Home » Kolom Epilude » OLGA (TAK) BAHAGIA

OLGA (TAK) BAHAGIA

Saya pernah bertemu seorang perempuan cantik, berkulit putih, bermata biru, dan berambut pirang. Bicaranya pelan dan lembut. Seolah-olah dia benar-benar menghitung tiap kata dari bibirnya. Saat itu, dia bercerita banyak tentang peran yang tengah dia lakoni. Tapi selalu hanya menyunggingkan senyum manakala ditanya siapa namanya. “Just call me Barbie.”

Barbie adalah sosok fiktif ciptaan produsen mainan Mattel. Tapi yang saya temui itu sosok nyata. Dia datang untuk mempromosikan film sekaligus sosok terbaru Barbie bernama Odette dalam Swan Lake (2003). Beberapa kali saya menanyakan jati dirinya. Dia tetap keukeuh dan meminta dipanggil Barbie. Dari seseorang yang membawa si Barbie itu, saya beroleh sedikit cerita bahwa perempuan itu seorang guru sekolah TK di Amerika Serikat. Lagi-lagi hanya senyuman saat saya mengonfirmasinya.

Saya tahu, penyembunyian jati diri itu bagian dari kontraknya dengan Mattel. Dan pasti tak mudah harus bersandi-sandi. Ini mirip seorang mata-mata yang bahkan orang selapik sepetiduran pun tak boleh tahu perannya. Kita pasti ingat film Mr and Mrs Smith yang diperankan Brad Pitt dan Angelina Jolie. Ya, ini tidak seperti bermain film yang nama diri pemerannya dipampang lebar-lebar.
Jadi, siapa pun perempuan cantik itu, pasti tak mudah selalu ”menjadi Barbie”, lebih-lebih ketika dia berada di antara keluarga atau kawan dekatnya.

Itu pula yang membuat saya dulu selalu meminta kedua anak perempuan saya untuk memindah saluran televisi begitu ada Aming, Ruben Onsu, dan Olga Syahputra. Mereka tak selalu meluluskan permintaan saya sebab mereka sering terbahak-bahak melihat aksi ketiga orang itu. Kenapa? Itu pertanyaan mereka. ”Ayah tak bisa tertawa melihat banyolan mereka,” jawab saya, dan dengan gaya sok keayahan eh kebapakan, saya bilang, ”Setiap melihat Aming atau Ruben atau Olga beraksi, Ayah selalu sedih, Nak. ”
”Lho, kok? Ayah punya kelainan jiwa, ya?”

Saya tertawa, lalu, ”Ayah sedih membayangkan beratnya pekerjaan mereka yang harus tampil sebagai perempuan. Itu tidak mudah dan tidak setiap lelaki bisa lho, Nak. Dan sepertinya mereka tak pernah bahagia, tidak seperti yang terlihat di televisi.”

***
BUAT mereka, alasan saya hanya serupa gelembung sabun. Buat mereka, kalau ada banyolan atau aksi konyol, mereka tertawa. Cukup begitu saja, dan saya tak berkehendak memaksakan pendapat.
”Siapa bilang mereka kerepotan berperan jadi perempuan atau waria. Wong ngomongnya saja tinggal njeplak begitu. Lagi pula, konon mereka termasuk lelaki dengan unsur feminin yang dominan. Jadi, kalau nggak bisa tertawa lihat aksi mereka, ya jangan cari-cari alasan lah. Cukup nggak usah nonton, atau coba periksa ke psikiater siapa tahu memang ada yang salah dalam dirimu,” ujar seorang teman.

Saya tak membantah tapi saya tak pernah punya niat menemui seorang psikiater. Saya juga tak mau berbantah dengannya bahwa sebenarnya saya masih meragukan dominasi unsur feminin pada lelaki-lelaki bernama Aming, Ruben, Olga, atau banyak lagi lainnya yang bermunculan di televisi kita. Saya tak hendak membantah bahwa Aming pernah main sebagai sopir taksi dalam film Berbagi Suami, atau sebagai Madrim dalam Doa yang Mengancam. Dalam dua film itu dia menjadi laki-laki galib dan sama sekali tak mirip si Pinky yang aksinya diwaria-wariakan seperti tuntutan peran dalam serial Extravaganza. Ruben sekarang ini juga memelihara berewok (yang hingga hari ini masih dianggap menyimbolkan kemachoan). Dan Olga? Beberapa waktu lalu diembus-embuskan kabar bahwa dia berpacaran dengan Jessica Iskandar, tentu sebagai bukti bahwa sebenarnya dia seorang lelaki. Di Indonesia rasanya tak mungkin seseorang yang ”perempuan” berpacaran dengan seorang perempuan secara terbuka kalau tak ingin ”digebuk” FPI seperti Irshad Manji, haha….

Dari tiga nama yang mungkin diragukan kelelakiannya oleh banyak orang itu, hanya Olga yang masih terus eksis lewat beberapa tayangan televisi. Para pirsawan televisi masih terus terbahak-bahak melihat banyolannya yang bak ember bocor dan aksinya yang bak merak berahi. Dia disuka dan tentu semakin kaya. Tapi sampai hari ini, saya tak pernah yakin Olga atau siapa pun yang jarang bisa menjadi dirinya sendiri itu berbahagia.
Bagaimana bisa berbahagia kalau setiap kalimat, setiap aksinya harus ditata agar sesuai peran? Dan beberapa waktu lalu, teguran KPI atas jeplakan Olga soal ”assalamualaikum”, pasti bukan sesuatu yang membahagiakannya. Jangan-jangan terakhir kali dia merasa bahagia saat masih menyandang nama Yoga Syahputra, nama aslinya itu. Mungkin lho…. (*)

(masih) Epilude, 1 Juli 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: