Home » Kolom Epilude » DAYA SEBUAH CERITA

DAYA SEBUAH CERITA

”CERITA ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, waktu, dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka.”

Kita sering membaca kalimat itu di awal sebuah buku atau film. Kenapa perlu ada penjelasan seperti itu kalau buku yang akan dibaca jelas-jelas cerita rekaan, atau film yang akan ditonton bukan film dokumenter? Ini pasti karena kita menyadari kekuatan sebuah cerita.

Ya, cerita bisa sangat berdaya memengaruhi orang yang mendengar atau membacanya. Bahkan bila seorang pendengar atau pembaca yakin seratus persen cerita yang mereka cerap itu bualan, cerita bohong, tapi tak mudah buat mereka untuk tidak terpengaruh. Misalnya, saya bercerita bahwa saya pernah melihat hantu yang suka membonceng sepeda motor di sekitar Bukit Tledhek (kawasan Trangkil Kota Semarang), dan Anda mungkin menganggap saya membual, tapi ketika melintas di sekitar daerah itu terutama pada malam hari, benak Anda saya yakin akan dipenuhi gambaran tentang hantu pembonceng itu.

Bahkan, sebuah tempat yang benar-benar fiktif di dalam sebuah novel pun sering kita anggap tempat yang nyata. Di dalam cerita Candide karya Voltaire dan Paradise Lost karya John Milton, ada tempat bernama El Dorado. Itu tempat penuh emas yang berasal dari mitos di wilayah Andes, Amerika Latin. Tapi bagaimana resepsi atau penerimaan pembaca kedua cerita itu? El Dorado dianggap benar-benar ada. Begitu pula Gabriel Garcia Marquez menciptakan kota fiktif bernama Macondo dalam novelnya Cien Anos de Soledad (Seratus Tahun Kesunyian). Tapi sebagian pembacanya menganggap kota itu benar-benar ada, bukan rekaan, dan ada pula yang menghubung-hubungkannya dengan Aracataca, kota kelahiran si pengarang di Kolombia.

Ya, begitu dahsyatnya sebuah cerita, dan begitu tak gampangnya memisahkan realitas fiksional dari realitas faktual. Padahal kalau realitas fiksional diperlakukan atau dianggap sebagai realitas faktual, yakinlah akan muncul banyak kesemrawutan, kerancuan, dan ketidakberesan. Itu sebabnya penulis cerita atau pembuat film perlu menegaskan bahwa sebuah cerita benar-benar fiktif.

***

KERANCUAN paling ironis terjadi manakala cerita yang nyata-nyata fiktif diperlakukan sebagai risalah sejarah. Coba kita buka Babad Tanah Jawa, misalnya versi Meinsma tahun 1874. Benar, itu bukan catatan sejarah melainkan semata babad yang berkategori cerita fiktif.

Tapi bahkan sejarawan seperti HJ de Graaf yang buku serialnya berisi sejarah Mataram (Islam) banyak menjadikan babad itu sebagai referensi. Yang tak terelakkan, bagi sebagian orang Jawa, babad itu jadi semacam catatan kisah leluhur mereka di masa lalu, ya semacam sejarah mereka.

Tidak, saya tidak hendak masuk pada diskusi akademik mengenai kebenaran atau ketidakbenaran kisah dalam babad tersebut dari sudut pandang ilmu sejarah. Saya tidak punya kapabilitas akademis dalam  hal itu. Saya hanya ingin menegaskan soal kerancuan ketika realitas fiksional diperlakukan sebagai realitas faktual, atau dalam ini, realitas historis.

Dalam babad itu, coba Anda buka bagian kisah Jaka Tarub-Nawangwulan. Waktu kecil, saya benar-benar menganggap itu dongeng.

Tapi kok bisa dalam Babad Tanah Jawa, anak-turun mereka ada yang bernama Panembahan Senapati ing Alaga, ya pendiri Mataram itu? Bagaimana bisa seorang manusia benar-benar secara nyata mengawini bidadari dan melahirkan anak manusia bernama Nawangsih? Silsilahnya begini: Nawangsih menikah dengan Bondhan Kejawan dan melahirkan Getas Pendhawa yang punya anak (di antaranya) Ki Ageng Sela yang beranak (di antaranya) Ki Ageng Ngenis yang punya anak (di antaranya) Ki Ageng Pemanahan (ayah Panembahan Senapati itu).

Kalau tokoh Nawangwulan dalam cerita itu bukan bidadari melainkan misalnya putri cantik dari kerajaan tertentu, saya tak bakal mempertanyakannya. Jangan-jangan penulis babad hanya ingin bilang bahwa pendiri Mataram adalah garis keturunan Brawijaya yang notabene ayah dari Bondhan Kejawan itu. Kalau benar seperti itu, terbukti betapa sebuah cerita (apalagi kisah sejarah) bisa sangat berdaya menggiring kita ke sebuah konsepsi yang tak gampang digoyahkan, bukan?

Ya, penembakan di gedung bioskop dalam pemutaran premiere Batman The Dark Knight Rises oleh James Holmes bisa menegaskan soal kekuatan cerita fiktif soal ”Manusia Kelelawar”. James menjadikan realitas fiksional sebagai realitas faktual. Sialnya, dia lebih memilih menjadi Joker, musuh Batman yang lalu bertindak brutal. Jadi, hati-hatilah ketika bercerita. Oh tak hanya itu, hati-hati pula ketika menyimak sebuah cerita! (*)

(masih) Epilude, Suara Merdeka, 22 Juli 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: