Home » Kolom Lain-lain » NGOPLO DAN ANTIKEMAPANAN

NGOPLO DAN ANTIKEMAPANAN

LAGU Banyuwangi ”Tangise Perawan Sunti” ciptaan S Mamang berkisah tentang kesedihan seorang perawan kencur yang baru putus cinta. Sebuah lagu melankolis yang ketika dinyanyikan Catur Arum dalam iringan kendang kempul khas Banyuwangi dan dipadu dengan instrumen diatonis itu begitu terasa kepedihan si perawan. Namun, nuansa kemelankolisannya berkurang atau bahkan hilang ketika Ratna Antika menyanyikannya bersama OM Sera, grup dangdut yang sering disebut sebagai pengusung dangdut koplo.
Secara umum, sesedih apa pun lirik sebuah lagu, nuansanya bisa sangat riang ketika di-koplo (maksudnya diaransemen dalam irama dangdut koplo). Memang, ciri khas dangdut koplo adalah beat-nya yang cepat dan tinggi dan biasanya bertumpu pada permainan kendang yang ngoplo (boleh diterjemahkan gila-gilaan cara memukulnya). Sebab, kemunculan awal genre dangdut koplo ini diawali oleh improvisasi gila-gilaan pemain kendang dari ”Gang Jarak” di Surabaya pada 1993. Namanya Cak Naryo, dan diikuti Cak Sugeng, sebelum muncul Cak Slamet. Nama terakhir itu sangat populer sebagai pemukul kendang ngoplo bersama grup New Palapa.
Pola pemukulan kendang yang improvisatif dan nyaris tak mengikuti pola nada itulah yang menjadikan lagu apa pun selalu dalam irama cepat dan tinggi. Dalam irama seperti itu, kesedihan, kegalauan, atau bahkan kesakralan yang terkandung dalam lirik sebuah lagu seakan-akan lenyap. Ekspresinya bisa saja berubah menjadi riang. Maka, penyanyi yang lewat lagunya ”memerankan” seorang istri yang marah dan juga sedih lantaran mendapati suaminya mulai nakal dan berselingkuh, dalam versi dangdut koplo, dia akan terlihat riang-riang saja. Silakan Anda cek klip video ”Bojoku Nakal” versi dangdut koplo yang dibawakan beberapa penyanyi di situs-situs internet.
Contoh lain lagu Banyuwangi ”Kembang Galengan” yang liriknya mengandung kearifan lokal mengenai seseorang yang bersahaja yang disimbolkan dengan kembang galengan (bunga penghias pematang sawah) yang ”kaidek eman-eman, dipetik sapa hang oyan” (terinjak kasihan, dipetik siapa yang mau). Lagu ciptaan BS Noerdian dan Andang CY itu lagu yang terbilang klasik dan begitu banyak penyanyi dari Tanah Using itu menyanyikannya. Ketika lagu itu dibawakan dalam versi kendang kempul baik oleh Niken Arisandi, Yuliatin, maupun Wiwin Andayani, iramanya yang membat mayun, pelan, dan melodius begitu terasa. Namun dalam versi dangdut koplo Ratna Antika, lagu itu berubah punya irama cepat. Keklasikannya seolah-olah hilang kalau kita menyaksikan klip videonya yang sesekali secara sengaja kamera menyorot dari bawah rok si penyanyi sehingga (maaf) celana dalamnya terlihat. Itu bersebalikan dengan versi klip video Yuliatin yang diperagakan dalam busana penari tradisional Using.
Saya tak berpretensi membanding-bandingkan genre yang satu lebih bagus ketimbang genre lainnya. Perbandingan itu tak selalu harus berujung pada simpulan bahwa dangdut koplo merusak kenikmatan seseorang menikmati dan menyimak lirik lagu. Lebih-lebih lagi, hanya lantaran banyak penyanyi dangdut koplo yang berpakaian seronok dan lebih suka mengeksplorasi goyangan dengan beragam varian ketimbang mengembangkan teknik vokal lantas kita menyebut dangdut jenis itu norak, pengumbar erotisme, dan berkelas comberan (seperti pernah diungkap Rhoma Irama saat ”menghakimi” Inul Daratista).
Ya, sebagian dari kita mungkin bukan penggemar, atau bahkan pembenci, dangdut koplo. Tapi alih-alih memandang minor jenis dangdut itu, lebih baik kita melihat semangat awal kemunculannya. Semangat antikemapanan, yang dalam banyak hal sangat kreatif. Permainan kendang yang ngoplo adalah semangat mendobrak: antitesis dari tesis berupa pola bunyi monoton ”dang” dan ”dut” dalam irama dangdut. Yang lebih penting lagi, kehadirannya diterima banyak orang, dan mereka terhibur dibuatnya. Kalau suatu jenis musik tidak menghibur, ia telah kehilangan ruhnya. Lagi pula, menikmati dangdut koplo pasti lebih keren ketimbang mengonsumsi pil koplo, bukan? (*)

Laporan Utama, Suara Merdeka, 27 Mei 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: