Home » Kolom Epilude » TERGAGA-GAGA

TERGAGA-GAGA

UNTUK jenis film bersuara, Bela Lugosi adalah pemeran drakula atau vampir pertama dalam film Dracula (1931) garapan sutradara Tod Browning. Yang agak gres, ada Robert Pattinson, pemeran drakula Edward Cullen dalam Twilight. Dalam film lokal, mendiang Suzanna beberapa kali menjadi Nyi Blorong, juga Sundel Bolong. Lalu apakah Lugosi dan Pattinson adalah seorang drakula atau setidak-tidaknya pemuja vampir? Apakah Suzanna adalah Nyi Blorong atau pemuja makhluk itu? Manchester United dan AC Milan punya nama lain Red Devils dan Diavolorossi yang artinya Iblis Merah.Jadi, mereka yang terkait dengan kedua klub itu, termasuk para pendukungnya adalah barisan iblis berwarna merah?
It’s just an acting, Masbro! It’s just a name, Mbaksis…” Kita bisa menjawab seperti itu. Tapi jawaban itu sepertinya tak cukup untuk mereaksi semua aksi populer (juga kontroversial) Lady Gaga, perempuan yang lagi bikin kita ”tergaga-gaga”. Tentu saja Anda tak akan menemukan istilah “tergaga-gaga“ dalam kamus kita. Ya, anggap saja saya meniru nama Lady Gaga yang terinspirasi oleh lagu Queen bertajuk ”Radio Ga Ga.“ Dalam lagu itu, kata ”ga ga” muncul hanya sebagai partikel yang tak punya makna tapi mempermanis ekspresi liriknya.
Jadi, izinkan saya memakai istilah itu untuk merujuk pada sikap penuh paradoks terhadap seorang perempuan bernama Stefani Joanne Angelina Germanotta yang dikenal sebagai Lady Gaga. Kita terharu-biru dan kagum tapi pada saat bersamaan mual melihat tingkahnya. Kita (mungkin) tidak menyukai gayanya tapi kita juga jengkel pada orang-orang yang menghalangi kebebasannya berekspresi.
Bukankah itu yang sedang kita alami menyusul pembatalan konser si ”Mother Monster” itu di Jakarta? Begitu banyak orang berkomentar, masing-masing dengan pernyataan yang adakalanya paradoksal. Bahkan ada pula yang begitu enteng menghujat tanpa sekali pun menonton aksi panggung atau videonya. Seperti itulah yang menurut saya suatu ”ketergaga-gagaan”, tentu saja tanpa pretensi suatu hari kata itu dimasukkan ke dalam kamus.

***

BENAR, begitu banyak aksi panggung Lady Gaga yang membuat kita ”tergaga-gaga”. Dia pernah berpenampilan ala setan dengan dua tanduk panjang menjulang ke atas. Dia pernah pakai kostum Anubis (setan zaman Firaun). Pada 2009, Gaga tampil di MTV Music Video Awards Show de ngan berlumur darah. Orang-orang menafsirnya sebagai ritus pengor banan kepada setan. Orang-orang Katolik pernah marah kepadanya dan menyebutnya sebagai antikris tus lantaran sebuah lagunya yang berjudul ”Alejandro“. Dalam lagu itu ada nama-nama Alejandro, Fernan do, Roberto, dan Babe. Oleh mereka yang marah, Gaga dianggap senga ja melecehkan iman Katolik karena perempuan itu dengan sengaja me nulis lagu yang menyimbolkan Ale jandro untuk Tuhan, Fernando untuk Yesus, Roberto untuk Roh Kudus, dan Babe diartikan sebagai anak.
Gaga bergeming atas tuduhan itu, tapi ada fans-nya yang menulis bahwa Alejandro adalah mendiang Alexander McQueen, Fernando itu Fernando Garibay dan Roberto adalah Rob (Roberto) Fusari. Semuanya adalah teman-teman Gaga. Tapi predikat pemuja setan dan ba nyak atribut buruk lain untuk penyanyi tersebut sudah telanjur populer.
Setan memang telah menjadi musuh manusia, konon sejak Adam dan Hawa diusir dari surga. Sejak itu pula, kalau ada seseorang atau sekelompok orang yang dianggap memuja setan, dia atau mereka menjadi musuh bersama orang orang yang beragama. Mereka dianggap orang-orang yang tersesat dan untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar, kadan gkala tak cukup dengan didakwahi atau dikhotbahi, bahkan dihukum bakar secara massal. Silakan cek Mbah Google dan cari tahu apa yang dialami orang-orang yang dianggap sebagai para pemuja setan.
Dan predikat pemuja setan berikut efek sangat buruk terhadap moralitas yang bakal diberikan Gaga kalau tampil di Jakarta itu dijadikan alasan sebagian kita yang ”tergaga-gaga” lantas menolak keras kehadirannya. Pun mereka yang tak sepakat pada cara-cara represif pembatalan sebuah konser, sama-sama ”terga ga-gaga”. Seolah-olah tak ada persoalan lain yang lebih penting ketimbang mem bicarakan Lady Gaga. Masih begitu banyak hal yang belum beres di negeri ini. Atau, jangan-jangan ”ketergaga-gagaan” kita itu jadi obat tidur agar pikiran kita lupa bahwa masih begitu banyak karut-marut persoalan yang tak selesai-selesai.
Ah, entahlah. Saya tak ingin ikut “tergaga-gaga”, sebab saya yakin, terhadap pembatalan konsernya di Jakarta, Lady Gaga hanya berkomentar dingin, ”Gak konser ya gak patheken. Begitu saja kok repot?” (*)

masih Epilude, Suara Merdeka, 20 Mei 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: