Home » Kolom Epilude » PE-NASSAR-AN MUZDALIFAH

PE-NASSAR-AN MUZDALIFAH

Sedari kecil, kita diberitahu bahwa akal adalah penentu perbedaan mendasar manusia dan binatang. Akal ini harus dibedakan dengan otak. Dari banyak arti dalam KBBI, akal adalah pikiran, ingatan, jalan atau cara melakukan sesuatu, daya upaya, dan ikhtiar, sementara otak adalah benda putih yang lunak terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf. Binatang tak berakal tapi berotak. Kalau tidak, mana mungkin orang bikin lauk dari otak ikan atau sapi dengan sebutan otak-otak? Yang ada juga otak udang, bukan akal udang. Dan kita, manusia ini berakal dan berotak, meski kadang harus siap dibilang ”tak berotak’.’

Konon sama seperti kita, binatang juga punya bahasa dan berkomunikasi di antara mereka. Tapi, saya tak tahu bahasa apakah yang dipakai, misalnya, saat gajah dan macan bertarung. Bahasa gajah atau bahasa macan? Atau jangan-jangan bahasa pelanduk, dan itu sebabnya ia mati karena seperti ujar peribahasa, kalau gajah dan macan bertarung yang mati malah pelanduk, hahaha….

Kalau berbahasa dan bisa berkomunikasi, apakah binatang, sebut saja kambing, juga ngobrol santai sambil ngganyemi rumput, menggunjingkan teman-teman mereka, dan asyik bergosip? ”Eh Mpok, kambing di sono noh, nyang mangkalnye dekat pohon albasiyah entu baru aje dikawinin ame bandot tua nyang hartanye mblegedhu. Sampeyan wis denger, ndak?” (Kayaknya ia kambing Jawa yang baru beberapa dina di Betawi).
Atau, ”Pemirsa, berkat ilmu peletnya yang setajam silet, ayam jago bujangan biasa-biasa ini menikahi ayam janda kaya raya. Kabarnya si ayam janda jingkrak-jingkrak sebab dapat daun muda, eh brondong, eh jago muda.” (Profesi ayam ini mungkin presenter infotainment)

Saya yakin kambing, ayam, atau binatang apa pun tidak saling penasaran dengan teman lainnya, lalu bergunjing, bergosip, saling memprovokasi, dan lain sebagainya. Saya sangat yakin karena saya tidak sedang membicarakan fabel, atau novel Animal Farm karya George Orwell. Setahu saya, Nabi Sulaiman yang katanya bisa bicara dengan binatang pun tidak pernah menceritakan bahwa para binatang saling menggunjing sejenisnya.

***

JADI, di antara seabrek perbedaan manusia dan binatang, rasa penasaran itu salah satunya. Sebab, rasa ini bisa menciptakan rasa nano-nano: rasa iri, rasa dengki, rasa marah, rasa sedih, rasa galau, juga rasa peduli. Tindakan sebagai perwujudan dari rasa-rasa itu juga bejibun. Tindakan paling gampang adalah berkomentar.

Maka, karena punya kepenasaran, kita yang bukan binatang ini tidak mungkin tidak penasaran kala mendengar Nassar yang bujangan dan penyanyi dangdut kelas semenjana mengawini Muzdalifah si janda superduper kaya. Kepenasaran ini pun memunculkan beragam rasa, yang paling purba berupa komentar. ”Ah si Nassar itu kan melambai. Dia kawini perempuan itu biar nggak dianggap maho (manusia homo) kali….” Atau, ”Maklum Nassar kan penyanyi yang nggak laku. Dia paling ngincar hartanya doang. Rumah istrinya aja kayak istana Ratu Balqis.”

Anda bisa memahami sendiri komentar di atas lahir dari rasa apa. Ya, tapi ada juga, ”Semoga mereka menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.”
Saya sih cukup tertawa saja membaca komentar-komentar tentang pernikahan itu dalam forum-forum internet. Sebab, apa salahnya Nassar menikahi Muzdalifah? Si bujang mau, sang janda juga he-eh. ”Kenapa dengan janda? Kenapa harus perawan,” sergah Nassar.

Begitu pula, komentar mereka yang macam-macam itu tak perlu disoal. Itu kan ekspresi yang lahir dari rasa penasaran. Apalagi yang bikin penasaran seorang selebritas meskipun bukan termasuk pedangdut laris manis. Jangankan Nassar, terhadap pernikahan antara bujang dan perawan, ganteng dan cantik, juga sama-sama kayak, mungkin saja sepulang resepsi Anda mendengar hal ini: ”Hidangannya nggak enak. Paling cari yang murah. Pelit bin bakhil kali….”
Ya, namanya juga hidup bareng manusia, kadang kita digunjing, kadang gantian menggunjing. Digunjing makan hati, menggunjing orang itu jelas penyakit hati. Sama-sama bukan sesuatu yang keren, bukan? (*)

(masih) Epilude, Suara Merdeka, 3 Juni 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: