Home » Kolom Epilude » Aku Blasteran maka Aku Seksi

Aku Blasteran maka Aku Seksi

SAYA sebenarnya menganggap iseng voting berlabel OMG Award oleh Yahoo yang sedang berkelindan di internet. Mungkin seiseng menghitung bunyi tokek. Tapi saat  bersirobok dengan nominasi The Sexiest Mom, lima nominenya mengajak mata saya terpicing-picing sambil tercenung: ”Ketika membayangkan perempuan seksi, apakah Farah Quinn, Tamara Bleszynski, Sheila Marcia, Wulan Guritno, atau Sophia Latjuba pernah menyelinap ke dalam benak saya?”

Tidak pernah! Saya akui mereka memang cantik, dan menurut umum, mereka seksi. Sayangnya karena ukuran keseksian seorang perempuan harus pernah, betapa pun satu kali, lindap di dalam benak saya, mereka berlima tidak seksi buat saya. Mungkin saya ini ndesit dan ”berselera rendah”. Tapi saya kan bisa berdalih, ”They’re not my types!” Hahaha…. Juga saya bisa mengeluarkan jurus berdalih lain bahwa ”ukuran” keseksian setiap orang berbeda-beda.

Meskipun saya anggap main-main, voting yang menyodorkan lima nomine itu buktinya. Kalau ukuran keseksian sama setiap orang, buat apa lagi dibikin voting segala? Cukup mufakat bulat, bukan?

Tapi karena kita ini makhluk yang demen definisi, ukuran, kriteria tentang sesuatu, yang disebut seksi pun harus ada kejelasan definitifnya. Jangankan terhadap manusia, terhadap hewan piaraan saja kita punya kriteria mana yang berkriteria bagus, mana yang tidak. Contohnya, kontes kucing, kontes anjing, atau kontes kecantikan sapi sonok di Madura.

Sudah banyak orang menyebut definisi dan kriteria perempuan seksi, baik dari sisi fisik maupun psikis. Seksi fisik itu wajahnya cantik dan sensual, kulitnya bersih, pinggangnya bak gitar Spanyol, kakinya bak kaki belalang, dadanya harus tampak berisi, matanya bak permata, jalannya seperti macan lapar, bla-bla-bla. Dari sisi psikis, dia harus penuh percaya diri, smart, dan begini-begini, begitu-begitu.

Wah, banyak sekali, dan karena banyak kriteria itu, tiap orang punya peluang meyakini sendiri konsepnya tentang perempuan seksi.

***

BERKAITAN dengan nomine The Sexiest Mom ala Yahoo, saya harus menambah satu kriteria lagi: perempuan seksi itu harus blasteran, harus indo, dan indo-nya harus punya ras kaukasian. Lo kok?

Lihat saja, empat dari lima nomine itu blasteran. Itu artinya 80 persen, jumlah yang tak terbantahkan secara kuantitatif. Tamara, Sheila, Wulan, dan Sophia punya darah kaukasian. Hanya Farah Quinn yang tulen Indonesia. Itu pun dia lama tinggal di negeri Barat sono. Bahkan gayanya ketika memandu acara masak pun ”keminggris”, seperti yang kita ingat pada ungkapannya: “This is it!

Maaf, saya tidak sedang mengobarkan rasialisme. Kelima nomine itu pun tak pernah mengaku bukan orang Indonesia. Pun voting itu tak akan punya dampak pada cara kita berbangsa, atau punya pengaruh dalam kehidupan politik (kecuali kalau nanti ada syarat bahwa untuk jadi pemimpin pemerintahan itu harus cantik atau tampan atau seksi, hehe…).

Ini semata dalam konteks jagad hiburan. Dan di jagad hiburan kita, seseorang berdarah blasteran (umumnya) kaukasian itu seolah-olah punya harga tersendiri. Bahkan kalau berbahasa Indonesianya saja cadel, dia bisa tetap digemari sebagai penyanyi atau pemain sinetron.

Benarkah yang blasteran atau indo selalu punya daya tarik? Entahlah. Tapi jangankan manusia, bekisar yang konon blasteran ayam kampung dengan ayam hutan itu juga mahal harganya dan banyak dicari. Dan dulu, ya dulu semasa kolonialisme Belanda, jangan-jangan moyang saya selalu memandangi noni-noni dan sinyo-sinyo dengan kekaguman takzim dan berharap bisa menjadi mereka. Nah, kalau lihat kulit hitam saya, berarti harapan moyang saya itu tak kesampaian. Tapi yakinlah, meski berkulit hitam dan tidak tampan, saya tetap punya peluang jadi seksi; seksi repot-repot dalam suatu acara misalnya, hahaha…. (*)

(Masih Epilude, Suara Merdeka, 4 November 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: