Home » Kolom Epilude » Bahagiakah Kau, Nikita?

Bahagiakah Kau, Nikita?

NIKITA lagi, Nikita lagi. Setahun ini, porsi berita gosip hiburan mengenai perempuan kelahiran Jakarta, 17 Maret 1986 itu begitu banyak. Dan semuanya berkategori sensasional. Mungkin memang dia layak dijuluki Ratu Sensasi. Kita sebut beberapa saja sensasinya: bangga berfoto syur, lugas mengaku berselingkuh dengan Indra Birowo, santai saat mengaku jadi simpanan pejabat, pamer tato, cuek saat berseteru dengan teman sesama artis dalam twitwar, atau melelang ciuman bibir denganya seharga Rp 5 juta saat memandu pelelangan tiket konser Sting akhir September 2012.

Dia juga mandah saja saat disebut aneh, gila, arogan, dan hanya pintar jualan sensasi doang oleh beberapa teman artis.

”Aku kasih saran ritual dia joget gaya monyet biar otaknya sadar,” ujar Jenny Cortez, artis yang berseteru dengannya.

Ya, begitu banyak hujatan padanya, tapi bak kafilah, dia melenggang saat ”anjing menggonggong”.

Gue bingung sama orang yang demen banget ngurusin urusan orang. Mendingan urus diri masing-masing, kayak dirinya sudah benar saja, ngaca tuh di kuah semur.” Itu salah satu balasan Nikita Mirzani saat dihujat-hujat.

Benarkah ‘’otak” Nikita tidak sadar ketika bikin sensasi seperti ucapan Jenny? Saya pikir, tidak. Dia sadar sepenuh-penuhnya, bahkan dalam hal ini, saya anggap dia seorang artis cerdas yang melihat dunia hiburan mirip kastil pasir yang bakal musnah diempas bibir ombak. Kita sudah sama-sama tahu soal itu. Begitu banyak artis muncul, melesat, sempat sekejap menikmati puncak popularitas, lalu lenyap. Nikita tak ingin seperti itu. Dia ingin selalu menjaga kastil pasirnya dari empasan ombak meski itu lewat jalan sensasi yang mungkin dianggap orang lain murahan, liar, dan ndesit.

Dengar saja ucapannya: ”Kalau aku sih me-maintain gosip dan sensasi. Artis nggak bikin sensasi, bisa redup.” Dan dia membuktikan ucapannya. Setelah sensasinya, alih-alih redup, nama Nikita Mirzani justru menjulang. Dia laris main film, dan diburu production house (PH).

Tapi apakah Nikita berbahagia? Saya selalu tergoda melempar pertanyaan itu pada setiap pesohor, setiap orang yang populer. Lebih-lebih pada pesohor yang selalu tampak riang, penuh kepercayaan diri, seperti yang tampak pada Nikita. Mungkin saya terlalu impulsif mencerna ucapan Abraham Lincoln, presiden ke-16 AS yang tentu saja tersohor: “Avoid popularity if you would have peace.” Jangan jadi populer kalau kau ingin hidup damai. Tapi siapa yang tak ingin populer?

Ah entahlah, tapi yang jelas hari-hari ini Nikita sedang tidak berbahagia. Sejak Rabu (17/10/2012) lalu dia mendekam di tahanan Polda Metro Jaya, jadi tersangka penganiyaan terhadap dua orang perempuan.

Tentu saja, dalam hal ini, kita hanya perlu menunggu proses hukum berjalan untuk Nikita. Kalaupun dia nantinya dipenjara, siapa tahu penjara bisa membuatnya belajar bahwa popularitas tak selalu bikin orang berbahagia, dan sensasi tak selalu jadi jalan menuju popularitas. Dan Nikita juga tak perlu meresahkan bahwa penjara akan meredupkan popularitasnya. Dunia hiburan kita tak menolak artis yang pernah dipenjara, tapi dunia hiburan kita ”menolak” seorang artis yang berlama-lama di puncak popularitas, lebih-lebih yang mencapainya lewat jalan sensasi. (*)

(Masih Epilude, Suara Merdeka, 21 Oktober 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: