Home » Kolom Epilude » KICAUANMU HARIMAUMU

KICAUANMU HARIMAUMU

BAYANGKAN Jack Dorsey sudah menciptakan Twitter saat Perang Dunia Kedua (PD II). Mungkin, Hiroshima dan Nagasaki tak perlu luluh lantak oleh bom atom. Presiden AS Harry S Truman cukup mention Kaisar Hirohito via cuit pada akun twitter-nya: ”@KaisarHirohito, tarik itu semua tentara kerajaan Anda. Atau mau Hiroshima-Nagasaki jadi tempat barbekiu?” Sang kaisar Jepang cukup reply: ”@trumanharrys tuan presiden perlu kami ajari ikhwal bushido, ya? Nippon bukan bangsa cacing”. Sedetik berikutnya muncul balasan: ”@KaisarHirohito ojleng-ojleng iblis laknat, mati dening aku #caraButoTerong.” Tapi itu mungkin hanya perang twitter (twitwar) dan bom tak pernah benar-benar dijatuhkan.

Pun barangkali Hitler tak perlu mengirim orang-orang Yahudi ke holocaust. Dia cukup bikin kultwit dalam akun @DerFuhrer-nya yang diawali begini: ”Selain bangsa Aria, minggir! Dan hei Yahudi, pergi kalian dari tanah Aria. Kalau tidak, jadi kayu bakarlah kalian!”

Beberapa pemuka Yahudi membalas: ”@RabiSpielberg @RabiSoros haha tuh charlie chaplin nyang ngaku der fuhrer lagi bikin banyolan, bang. #ngakak. Dan lagi-lagi itu mungkin hanya twitwar, dan orang Yahudi tak terhabisi dan beranak pinak memenuhi jagad di lima benua hingga tak perlu minta Yerusalem atau ”menakali” Palestina.
Haha, itu cuma imajinasi ngayawara dari saya. PD II sudah terjadi, dan pada 1945, Jack Dorsey bahkan belum ”dibikin” bapak-ibunya. Eit, tapi jangan anggap sepele sebuah twitwar. Meskipun cuma deretan huruf, dayanya bisa lebih dahsyat ketimbang bom atom yang meledak. Jadi, kalau saat itu Twitter benar-benar sudah ada, dan para tokoh PD II ber-twitwar, bisa jadi itulah yang memulakan perang. Bukankah twitter juga dapat dipakai untuk memobilisasi massa dan aksi massal?

***

YA, sudah banyak yang menulis bahwa jejaring sosial semacam Twitter, juga Facebook dan teman-temannya, adalah medium efektif untuk tujuan apa pun, positif dan/atau negatif. Sudah tak terbilang juga yang menulis bahwa jejaring sosial itu bak pisau: bisa untuk mengiris lombok tapi bisa pula membuat jari sendiri ikut teriris.
Dan sudah banyak pula orang yang teriris, baik oleh pisau Twitter (juga Facebook) orang lain maupun pisaunya sendiri. Beberapa hari lalu, Denny Indrayana, Pak Wakil Menteri Hukum dan HAM baru saja ”mengiris” para advokat lewat kicauannya pada akun twitter-nya.

Bisa saja dia juga bakal ”teriris” lantaran para pengacara yang menganggap kicauan Denny melecehkan profesi mereka itu sudah melaporkannya ke kepolisian. Siapa yang tak teriris kalau profesinya yang dilindungi undang-undang dianggap sama dengan koruptor hanya lantaran menjadi pengacara seorang koruptor?
Benar, di antara pengguna Twitter, twitwar memang asyik. Perang kicauan, lebih-lebih kalau yang berseteru itu para pesohor, bisa menjadi hiburan bagi para juru sorak (yang dalam Twitter disebut follower).
Artis seperti Nikita Mirzani atau Julia Perez yang kerap bikin perang kicauan dengan pengguna akun lain, mungkin termasuk orang-orang yang dalam Twitter berkategori disukai dan dibenci tapi tetap disoraki ketika mereka sedang berperang. Sorakan bisa jadi ukuran keberhasilan suatu hiburan, bukan?

Ya, orang seperti Nikita memang punya daya hibur, mungkin bukan lantaran kualitas keartisannya melainkan karena kesukaannya ber-twitwar. Catat saja, dia sudah melakukan itu dengan Julia Perez, Joko Anwar, Jenny Cortez, dan baru beberapa hari lalu dengan pemain FTV bernama Shareena. Tapi namanya juga hiburan, begitu sorakannya reda, yang tersisa hanya deretan huruf di linimasa akun twitter.

Satu hal yang pasti, deretan huruf itu punya daya. Itulah yang kita sebut sihir kata-kata. Wajar banyak orang menyarankan kita berhati-hati ketika menulis status di akun jejaring sosial kita. Kicauanmu bisa jadi harimau bagimu. Apalagi bila kau itu pesohor dan diidolai banyak orang.

Hanya saja, hidup di jazirah Twitter dan Facebook, saya sering sedih ketika banyak orang begitu mudah merasa dirinya ”nabi” atau ”rasul” dan menganggap status di akunnya adalah firman yang paling benar.
Lebih sedih lagi kalau para follower mereka hanyalah orang-orang yang taklid semata. Lo, lo kok saya malah curcol (curhat colongan, kata anak muda), sih?
Begini saja, menurut Anda, asyik mana berkicau di dunia maya ketimbang ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon di warung kopi? Tolong tidak menjawab: ngobrol di warung kopi sambil twitter-an dan facebook-an. Tolong…. (*)

(masih) Epilude, Suara Merdeka, 26 Agustus 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: