Home » Kolom Epilude » 1 Lelaki x 1 Lelaki = 1 Orang Tua?

1 Lelaki x 1 Lelaki = 1 Orang Tua?

SELEBRITAS Indra Brugman dan Bertrand Antolin yang sama-sama lelaki dikabarkan telah menikah di Belanda. Meski sudah lama rumor beredar bahwa keduanya gay dan berpacaran, kita tetap geger. Sebagian besar kita tidak menerima dua orang sejenis kelamin berpacaran, apalagi sampai menikah.

Semasa kuliah, saya dan beberapa teman lelaki yang ketika itu jomblo, punya sebuah mantra andalan untuk berkilah: ”Ah, jenis kelamin tak penting. Yang penting kasih sayang.”

Namanya juga kilahan, ucapan itu hanya untuk menutupi ”rasa gengsi” karena tak mampu-mampu memikat mahasiswi dan hanya terlihat runtang-runtung dengan mahasiswa. Kenyataannya, buat kami, kasih sayang itu penting dan perbedaan jenis kelamin juga penting ketika kami mencari pacar, juga calon istri. Bukti sahihnya, ketika kami sudah sama-sama berkeluarga, tak ada di antara kami yang menyukai orang sejenis kelamin.

Tentu saja, saya sudah ”kenyang” mendengar dan membaca kisah tentang orang-orang yang menyukai orang sejenis kelamin, yang dalam beberapa disiplin ilmu seperti psikologi dan seksologi disebut sebagai penyimpangan seksual. Kisah persekasihan dan percintaan seperti itu juga bukan perkara setakat ini saja, tapi sudah diberitakan sejak zaman baheula. Baik Alquran maupun Injil sama-sama menceritakan kisah tentang Nabi Luth, perilaku liwath atau faahisyah di Negeri Sodom, dan kehancuran negeri itu (dan Gomorra) karena azab Allah.

Ucapan berkilah kami yang iseng itu bisa saja menjadi konsep serius bagi mereka yang menyukai orang sejenis kelamin. Dan buat mereka, rasa suka itu hak azasi. Pikiran saya bisa menerima hal itu karena secara psikologis dan seksual, setiap orang memiliki sesuatu yang unik dan khusus, tapi jujur saja, hati saya tetap merasa aneh: kenapa seorang lelaki bisa merasa terpikat secara seksual, punya rasa romantis dan kemesraan kepada seorang lelaki lain? Kenapa seorang perempuan bisa merasa bergairah secara seksual terhadap perempuan lain? Saya mengalami keanehan mungkin karena saya tidak merasakan kebergairahan pada orang sejenis kelamin, seperti mereka.

***

JADI, dalam hal ini, pikiran dan hati saya terus berkonflik. Tapi dalam kehidupan, konflik seperti itu bisa muncul lantaran banyak hal, bukan? Anda yang kebetulan tidak menyukai drama serial Korea, misalnya, pasti tidak nyaman menyaksikan istri Anda takzim di depan televisi yang menayangkannya. Tapi Anda bisa saja berpikir, ”Ah, itu kan hak dia.” Tapi bila selanjutnya muncul ekses yang ”mengganggu” rumah tangga Anda, misalnya istri Anda lupa menjemput anak di sekolah atau ”lalai” kewajiban lainnya, Anda pasti tak tinggal diam. Bahkan meski Anda termasuk anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri, haha…), setidak-tidaknya Anda akan mengedumel.

Mungkin seperti itulah analogi kita dalam menyikapi orang-orang yang berkecenderungan menyukai orang sejenis kelamin. Lantaran tak ingin dicap berpikiran kolot, dan atau lantaran ingin benar-benar menghormati hak azasi manusia, kita ”seolah-olah” bisa menerima hak mereka bersekasih, bahkan melakukan pernikahan sejenis seperti pasangan Philip Iswardono dan William Johanes. Soal hak itu pula yang jadi alasan beberapa negara semacam Belanda, Spanyol, Afrika Selatan, dan beberapa lainnya, melegalkan pernikahan sejenis kelamin.

Tapi kita tetap berteriak, entah atas nama ajaran agama, dasar-dasar hukum perkawinan, atau apa pun: bahwa hubungan seperti itu tetap tak bisa diterima. Ya, pacaran sejenis kelamin saja banyak digunjingkan apalagi sampai menikah. Gunjingan, juga penolakan itu pula yang sebagian besar kita lakukan saat mendengar pernikahan Indra dan Betran.

Kalau mereka benar-benar menikah, juga pada kasus-kasus lain, siapa di antara mereka yang harus disebut ayah dan siapa yang ibu? ”Orang tua.” Itu kata Menteri Kehakiman Prancis Chistiane Taubira. Beberapa waktu lalu, pemerintah Prancis berencana menghapus kata pere (ayah) dan mere (ibu) dalam dokumen resmi untuk memuluskan rencana pelegalan pernikahan sejenis dan menggantinya dengan kata parent (orang tua). Kalangan Gereja Katolik menentang keras rencana itu.

Hmm, kalau rencana itu benar-benar dilakukan, dan banyak negara mengikutinya, bisa-bisa dalam setiap kamus tak ada lema (kata) yang bermakna ”ayah” dan ”ibu”.  Dan ketika seseorang ditanya siapa orang tua mereka, ia bisa saja menjawab dengan mantap, misalnya: ”Asterix dan Obelix.” Tapi bayangkan, Anda bertamu ke tempat seseorang dan bilang, ”Saya mau bertemu orang tua Anda.” Si sahibul bait pasti malah bertanya, ”Yang mana? Asterix atau Obelix?” Kalau yang hendak Anda temui adalah orang yang disebut sebagai ”kepala keluarga”, dan Anda tak tahu siapa di antara kedua orang itu, pasti Anda jijai sendiri. Juga pasti Anda jijai baca hasil hasil perkalian sederhana seperti ini: 1 Lelaki x 1 Lelaki = 1 Orang Tua. Wah, jangan-jangan Einstein juga bakal jijai. Hahaha…. (*)

(Masih Epilude, Suara Merdeka, 7 Oktober 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: