Home » Kolom Lain-lain » SINDEN DALAM KEPUNGAN GIRLBAND

SINDEN DALAM KEPUNGAN GIRLBAND

ADA banyak alasan untuk mengagumi para sinden. Buat saya, kualitas mereka itu lebih dari sekadar wiraswara atau penyanyi.
Coba kita lihat para pesinden di atas panggung pada pergelaran wayang kulit. Mereka duduk bersimpuh dalam balutan ketat kain dengan punggung tegak tanpa sandaran, hampir selalu bergeming sebab tak bisa saling mengobrol selain (mungkin) berbisik-bisik sembari menutup mulut. Kalau cuma 30 menit atau paling lama satu jam, banyak orang barangkali mampu melakukannya. Tapi mereka berposisi seperti itu sepanjang pergelaran berlangsung, yang kalau bukan pakeliran padat bisa sekira tujuh jam. Tanpa harus menjadi yogi (ahli yoga), kualitas daya tahan tubuh mereka sudah terbukti.
Lalu mari kita simak saat mereka beraksi. Mereka menarik suara, dan lebih sering dengan suara bernada tinggi, melung-melung atau sesekali membat mayun, tanpa disertai kompensasi gerakan tubuh berlebihan. Kalau dicermati, yang tampak hanya urat leher mereka yang menegang disertai gerakan kecil jari-jemari.
Bandingkan dengan kebebasan gerak, bahkan koreografi, seorang penyanyi yang leluasa memain-mainkan tubuh, entah itu bergoyang atau merentangkan tangan. Melantunkan tembang dalam posisi tubuh yang berkesan tak leluasa itu bukan sesuatu yang gampang. Itu juga salah satu kualitas mereka. Satu hal lagi, suara pesinden tak bisa lipsync. Itu berbeda dengan penyanyi atau girlband yang konon bisa ”terpaksa” lipsync.
Tak termungkiri, secara visual jejeran para pesinden di atas panggung itu berkesan kurang menarik. Tak ada atraktivitas semodel para girlband yang boleh-boleh saja suaranya pas-pasan tapi koreografinya menarik. Beda pula dengan aksi penyanyi dangdut atau dangdut koplo yang boleh saja suaranya cempreng asal gerak pinggulnya bak putaran gasing. Pun dalam pergelaran wayang, visualisasi deretan para sinden tak semenarik aksi dalang ketika memainkan sabetan.
***
TAPI, mohon dicatat, kualitas seorang sinden bukan berasal dari aspek visualnya melainkan dari kualitas olah vokalnya. Tak ada syarat kecantikan rupa atau tubuh untuk seorang pesinden seperti yang dimaui sebagian produser showbiz yang berjargon jualan tampang doang. Ungkapan ”sripanggung” atau primadona untuk sinden sama sekali tak merujuk kualitas fisik. Seorang sripanggung bisa saja (maaf) bertubuh subur dan berpipi sebulat bakpao. Tentu saja sebuah karunia besar bila seorang dalang, juga pemirsa, ”mendapat” seorang sripanggung yang ayu wajahnya. Singkatnya, sinden yang berpredikat sripanggung diukur dari kualitas suara dan inner beauty yang menguar ketika dia unjuk aksi. Jadi, tak perlu heran jika Anda mendengar banyak penonton yang tergila-gila pada seorang sinden yang kualitas fisiknya biasa-biasa saja.
Benar, kini aksi para pesinden secara visual lebih menarik. Mereka tak hanya duduk berderet sepanjang pertunjukan. Sebagian dalang bahkan membolehkan mereka menembang sambil berdiri dan bergoyang-goyang. Tapi pasti gerakannya masih sebatas lenggang kangkung. Bagaimana mau pethakilan kalau mereka memakai kain panjang yang membelit tubuh bagian bawah mereka?
Kini, posisi sinden dalam pergelaran wayang atau karawitan mengalami perubahan secara visual dan fungsional. Dulu, sinden hanya seorang dan duduk di belakang dalang, tepatnya di antara penggender dan pengendang. Fungsinya mengisi jeda cerita dengan menembang. Pada era Ki Narto Sabdho, sinden berada di kanan dalang, membelakangi simpingan wayang dan menghadap penonton. Jumlahnya lebih dari dua dengan fungsi serupa.
Pada era sekarang, fungsi para sinden bertambah. Mereka jadi unsur penting sebagai penghibur. Sesekali juga mereka malah jadi pembanyol, tentu saat <I>limbukan<P> dan <I>goro-goro<P>. Yati Pesek misalnya, sering melakukannya. Nah, dengan fungsi seperti itu, masihkah tersangkalkan mereka? Sebutan lain sinden adalah <I>waranggana<P> yang kalau diterjemahkan berarti ”wanita pilihan”, dan itu jelas menunjukkan kualitas tertentu.
Tapi dengan kualitas seperti itu, sudahkah kita memberi harga lebih untuk seorang sinden dalam dunia hiburan kontemporer kita? Entahlah. Dunia hiburan kita sedang lebih suka melirik girlband. Dan di televisi, kita mungkin punya Soimah. Tapi bukankah kita jarang melihatnya sebagai sinden sekarang? (*)

Kolom Laporan Utama, Suara Merdeka, 2 Agustus 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: