Home » Kolom Epilude » Apa yang Kaucari, Jupe?

Apa yang Kaucari, Jupe?

JUPE, Jupe, apa sebenarnya yang kaucari? Semestinya kau perlu banyak bersyukur, sebab tampaknya kau termasuk orang yang dikaruniai banyak hal. Catat saja, kau yang mendadak muncul dalam dunia hiburan kita, ternyata bisa eksis, populer, dan tetap populer hingga kini. Tak banyak artis yang bisa begitu. Teman-temanmu bahkan ada yang hanya muncul sesaat, tak sempat ke puncak popularitas lalu lenyap. Popularitasmu bahkan tak sekadar ketenaran biasa. Kau punya ciri: seksi.

Boleh saja banyak orang bilang, kau populer lantaran mampu mengeskpose semua sumber daya yang ada dalam diri, khususnya keseksian tubuhmu, termasuk juga kepiawaianmu bikin sensasi. Boleh saja orang mencibir terhadap beragam sensasi yang kau bikin, tapi bukankah tak setiap orang bisa melakukannya? Bagaimana kau tak mensyukuri karunia yang diberikan kepadamu ketika tak setiap artis bisa sepertimu? Kau bisa main film, meskipun tak banyak pujian untuk aktingmu. Kau bermain sinetron, meski juga permainanmu tak diganjar penghargaan. Kau bisa menyanyi, sampai-sampai istilah ”belah duren” begitu tenar, meski juga suaramu berkategori biasa-biasa saja. Dan sampai hari ini, kau masih terbilang sebagai artis yang laku. Lantas kenapa kau menyelubungi dirimu dengan sensasi yang sebagian orang sebut ”murahan”?

Beberapa waktu lalu, kau sempat membalikkan citra, yang dalam banyak hal bersifat positif. Kau umrah dan beberapa saat memakai jilbab. Citra tentang dirimu yang doyan berpakaian seksi nyaris saja terkubur. Banyak orang berharap kau menjadi tidak ”nakal” lagi dan menjadi artis yang alim. Ya, mungkin tak harus seperti Inneke Koesherawati yang bermetamorfosis dari artis panas menjadi simbol perempuan muslimah.

Tapi lalu muncul foto-fotomu, dalam busana seksi. Itu pun tak bakal bikin geger andaikan di punggung bagian kananmu tidak ada sesuatu. Tato, dan itu bukan sembarang tato. Tato itu bertuliskan huruf Arab yang berbunyi ”Hayya ‘alal falah”. Kenapa harus kalimat itu? Kau pasti tahu betapa kalimat itu disucikan dalam Islam, agama yang kauanut, sebab ia selalu dilafalkan saat azan dan iqamat. Lebih-lebih lagi kau menuliskan kalimat itu sebagai tato di punggung dan kau memperlihatkannya pada banyak orang. Kau kan tahu, banyak ulama berpendapat tato itu haram, dan punggung adalah aurat buat perempuan. Jadi, ketika lafaz sakral dibuat jadi bagian sesuatu yang diharamkan, siapa yang tak bereaksi? Bayangkan saja begini, hai Yuli Rahmawati, ya itu namamu sebelum tersohor sebagai Julia Perez, kau sedang mencuci pakaian di suatu sumber air bersama banyak orang. Di situ ada banyak orang lain yang tengah mandi dan mengambil air untuk minum. Tiba-tiba ada seseorang yang kencing di sumber air itu. Apa reaksimu? Mungkin orang itu babak belur dan kau salah seorang yang ikut membuatnya merana.

Itulah kau sekarang: babak belur. Kau bahkan dianggap menghujat agama yang kauanut.

Oh Jupe, saya bakal tidak bersikap adil kalau hanya ikut-ikutan menghujatimu tanpa berusaha tahu motifmu. Mungkin sebenarnya niatmu bagus. Mungkin kau ingin berdakwah lewat lafaz itu. Kau ingin mengajak orang-orang meraih kemenangan seperti makna lafaz tersebut. Tapi dalil innama ‘amalu binniyat mungkin tak cukup dalam hal ini. Niatmu bagus, tapi tindakanmu hanya menciptakan ketersinggungan dan kemarahan.

***

SAYA tak berharap kalimat-kalimat di atas dibaca Jupe. Saya lebih suka berharap dirinya tengah sibuk membuang tatonya (syukur bila itu tato temporer yang mudah dihapus), lalu berintrospeksi bahwa bikin sensasi yang melukai orang lain, selain tidak cerdas, juga vivere pericoloso alias menyerempet-nyerempet bahaya. Tentu kesadaran itu tak hanya untuk Jupe, tapi untuk kita semua. Sebab, dalam kerangka yang lebih besar, saya berharap kita tak lagi mendengar soal penghujatan agama, penodaan kitab suci, kekerasan atas nama agama.

Benar, kita punya hak berekspresi. Membikin simbol-simbol tertentu seperti tato, rajah, atau apa pun namanya, juga manifestasi hak berekspresi itu. Tapi kita tidak hidup di gua-gua, tempat kita bebas menulisi dinding-dindingnya dengan gambar dan simbol yang (barangkali) ketika dibaca para arkeolog ternyata berisi ancaman atau penistaan terhadap kelompok orang gua lainnya. (*)

(Masih Epilude, Suara Merdeka, 9 September 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: