Home » Kolom Lain-lain » CATATAN DARI PARIS

CATATAN DARI PARIS

Orang Paris tak banyak bepergian, tak tahu bahasa lain selain bahasanya, tak membaca karya sastra selain karya sastrawan mereka sendiri. Akibatnya, pikiran mereka agak sempit, tapi mereka merasa itu sudah cukup. Bagaimanapun juga, jangan biarkan kita terlalu nggebyah uyah alias menyamaratakan semua. Ada juga orang-orang Prancis yang tahu bahasa selain milik mereka: ya para pramusaji itu.
Dari yang tak banyak itu, ada juga yang tahu bahasa Inggris. Mereka mengerti bahasa tersebut dalam konteks kebersamaan di Eropa. Tapi ya begitulah, mereka bisa berbicara bahasa Inggris, tapi tak dapat mengerti maknanya. Mereka jadikan diri mereka mudah dipahami, tapi tampaknya mustahil mereka bisa mencerna sebuah kalimat dalam bahasa Inggris. Mereka pikir mereka memahaminya. Mereka berpura-pura paham, tapi sebenarnya tidak.
Inilah contoh percakapanku dengan salah seorang dari mereka, yang kutulis saat itu juga agar tidak keliru:

Aku: Jeruk-jeruk ini bagus. Ditanam di mana?
Dia: Mau lagi? Ya, nanti saya bawakan lagi.
Aku: Tidak, jangan bawa lagi. Saya hanya ingin tahu asalnya dan di mana dibudidayakan.
Dia: Ya? (air mukanya begitu tenang dengan suara meninggi) Aku: Ya. Dapatkah Anda mengatakan pada saya dari negara mana jeruk-jeruk ini?
Dia: Ya? (tersenyum dengan meninggikan suara) Aku: (putus asa). Ah, jeruk-jeruk itu bagus.
Dia: Selamat malam. (membungkuk untuk memberi hormat, berlalu dan terlihat puas terhadap dirinya sendiri) Lelaki muda itu mungkin saja bisa menjadi sarjana bahasa Inggris dengan menempuh perjuangan berat tertentu. Tapi dia orang Prancis dan tak akan mau seperti itu. Betapa berbedanya dengan masyarakat kita. Mereka memanfaatkan apa pun kalau ada kesempatan. Di Paris, sebenarnya ada juga orang-orang Protestan dan mereka membangun gereja kecil yang indah di tepi avenue utama menuju Arc de Triomphe, dan selalu mendengar hal-hal baik. Dan di gereja, khotbah yang meluncur dari lidah berharga orang Prancis itu bagus dan benar, dan mereka merasa bahagia.
Tapi kadang hal itu tak berhasil menarik banyak orang Prancis. Pada hari-hari Minggu, orang-orang kami selalu berada di sana, memenuhi semua ruangan. Saat pendeta mulai berkhotbah, ruangan gerejanya penuh orang asing yang saleh, masing-masing siap dan menunggu dengan buku kecil di tangan, yang kelihatan seperti Alkitab berjilid khas Maroko.
Tapi itu hanya kelihatannya. Sebab, sebenarnya itu buku kamus kecil Inggris-Prancis susunan Tuan Bellow yang cukup terkenal tapi sudah usang, yang dibuat dan dijilid seukuran Alkitab. Dengan buku itu, orangorang belajar bahasa Prancis. Makanya, gereja tersebut sering dijuluki “Gereja Pelajaran Bahasa Prancis Gratis”.
Mungkin saja para pembelajar itu hanya mendapat lebih banyak tentang kebahasaan ketimbang informasi umum, seperti sudah kubilang, khotbah dalam bahasa Prancis itu benar-benar mirip ujaran bahasa tersebut: tak pernah menyebut peristiwa historis, dan hanya menyebut tanggal saja. Dan jika tidak bisa mengenali tanggal-tanggal, Anda tak mampu menangkap maksud khotbah tersebut.
Sebuah khotbah dalam bahasa Prancis itu seperti ini: “Kamerad, warga negara, saudarasaudara, golongan terhormat di satu-satunya negara yang luhur dan sempurna, sebaiknya kita tidak melupakan bahwa 21 Januari itu hari pembebasan kita; bahwa 10 Agustus mengingatkan kita pada kehadiran memalukan dari mata-mata asing; bahwa 5 September itu pembuktian diri kita di hadapan Tuhan dan kemanusiaan; bahwa 18 Brumaire menyemaikan benih-benih hukumannya sendiri; bahwa 14 Juli merupakan suara agung tentang kebebasan yang membawa ke arah kebangkitan baru, hari baru, dan mengundang orang-orang tertindas di muka bumi untuk menyadari wajah ilahiah Prancis; mari kita mencatat kutukan abadi terhadap manusia pada 2 Desember, dan mendeklarasikan dengan suara geledek, suara asli orang Prancis bahwa hanya untuk manusia semata maka tak ada lagi kejadian tanggal 17 Maret dalam sejarah, tak ada 12 Oktober, 19 Januari, 22 April, 16 November, 30 September, 2 Juli, 14 Februari, 29 Juni, 15 Agustus, atau 31 Mei, tapi untuk manusia itu pula, hari ini, Prancis yang suci, agung, dan tanpa tandingan, telah punya kalender yang kosong dan tenang!“ Aku juga pernah mendengar khotbah dalam bahasa Prancis yang diakhiri dengan kalimat ganjil dan sama sekali tidak elok, seperti ini: “Para pendengar, kita bersedih kalau mengingat seorang lelaki pada 13 Januari.
Hasil kejahatan besar pada 13 Januari itu benar-benar sudah sesuai proporsi dengan kebesaran dia sendiri. Karena itu, tak ada juga 30 November yang merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan. Sesuatu yang mengerikan pada 16 Juni memang belum terjadi, atau seseorang pada tanggal itu telah ada. Satu-satunya yang seperti itu hanya 3 September, juga 12 Oktober yang fatal. Maka, apakah kita akan bersyukur untuk tanggal 13 Januari dengan segala ketakutan akan kematian yang diberikan untuk kamu, aku, dan semua yang bernafas? Ya, teman-temanku, tanggal 13 Januari itu jugalah yang selanjutnya memunculkan hari yang memang seharusnya hadir untuk kita, untuk melakukan penebusan dosa ya, 25 Desember yang teberkati.“
Bisa saja semua itu cukup mudah dijelaskan meskipun dalam hal tertentu, banyak pembacaku, yang kesulitan dan membutuhkan penjelasan. Orang pada 13 Januari itu Adam; tanggal kejahatan yang dicatat itu saat dia makan buah apel; peristiwa menyedihkan pada 30 November itu kisah pengusiran dari Surga; perbuatan kejam pada 16 Juni itu pembunuhan Abel; dan aksi 3 September itu awal perjalanan ke Tanah Nod; 12 Oktober yang dimaksud adalah puncak gunung terakhir yang tergenang banjir.
Ketika Anda pergi ke gereja di Prancis, Anda pasti ingin membawa almanak Anda sendiri, yang tentu saja sudah penuh catatan. (62)

Samuel Langhorne Clemens (30 November 1835 – 21 April 1910), lebih dikenal dengan nama pena Mark Twain adalah sastrawan Amerika Serikat. Beberapa karyanya yang paling terkenal antara lain The Adventures of Huckleberry Finn dan The Adventures of Tom Sawyer. Esai ini berjudul asli Paris Notes, diterjemahkan Saroni Asikin dari online-literature.com.

Serat, Suara Merdeka, 22 April 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: