Home » Kolom Epilude » RAHASIA

RAHASIA

SIR-SIRAN dalam bahasa Jawa artinya saling menyukai. Dari sir-siran itu, dua orang lawan jenis bisa yang-yangan atau bahkan ningkahan alias menikah. ’’Sir’’ itu tentu saja serapan dari bahasa Arab “sirri” yang artinya rahasia. Jadi, awalnya sir-siran selalu berupa aktivitas saling menyukai secara rahasia sebelum ada yang ber-blakasuta atau berterus terang. Apalagi konon orang zaman dulu tidak langsung “nembak” (pinjam istilah anak muda untuk “menyatakan cinta”) ke target, dan butuh mak atau pak comblang.

Nah, istilah ’’sirri” lebih populer disandingkan dengan kata ’’pernikahan’’. Penulisannya pun hanya dengan satu ’’r’’, jadi ’’siri’’. Padahal dalam KBBI, ’’siri’’ termasuk istilah antropologi yang maksudnya: (1) sistem nilai sosiokultural kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat dalam masyarakat Bugis; (2) keadaan tertimpa malu atau terhina dalam masyarakat Bugis dan Makassar. Dan untuk yang artinya rahasia, KBBI menyarankan kata ’’sir’’

Uh, baru istilah saja sudah bikin galau, jadi untuk ini kali izinkan saya tidak patuh KBBI karena yang populer dipakai masyarakat adalah istilah ’’pernikahan siri’’ yang boleh diartikan pernikahan yang dirahasiakan.
Namanya juga rahasia, jadi tak boleh diketahui khalayak, sebab kalau diketahui berarti sudah bukan rahasia lagi dong, kecuali kalau kita ngeyel memakai kata rahasia, bolehlah sebutannya rahasia umum (bahasa kita sungguh hebat dalam bikin istilah; kagak ade matinye…).

Banyak sudah orang memperbincangkan ihwal pernikahan siri, khususnya dalam hukum pernikahan Islam. Banyak yang sepakat, banyak pula yang kurang sepakat, dan tak sedikit yang menjadikannya sebagai cara praktis membuhulkan ikatan perkawinan. Cukup bawa saksi, sowan ke seorang kiai atau ustadz, serahkan perwalian pada sang kiai atau ustadz, ijab-kabul. Sah!

Kalau bisa sepraktis itu, kenapa orang mesti berepot-repot bikin perayaan dan mencatatkan diri di KUA untuk pegang dua buku pernikahan? Kenapa orang harus menikah sambil menyelam atau naik balon udara? Kenapa demi merayakan pernikahan, seseorang bahkan rela utang sana-sini?
***
TENTU saja mereka punya alasan yang beragam tapi muaranya tunggal: orang butuh merayakan momentum sesakral pernikahan dan membayar kegembiraan atas itu. Sebagian besar kita masih meyakini pernikahan sebagai saat sakral dan saat bergembira. Mungkin saja ada yang tidak bergembira. Tapi tak banyak. Paling-paling terjadi kalau salah seorang mempelainya bernasib seperti Sitti Nurbaya, atau orang yang gagal menikah dengan orang yang duduk di pelaminan.

Intinya, orang butuh mengabarkan pernikahan agar orang lain tahu bahwa dia dan pasangannya sudah sah sebagai suami-istri.

Setidak-tidaknya itu meredam pergunjingan atau bahkan fitnah. Meski sebenarnya, para juru gunjing dan ahli fitnah tidak kurang akal untuk beraksi. Kalau ada pasangan yang berkesan terburu-buru melangsungkan pernikahan, bisa saja mereka melempar isu: ’’Ah paling MBA….’’ MBA ini bukan gelar akademik keren melainkan maried by accident alias menikah lantaran si perempuan hamil duluan.
Itu juga yang dialami pasangan Okie Agustina dan Gunawan Dwi Cahyo. Beberapa waktu lalu, pernikahan mereka yang seolah-olah mendadak itu jadi santapan lezat tukang gunjing, siapa lagi kalau bukan pekerja infotainment, bahwa Okie sudah hamil.

Jadi objek gunjingan itu sungguh tidak keren. Pun Okie dan Gunawan. Demi meredam gunjingan itu, mereka sampai harus memperlihatkan bukti-bukti bahwa mereka telah melangsungkan pernikahan siri beberapa bulan sebelumnya.
Tapi ya bagaimana lagi, orang yang suka berahasia-rahasia semestinya siap diduga-duga. Kalau hanya jadi objek dugaan sih tak masalah, bagaimana bila fitnah? Jangan sampai deh! (*)

(masih) Epilude, Suara Merdeka, 15 Juli 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: