Home » Kolom Epilude » JODOH NUNUNG

JODOH NUNUNG

Kita sudah sering mendengar bahwa jodoh, rezeki, dan mati kita ada di tangan Tuhan. Ujaran itu mengacu pada sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, bahwa begitu janin ditiupi ruh, ia dituliskan kepastian mengenai rezeki, batas umur, pekerjaan, dan kecelakaan atau kebahagiaan hidupnya, termasuk jodoh di dalamnya.

Jadi, kalau kematian sudah ditentukan, kenapa kita mati-matian mempertahankan hidup? Kalau rezeki sudah ditentukan, kenapa kita tidak berleha-leha saja, toh bila suatu rezeki itu memang jatah kita, ya ujung-ujungnya bakal datang sendiri? Kenapa kita tidak mengikuti purwakanthi Jawa yang bilang thenguk-thenguk entuk kethuk, kledhang-kledhang entuk pedhang? Kalau jodoh sudah ditentukan, apa tidak sebaiknya kita menunggu saja kedatangan sang Pangeran dari Utara yang mengendarai kuda putih?

Tidak sesederhana itu. Berada di tangan Tuhan itu artinya semua menjadi rahasia Tuhan. Dan kita hanya bisa berupaya membuka rahasianya yang tentu saja tidak mudah. Tapi dari situlah muncul konsep bahwa kita memang harus berusaha dan berikhtiar dalam hidup hingga tiba hari kematian kita. Rezeki harus diupayakan kehadirannya sebab tak ada yang turun secara gratis dari langit. Kata pepatah Arab: assama la thumthiru dzahaban (langit tidak akan menurunkan hujan emas). Kata Semar, mbegegeg ugeg-ugeg sakdulita hemel-hemel, jangan kau diam saja, bergeraklah, meski sedikit kau bakal bisa makan.

Begitu juga kematian. Konsep absurditas ala Camus meyakini kehidupan manusia absurd karena hanya berisi penderitaan yang ujung-ujungnya cuma maut, maka kenapa tidak bunuh diri saja? Dalam L’Etranger (Orang Asing) karya Camus, tokoh Meursault bunuh diri dan bagi penulisnya itu tindakan aktif secara sadar untuk mengakhiri absurditas. Tapi, tidak! Penulisnya juga tidak mati lantaran bunuh diri, tapi akibat kecelakaan mobil di Villeblevin, Prancis.

Kenapa? Sebab, dalam Le Mythe de Sisyphe, betapa pun hidup kita absurd seabsurd Sisifus yang terus memanggul batu ke bukit dan menggelindingkannya kembali utuk segera dipanggul lagi ke atas bukit, tanpa finalitas, Camus bilang, ”Il faut penser que Sisyphe soit heureux.” (Seyogianya kita membayangkan Sisifus itu berbahagia).

Ups, kolom ini seperti ulasan filsafat saja. Jelas bukan dong, meskipun sebenarnya mendedah filsafat tak harus dengan cara mengernyitkan kening dan berlarat-larat dalam pemikiran metodologis, bukan?

***

Tapi mari bicara soal jodoh, salah satu dari ketentuan yang bisa dibilang ”man proposes, God disposes” (manusia berkehendak, Tuhan yang menentukan). Bagaimana kita harus menerjemahkan kata ”jodoh” itu? Apakah orang yang hingga matinya tak pernah menikah itu artinya dia tak punya jodoh? Dalam hadis yang kita bicarakan di atas, ”jodoh” memang tafsir para ahli hadist mengenai ketentuan kecelakaan dan kebahagiaan. Jadi, belum tentu yang tak mendapat jodoh itu tidak berbahagia, bukan? Belum tentu yang gampang jodoh itu hidup berbahagia, bukan?

Ada orang yang tak jua-jua beroleh jodoh, kita sebut gampangnya saja “menikah” atau ”kawin”, tapi ada yang bolak-balik kawin-cerai, juga ada yang berkali-kali kawin dan ketika mati disebut “meninggalkan sekian anak dan sekian istri”.

Yang kawin lalu bercerai, apakah memang si mantan bukan jodohnya? Kita bisa melakukan analisis dengan tinjauan beragam pemikiran mengapa yang satu begitu mudah, satunya lagi begitu susah kawin. Apakah benar-benar itu rahasia Tuhan, dan kita hanya bisa mengintip tanpa bisa membuka, apalagi memasukinya?

Bagaimana dengan Nunung, komedian jebolan Srimulat yang moncer dalam Opera van Java? Sudah tiga kali dia menikah, semuanya lelaki yang terkategori brondong.

Kini, meski masih tersandung banyak persoalan, dia menggagas menikah keempat kali dengan Iyan Sambiran. Nggak kapok? ” “Kalau Allah mengizinkan kami akan secepatnya menikah,” terang pemilik nama asli Tri Retno Prayudati itu.

Nah, kita bisa berbuih-buih menganalisis kenapa Nunung selalu gagal dalam pernikahan tapi selalu ingin mengulanginya lagi. Tak sedikit orang yang lantas trauma, tapi apa pun akhir kisah hubungan Nunung-Iyan, komedian itu mengajarkan bahwa ia hanya harus berikhtiar. Tak peduli pilihannya itu jodoh atau bukan, yang penting dia mengupayakannya. Yang jelas, Nunung tidak mbegegeg, dia ugeg-ugeg, sisanya pasrahkan pada Gusti Allah…. (*)

(masih) Epilude, 8 Juli 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: