Home » Kolom Epilude » KETIKA SANG PANGERAN BUGIL

KETIKA SANG PANGERAN BUGIL

PULUHAN perempuan itu berkerumun di pinggir jalanan. Hanya bercelana pendek dan bersepatu, tubuh bagian atas mereka terbuka. Sebagian dari mereka membentang-bentangkan poster berisi tulisan: “Persamaan hak buat bertelanjang dada seperti laki-laki” dan ”Bebaskan payudaramu.”
Itu terjadi beberapa hari lalu, dan tentu saja bukan di sini melainkan di Kota New York, Amerika Serikat sana. Meski musykil ada demo seperti itu di sini, apa jawaban Anda terhadap tuntutan perempuan yang menginginkan kebebasan bertelanjang dada?
Saya tahu, pertanyaan itu retoris karena saya yakin, Anda, perempuan atau lelaki, bakal segera menyergah, “Tidak! Memangnya kita hidup di zaman batu, Mas Bro! Kita tak lagi berada di era Majapahit, Bang!” Hahaha, masuk akal juga. Sebab, konon perempuan Jawa dari zaman purba hingga Majapahit tidak menutup bagian dada mereka. Lalu Islam masuk dan mensyaratkan mereka yang sudah memeluk agama tersebut untuk memakai kemben. Padahal sebenarnya bra sudah dikenal pada zaman itu dalam bentuk yang mirip jaring-jaring dari emas. Itu pun hanya dipakai perempuan istana. Mana kuat rahayat beli kutang emas?
Di Bali, setidaknya sampai tahun 1930-an, para perempuan juga hanya memakai kain yang dibebat di bawah pusar. Kalau mau bukti, silakan lihat film dokumenter Legong: Dance of the Virgins (1935) karya Marquis Henri de la Falaise. Sekarang? Katanya juga masih ada perempuan yang bertelanjang dada di beberapa pantai di sana. Tapi, mereka tidak berkewarganegaraan Indonesia. Mereka turis asing yang budayanya nyaris serupa dengan para demonstran telanjang dada itu.
Saya jadi berpikir, jangan-jangan mereka itu gampang kegerahan sehingga dalam cuaca panas dan kering, pakaian sering jadi siksaan buat mereka. Mereka butuh membuka baju agar silir. Tapi kalau tuntutan mereka dikabulkan, saya jamin mereka tak bakal mau bertelanjang dada saat musim dingin yang bersalju. Jangankan di jalanan, di dalam rumah saja mereka harus ribet mengurusi penghangat ruangan. Apa mereka mau bernasib seperti ikan salmon dalam lemari es?
***
KETELANJANGAN memang jadi ihwal serius dalam soal pornografi. Dan dalam masyarakat beradab, konsepsi pornografi selalu berhubungan dengan persoalan etika yang juga serius. Tapi pemahaman soal pornografi itu berbeda-beda secara kultural. Dalam hal tubuh, bagian mana yang boleh dibuka dan tidak boleh diumbar, juga berbeda-beda.
Pernah ada acara dagelan di televisi yang pada satu adegannya terjadi ”kecelakaan”. Kemben seorang artis perempuan melorot dan menampakkan sebagian payudaranya. Tak sampai 24 jam, stasiun televisi itu disemprit Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Payudara yang dipertontonkan, baik sengaja maupun tidak terkategori porno, dan itu tak boleh tayang di televisi. Tapi beda dalam televisi Jepang, tubuh bagian atas boleh diumbar-umbar dan jadi konsumsi pemirsa. Wajar saja, ketika mantan istri Presiden Soekarno yang berasal dari Jepang dan bernama asli Naoko Nemoto yang di sini dikenal dengan Ratna Sari Dewi menerbitkan portofolio Madame D Syuga yang berisi foto-foto vulgarnya, mungkin biasa untuk orang Jepang, tapi kita heboh bagai kebakaran jenggot.
Ya, meski berbeda-beda pemahaman soal aksi pornografi, masyarakat dunia masih belum menerima perempuan atau laki-laki berbugil-ria atau bertelanjang bulat di muka umum, kecuali konon beberapa negara yang mengizinkan lokasi tertentu untuk kaum nudis. Ketika ada seseorang bertelanjang bulat di tempat publik, kalau si dia bukan orang gila, pasti terjadi kehebohan. Lebih-lebih bila yang berbugil itu seorang pangeran Kerajaan Inggris yang terkenal puritan seperti yang dilakukan Pangeran Harry. Foto telanjangnya bersama seorang perempuan di sebuah hotel mewah di Las Vegas, AS, dimuat situs TMZ.
Nah, orang Barat saja yang dalam beberapa hal lebih permisif terhadap pornografi tetap menghebohkan ketelanjangan seseorang, apalagi kita. Tapi tenang, tentu saja kita masih boleh telanjang, kok. Itu saat kita bayi atau sudah bergelar almarhum; atau saat kita mandi; atau saat bersama istri atau suami kita (itu pun di tempat-tempat tertentu). Sebab, di luar yang disebutkan tersebut, kita harus siap-siap punya perkara, minimal kita dapat predikat baru: orang gila. Tapi bahkan orang gila pun terancam diseret ke tempat-tempat penampungan yang biasanya disebut among jiwa. Mau? Saya sih kagak Coy…. (*)

(masih) Epilude, Suara Merdeka, 2 September 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: