Home » Kolom Epilude » BUKAN NEGERI DONGENG

BUKAN NEGERI DONGENG

SAYA selalu meyakini bahwa semodern atau bahkan se-posmodern apa pun seseorang, pada hakikatnya tetaplah seorang primordial. Dia akan selalu melongok ke asal-muasalnya. Saya yang lebih dari separuh usia tidak lagi tinggal di daerah kelahiran di Brebes, Jateng, tetap saja tak bisa cuek setiap kali mendengar berita dari daerah tersebut. Begitu pula, setiap bertemu seseorang yang berasal dari Brebes, saya selalu diakui sebagai orang seasal. Padahal bisa saja dia berasal dari daerah di bagian barat selatan seperti Salem atau Banjarharjo yang sehari-hari berbahasa Sunda sementara saya berasal dari pesisir utara yang berbahasa Tegal.
Kalau sedang di luar negeri dan bertemu orang dari Indonesia, Anda seperti bertemu saudara kandung. Perbedaan suku atau latar belakang apa pun tak lagi jadi penghalang, yang penting sama-sama berpaspor hijau dengan gambar burung garuda.
Perkecualian untuk hal ini mungkin bila luar negeri Anda adalah Orchard Road di Singapura yang konon lebih banyak orang Indonesianya ketimbang warga setempat.
Itulah contoh sederhana tentang primordialisme. Primordialisme itu pulalah yang menjadi basis nasionalisme yang diagungkan hampir semua bangsa di seantero dunia. Karena diagungkan, jangankan dihina, hanya disentil atau disindir saja, pemilik nasionalisme itu akan bereaksi keras. Apalagi bila ”penghina” itu anak kemarin sore yang baru lulus SMA macam Justin Beiber.
Ya, salah satu lagu Justin yang berjudul ”Be Alright” direkam di Jakarta. Tapi dalam sesi wawancara di London, dia menyebut tempat perekaman lagu itu ”random country”, bukan Indonesia.
Begitu banyak orang kita yang lalu marah padanya. ”Random” bagi penutur bahasa Inggris diartikan ”tak signifikan” alias ”tak penting banget”. Kita menerjemahkannya dengan makna yang tak begitu jauh, yaitu ”acak” atau ”antahberantah”.
Saya memahami kemarahan seperti itu pasti lahir dari sikap nasionalisme. Tapi saya ingin melihatnya dari sisi lain, dari sisi orang-orang asing. Ketidaktahuan mereka terhadap negeri bernama Indonesia agaknya sudah menjadi kisah klasik. Pada zaman Soekarno, orang asing lebih mengenal sang Presiden dan Bali ketimbang nama negara yang dipimpinnya. Itu masa ketika internet belum mendunia. Tapi di zaman ketika hampir semua orang di dunia mengenal Mbah Google, masih tak tahukah orang-orang asing itu tentang Indonesia?

***

ENTAHLAH. Yang jelas, kita sering terkagum-kagum pada orang-orang berdarah Kaukasian, orang-orang dari ras Arya, yang sering kita sebut ”bule”. Konon, itu lantaran sejak lama kita mengalami minderwaardigheidscomplex (sindrom minder) sebagai warisan kolonialis Belanda yang sengaja menjadikan kita ”rendah diri” atau ”bangsa kuli”. Segala yang dari mereka (selalu) lebih baik dari kita.
Tapi masihkah seperti itu? Kalau masih, kita perlu mempertimbangkannya kembali. Mereka tak selalu lebih pintar dari kita.
Saya pernah berkorespondensi lewat surat elektronik dengan beberapa orang dari Prancis.Saya sering merasa geregetan ketika membaca balasan surat mereka. Bayangkan, ketika menulis untuk mereka, saya matimatian mempertimbangkan tata bahasa dan kaidah penulisan bahasa Prancis yang benar seperti yang saya pelajari di bangku kuliah, tapi jawaban surat mereka begitu serampangan. Tak hanya kacau tata bahasanya, tapi juga penulisan ejaannya sering keliru (mungkin salah ketik).
Okelah, saya ingat dosen saya pernah bilang, dalam percakapan sehari-hari mereka sering tak patuh kaidah kebahasaan. Tapi bagaimana mungkin seorang kenalan saya dari Marseille (Prancis selatan) tidak tahu tentang Musee du Louvre saat saya bertanya apakah dia pernah ke sana? Orang Prancis yang tak tahu museum besar di tengah kota Paris, menurut saya aneh (untuk tak menyebut bodoh), seaneh kita yang tinggal di Jawa tak tahu tentang Borobudur misalnya.
Mungkin pula, Justin tak bermaksud menghina Indonesia kita. Anggap saja dia hanya seorang ”remaja lugu” yang pengetahuannya hanya nyanyi ”Baby Baby” saja. Tapi di luar itu, kita sering memakai ungkapan ”negeri antah-berantah” ketika sedang mendongeng. Kita tak tahu apa nama negeri Cinderella, Snow White, atau Odette si Black Swan. Kita cukup menyebut mereka berada di sebuah negeri antah-berantah. Di negeri seperti itu, yang jahat selalu kalah misalnya saudari-saudari tiri Cinderella.
Jadi, memang tidak mungkin Indonesia itu negeri antah-berantah. Ini bukan negeri dongeng, sebab di sini yang jahat tak selalu kalah, bukan? (*)

masih Epilude, Suara Merdeka, 13 Mei 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: