Home » Kolom Epilude » PELUPA DAN PEMAAF

PELUPA DAN PEMAAF

”Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama/demi terhenti tangis anakku, dan keluh ibunya./Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga/seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku.”

Sebagian dari kita pasti akrab dengan lagu ”Kalian Dengarkan Keluhanku (Dari Seseorang yang Kembali dari Pengasingan)” milik Ebiet G Ade itu. Konon, lagu itu menceritakan seorang lelaki yang begitu susah mencari pekerjaan dan merehabilitasi namanya hanya lantaran dia mantan narapidana. Lagu itu kali pertama muncul 1980 dalam album Camelia III dan muncul lagi 1995 dalam album Aku Ingin Pulang.

Kenapa saya perlu menyebutkan tahun kemunculan lagu? Sebab, lebih dari tiga dekade atau belasan tahun setelahnya, kisah penderitaan dalam lagu itu masih dialami sebagian orang yang baru keluar dari penjara. Kata Nagabonar, ”Begitulah nama kalau sudah rusak.”

Ya, ponsel rusak, kita cukup pergi ke tempat servisnya, atau cukup ambil di gerai ponsel, tentu saja setelah meninggalkan sejumlah duit. Nama rusak? Bo abo dakremah bo’eng jeh… ndak ada bengkelnya, taiye. Diupayakan dengan kampanye di mana-mana, iklan di mana-mana, keluar duit miliaran, nama yang sudah amburadul belum tentu sekinclong mobil yang baru keluar dari kenteng magic, hahaha….
Tapi Nazriel Ilham atau Ariel, mantan vokalis Peterpan, yang dipenjara karena kasus video asusila, tidak perlu berlarat-larat merehabilitasi nama dan mencari penghidupan lagi. Begitu keluar dari LP Kebonwaru Bandung, Senin (23/7) lalu, dia disambut ratusan orang.

Tak hanya disambut, dia diarak hingga memacetkan jalan di area sekitar penjara. Dia juga dibuatkan acara buka puasa bersama. Beberapa dari mereka konon berasal dari Makassar. Begitu pula, ada yang sampai rela begadang di halaman LP.
Kelirukah sambutan seperti itu? Jelas tidak! Ini aksi biasa, sebiasa ketika seorang narapidana bebas dan disambut keluarga atau koleganya. Tak ada yang aneh, selain kualitas cara penyambutannya yang terbilang wow. Itu pun mungkin bisa dimaklumi sebab betapa pun mantan narapidana, Ariel tetap selebritas. Sebagai selebritas, dia pasti punya juru sorak dan pengidola.

Namun, yang biasa dan tidak aneh itu bisa berarti sebaliknya bagi sebagian pihak, terutama yang berkomitmen atau merasa berkomitmen sebagai ”penjaga moral”. Asrorun Ni’am, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) jeri. Dia menduga ada mobilisasi anak dan remaja dalam penyambutan itu. Penyambutan bak pada pahlawan yang baru pulang dari keterasingan, menurut Ni’am, tidak pas untuk seseorang yang dicap sebagai salah seorang ”perusak moral”.
***
BAGAIMANA saya bersikap terhadap proses penyambutan seperti itu? Sudah saya sebutkan di atas: tak ada kelirunya menyambut seorang narapidana yang bebas. Para penyambut yang mengaku sebagai Sahabat Peterpan itu lebih saya anggap sebagai keluarga atau kolega Ariel. Kalau jumlahnya ratusan, itu semata kuantitas. Tapi saya juga sepakat dengan Pak Ni’am kalau komentarnya diterjemahkan begini: siapa pun orangnya yang telah melakukan ”perusakan moral” tak layak dijadikan serupa pahlawan.

Dan kalau direnungkan lebih dalam, peristiwa penyambutan Ariel beserta komentar-komentarnya, kita seperti diingatkan bahwa kita ini masyarakat yang pelupa dan pemaaf. Kita melupakan berbagai peristiwa atau perilaku buruk (bahkan jahat), maka kita memaafkannya. Begitu pula, kita memaafkan berbagai peristiwa atau perilaku buruk (bahkan jahat), maka kita melupakannya.

Ini bukan semata soal Ariel. Tokoh-tokoh dari kancah yang lain, seperti politik, yang berperilaku buruk bahkan jahat dan kriminal, berapa coba yang telah kita lupakan dan maafkan? Lebih-lebih bila si tokoh muncul dengan penuh senyum dan mendaulat diri sebagai tokoh suci kerakyatan. Kita lupa pada ”dosa-dosa”-nya terhadap kerakyatan, dan diam-diam memaafkan.

Pelupa itu penyakit, apalagi sampai pada taraf amnesia, dan itu harus disembuhkan, sedangkan pemaaf itu sikap bijak yang dianjurkan. Tapi memaafkan hanya karena lupa? Jangan deh, sebab memaafkan itu tindakan yang sepenuhnya sadar untuk melupakan kesalahan orang lain. ”Lupa” itu jelas beda dengan ”sengaja melupakan”, dan yang ”sengaja melupakan” jelas bukan pelupa. Itu juga harus dibedakan dengan tindakan ”sengaja lupa” agar dimaafkan, lebih-lebih dalam persidangan. Contohnya, ”Maaf Yang Mulia, saya lupa.” Itu sih kalau memang tidak mengidap amnesia, ya cuma pura-pura lupa. Hmm, repot banget kalau ketemu yang begituan, tuh…. (*)

(masih) Epilude, 29 Juli 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: