Home » Kolom Epilude » KERBAU SAMMY

KERBAU SAMMY

Tak ada orang yang mau disamakan dengan kerbau. Itu sejak si binatang dijadikan metafora untuk kedunguan, kemalasan, dan kelambanan. Jangankan kalau penyamaan itu diucapkan secara verbal, hanya sindiran saja sudah bikin yang disindir merepek-repek. Anda tentu masih ingat kisah Kerbau Sibuya saat demonstrasi berkenaan 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono. Presiden kita yang bertubuh gagah pideksa pun jadi berkesan melankolis ketika “curhat” tentang kerbau yang diarak di jalanan Jakarta itu.

Padahal kerbau itu binatang yang istimewa dalam  khazanah kebudayaan kita. Saat menganalisis kasus Kerbau Sibuya, Sindhunata  mengutip kisah kedekatan Saijah dengan kerbaunya dalam Saijah dan Adinda karya Multatuli. Dia juga menukil pendapat sarjana Belanda, J Kreemer lewat bukunya De Karbouw, Zijn Betekenis voor de Volken van De Indonesische Archipel (1955) yang menuliskan bahwa kerbau adalah binatang yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan penduduk Nusantara.

Pengistimewaan itu juga berupa pada pemakaian kerbau sebagai nama diri. Semasa zaman Singasari dan Majapahit, penganut Wisnu lebih memilih nama-nama binatang yang dekat dengan kaum petani, ya binatang yang dalam Latin disebut Bubalus bubalis itu. Contohnya Kebo Ijo, Mahesa Cempaka, atau Mahesa Wongateleng (dalam bahasa Sanskerta juga Kawi, mahesa adalah kerbau). Penamaan seperti itu bahkan bisa dijadikan sebagai unsur pembeda dengan nama penganut Siwa yang lebih menyukai binatang yang lebih punya kecepatan atau agak liar seperti gajah atau kuda. Contohnya Gajah Mada, Gajah Binarong, atau Kuda Panoleh.

Jadi, kerbau sebagai nama itu sesuatu yang keren. Mahesa Jenar (kalau diterjemahkan jadi Kerbau Merah atau Bule) dalam cerita silat Nagasasra Sabuk Inten karya SH Mintarja adalah nama pendekar hebat. Kalau tak hebat, mana mungkin dipakai sebagai sebutan PSIS, bukan? Dan sangat mungkin Anda mengenal banyak orang bernama Mahesa. Karena asma kinarya japa atau nama itu doa pengharapan, orang tua yang menamakan anaknya dengan “kerbau” pasti berharap anaknya bisa sekuat, sepenurut, sedisiplin binatang yang suka berkubang lumpur itu.
***

TAPI ya itu, kerbau dalam khazanah kebahasaan dibaiat sebagai simbol kedunguan, kemalasan dan kelambanan. Kita jadi merasa tidak nyaman ketika dihubung-hubungkan dengan sang mahesa. Lebih-lebih ketika muncul istilah ”kumpul kebo” (kumpul kerbau menurut pakar bahasa M Anton Moeliono), binatang yang suka berkubang lumpur sawah itu berubah menjadi simbol keaiban yang diemohi. Jangankan yang tak sekali pun pernah menyentuh hewan itu, bocah angon kebo yang saban hari bersama para kerbau saja bakal berang kalau dirinya dituduh kumpul kebo.

Maka wajar saja Tiur Simanjuntak, ibunda Sammy Simorangkir, meradang ketika sang anak disebut-sebut telah kumpul kebo selama beberapa tahun. Tentu saja itu bukan lantaran dia tahu persis bahwa dirinya tak pernah melahirkan seekor kerbau dan sang anak tak pernah menjadi penggembala kerbau. Dia berang lantaran dia tahu arti istilah itu, bahwa Sammy sang anak kinasih telah hidup bak suami-istri tanpa ikatan perkawinan dengan seorang perempuan. Dan perempuan itu bernama Nata Naritha, sumber pertama yang memunculkan kisah perkumpulkeboan ini.

Apakah Sammy dan Nata memang telah hidup bersama bak suami-istri selama tiga tahun? Sammy menyangkal, Nata he-eh, dan kita tak tahu yang sebenarnya. Tapi karena ini bukan di Barat yang melumrahkan kumpul kebo melainkan di Indonesia yang mengaibkan aktivitas tersebut, maka kita memang jadi bertanya-tanya mengapa Nata malah membuka aibnya sendiri. Pasti ada sesuatu, tapi apakah itu, entahlah. Kalau yang pasti sih bahwa sulit mencari kerbau di Jakarta sekarang, apalagi di sebuah apartemen. Satu-satunya kerbau di Jakarta ya sekitar 1,5 tahun lalu. Itu pun hanya sebentar. Tapi yang sebentar itu telah membuat kita tahu ada sisi melankolis dari Bapak Presiden kita. (*)

(masih) Epilude, 24 Juni 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: