Home » Kolom Epilude » BABIBU BUBU BUZZ

BABIBU BUBU BUZZ

PEMBACA, di sekitar tempat tinggal kita, mungkin ada seorang tukang gunjing. Ia mirip juru warta andal yang tak pernah meluputkan satu informasi pun. Caranya menyampaikan barangkali juga lebih dahsyat dari juru dongeng. Lebih sering pula ia berperan sebagai telik sandi atau bahasa kerennya intel (entah pentium berapa, hahaha…).
Sayangnya, namanya juga tukang gunjing, beritanya hanya kabar keburukan orang lain. Untuk kategori ini, ia tak layak disebut wartawan. Sebab, warta yang disampaikan belum tentu sebuah fakta. Padahal fakta adalah harga mati untuk tulisan pewarta. Tapi seorang jurnalis pun bisa belajar liputan investigasi dari tukang gunjing, hanya pada upaya gigihnya menyigi sisik melik keburukan si narasumber pergunjingan.
Kita mungkin jengah dan sebal terhadap para tukang gunjing. Tapi apakah kita juga tidak merasa kangen jika dalam masa tertentu si juru gunjing tak hadir? Ya, kita mungkin sebal terhadap orang yang pintarnya cuma nyacat orang lain, tapi secara tidak sadar kita juga sering mengangeninya. Mungkin itu lantaran kita sudah telanjur mencandu pergunjingan atau gosip. Ada naluri dalam diri kita untuk menguntit kisah orang lain yang dalam bahasa anak sekarang disebut kepo. Secara tak langsung, para juru gunjing itulah yang secara gratis memberi pemuasan atas keinginan kepo kita.
Itu sebabnya infotainment marak. Setiap saatnya, selain fakta yang pemberitaannya sering didramatisasi, kita juga dikenyangkan oleh kabar burung (ini burungnya pasti bukan merpati pos). Sama seperti terhadap juru gunjing, kita sering sebal pada infotainment tetapi tangan kita tetap memegang remote control dan aktif memindah-mindah saluran penayang gosip artis. Sebagian dari kita, mungkin lebih mengenal keseharian artis X ketimbang jatidiri tetangga kita.

***

MAKA pada hari-hari ini, kita seperti begitu mengenal segala ”babibu” tentang Bubu, semua ”berkat” kitab belajar cuma-cuma dari infotainment. Kita tahu bahwa Bubu pernah menggendong seorang gadis, atau bahwa ternyata lelaki bermuka bulat itu bukan orang berdarah biru dari Kerajaan Selangor melainkan ”berdarah kuning emas ” karena dia salesman emas. Oh ya, tahu tidak ternyata Bubu itu masih keponakan pemilik gerai waralaba kebab Baba Rafi, adik ipar Asia Bibi, perempuan yang sudah divonis hukuman gantung oleh pengadilan Pakistan karena dianggap menghujat agama, teman dekat Bebe yang sedang dipinjamkan Manchester United ke Besiktas, dan pelanggan setia majalah Bobo? (Ups, maaf Pembaca, kalimat terakhir tersebut tolong dianggap tak pernah dituliskan karena itu semata isu mengada-ada dari saya.)
Pentingkah sebenarnya segala ”babibu”, segala ihwal bobot-bibit-bebet Bubu untuk kita? Mungkin untuk Syahrini, ya. Untuk kita? ”Babibu” Bubu mungkin hanya buzz…. Tapi mungkin penting juga, setidaknya ia bisa jadi topik obrolan, atau awalan percakapan tatap muka dengan pasangan atau orang-orang dekat yang selama ini berkesan dingin dan beku lantaran jari-jemari kita lebih asyik berponsel dan suara kita lebih banyak diwakili deretan huruf di layar ponsel atau tablet.

***

NAH, jadi segombal apa pun gosip, ia bisa kita jadikan bahan pengisi waktu. Kita mencandunya untuk melupakan sejenak, misalnya, gaji yang datang terlambat atau biaya hidup tinggi yang terus jadi trending topic dalam ”twitter keseharian” kita. Karena begitulah fungsi candu: bikin lupa dan hidup terasa hanya berisi keindahan.
Tapi meski gosip itu bisa mengisi kebosanan, baiknya dengar petuah Rhoma Irama tentang ghibah (bergunjing). Saya kutipkan alinea terakhir lirik lagunya, ya: Siapa yang suka membuka aib temannya/Berarti dirinya lebih hina dan tercela/Siapa yang suka menggunjingkan sesamanya/Berarti dia suka makan bangkai saudaranya/Jangan Anda berbuat ghibah.
Memakan bangkai saudara? Wah… wah, Sumanto aja udah tobat, kok. Tapi kalau kita sudah tidak kuat lagi beli daging sapi, ya puasa daging sajalah. Konsumsi tumis kangkung atau sayur mayur saja, kata Pak Dokter, itu bukan junkfood dan menyehatkan. Akur? (*)

masih Epilude, Suara Merdeka, 27 Mei 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: