatan khusus Korea yang Selatan), dan ini masih marak hingga sekarang, ada K-Pop lengkap dengan boyband dan girlband dan segala hal yang berkaitan dengan koreografi gaya Negeri Gingseng. Kalau kita pernah mencemaskan remaja yang kebarat-baratan, apakah kita sekarang ini juga mencemaskan gaya ketimur-jauhan?

Saya tidak. Apalagi saya yakin, sekarang ini, banyak rumah kita yang jadi penuh Korea. Entah itu dalam rupa tempelan poster artis, tayangan drama serial, atau pun alunan lagu dan klip video serba-Korea. Untuk contoh saja, ya rumah saya. Sementara dua anak perempuan saya demam Suju, SM Town, ibu mereka demen drama Korea. Saya tak usah dihitung sebab pada saat mereka ber-Korea, saya lebih sering menjadi ”obat nyamuk” dan sesekali meyakinkan diri bahwa kami tidak sedang tinggal di Seoul.

Kadangkala saya malah dianggap penganggu semata karena ikut nimbrung atau menggoda kedua anak saya yang lagi ”sibuk” berdiskusi tentang artis-artis Korea. Pasti internet, televisi, majalah atau koran yang membuat mereka bergaya ”pakar” saat mereka mengungkap gosip atau sisi kehidupan salah seorang artis negeri itu. Seolah-olah mereka lebih paham soal kehidupan personel Suju ketimbang misalnya soal kedahsyatan sajian pentas Matah Ati. Belum lagi saat saya menjemput anak sulung saya dari sekolah, alih-alih bercerita tentang keasyikan belajar atau pelajaran apa yang membuatnya ”pusing”, dia malah menceritakan keiriannya pada seorang temannya yang konon dapat tiket gratis nonton konser SM Town, atau seorang temannya yang lain yang ber-BBM-an dengan Siwon.

Apa yang saya lakukan? Tentu saja saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Biar saja semua mengalir, toh nanti idola dan kegandrungannya bisa saja berubah. Tak beda jauh dengan ayahnya, ya saya ini. Pada saat seusianya, saya juga bisa mengobrol dengan teman, dengan obrolan gegap-gempita, tentang tokoh-tokoh film yang baru ditonton dari televisi atau dari layar misbar (gerimis bubar alias layar tancap). Yang berbeda hanya teman mengobrolnya: ketika saya seusia anak saya itu, mana berani mengajak ngobrol soal film dengan Bapak atau Ibu? Untuk hal ini, setidak-tidaknya saya merasa tersanjung dianggap teman oleh anak saya.

***

SAMPAI berapa lama kegandrungan dan pengidolaan itu berlangsung? Saya tak tahu, tapi saya yakin tren Korea itu pasti ada masa kedaluwarsanya. Pun dengan Gangnam Style yang sekarang ini tak cuma digilai anak-anak, remaja, tapi juga orang dewasa. Tanpa perlu dibuktikan lagi, Anda sering menyaksikan sekumpulan orang menari-nari dengan gaya energetik yang kocak, gaya yang awalnya dimulakan oleh PSY, yang lagi-lagi juga dari Korea.

Apa sih sebenarnya kehebatan tarian yang disebut Gangnam Style itu? Coba bandingkan dengan tarian dalam film-film Bollywood, khususnya tarian-tarian yang membanyol. Lebih bagus dan energetik mana dengan Gangnam Style?

Barangkali untuk sesuatu yang populer dan digandrungi banyak orang, kita tak perlu mempertanyakan kualitasnya. Dalam budaya pop dan serbainstan ini, seolah-olah ukuran kualitas adalah kuantitas. Maksudnya, kalau peminatnya banyak berarti produk atau kreasi itu bagus. Hmm, jadi seperti ketika kita mau makan di warung saja, kalau yang makan banyak, berarti masakannya enak. Padahal, itu belum tentu, bukan?

Ah, sudahlah. Toh bukan kali ini saja. Dulu ketika tarian Poco-Poco milik kita jadi tarian ”wajib” dalam acara resmi pemerintah, setiap pegawai seolah-olah harus berpoco-poco. Kalau tidak, mending kalau dianggap tidak gaul, bagaimana bila dianggap kurang loyal?

Orang bijak bilang, jangan membendung sungai yang sedang deras mengalir, dan kalau kau melakukan itu bisa-bisa kau terseret arusnya. Apa boleh buat, sekarang mungkin Gangnam Style lagi meraja, tapi tentu saja Anda berhak untuk tidak menjadi hambanya. Bagi yang gandrung Gangnam Style, izinkan saya menyarankan untuk juga menyaksikan tarian geculan dalam ketoprak atau sendratari. Kekocakannya bisa membuat Anda terbahak-bahak, dan itu sehat juga, bukan? (*)

(Masih Epilude, Suara Merdeka, 30 September 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: