Home » Kolom Epilude » VOX JURATAE VOX DEI?

VOX JURATAE VOX DEI?

SAYA masih lihat 32 gigimu. Ulangi!” ujar dosen <I>Audition Prononciation<P> dengan dingin. Namanya Surarti Pawiro Martoyo, dipanggil Bu Rarti, terkenal killer tapi baik hati. Meski takut-takut, saya tergelak juga. Saat itu semester satu, dan semua mahasiswa Jurusan Bahasa Prancis IKIP Semarang (Unnes) wajib mengikuti kuliah latihan pelafalan dalam bahasa tersebut.
Kenapa saya tergelak? Saya menyadari ketidaklogisan komentarnya. Bagaimana bisa Bu Dosen itu melihat 32 gigi saya? Orang dewasa punya 32 gigi, dan kalau terlihat semua, itu artinya saya tak memiliki bagian mulut yang menyembunyikan beberapa bagian gigi dari pandangan lawan bicara. Dan itu tak mungkin, bukan?
Komentar pedas dan nyinyir memang jadi gaya beliau dalam mengajar. Bahkan lebih sering komentar itu mengarah ke hal-hal ragawi. Seingat saya, ucapan beliau paling sering adalah, ”Sekarang kamu pulang, dan minta kembali uang sekolahmu dari SD hingga SMA. Apa yang kau pelajari selama di sekolah-sekolah itu?”
Tapi saya, juga semua mahasiswa yang pernah mengikuti kuliah beliau, tak pernah merasa sakit hati. Bahkan kami sering merindukan beliau, setidaknya merindukan cara mengajarnya. Orang bijak bilang, sesuatu yang pahit bisa berubah manis dalam kenangan. Paling tidak, meski tidak fasih-fasih banget, kemampuan pengucapan bahasa Prancis kami bisa mengharu-biru saat merayu gadis Prancis asli, hahaha….
Ya, saya terkenang Bu Rarti ketika melihat cara juri Indonesian Idol 2012 mengomentari peserta audisi kontes tersebut. Nyinyir, pedas, dan bahkan ada yang dianggap menyinggung martabat kemanusiaan peserta. Saya bisa merasakan ketidakyamanan perasaan peserta, sama seperti saat kami berhadapan dengan Bu Rarti. Saya memang pernah tergelak, tapi itu bukan gelak lepas sebab pada hakikatnya kami semua takut. Dosen punya otoritas, dan pada pemegang otoritas, kami tidak punya keberanian membantah. Apalagi kami tahu, di luar ruang kuliah, Bu Rarti adalah perempuan tua yang hangat, penuh perhatian, dan baik hati.

***

SAYA tak mengenal Anang, Ahmad Dhani, dan Agnes Monica seperti saya mengenal sosok Bu Rarti. Tapi dari tayangan televisi, cara mereka, khususnya cara dua lelaki itu menghadapi peserta audisi, memang bikin mengkal hati. Apakah lantaran mereka juri dan vox juratae, vox dei (suara dewan juri, suara Tuhan)? Dalam perlombaan sering ada ketentuan ”keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat”. Mutlak.
Nah, betapa enaknya diminta jadi juri, dan kadang bisa seenaknya menentukan ”nasib” seseorang. Dalam bidang hukum, ada ungkapan Latin  nulla unquam de morte hominis cunctatio longa est. Seorang hakim atau juri tak butuh waktu lama untuk menentukan nasib seseorang (terdakwa). Maka, Anang bisa seenaknya menyandarkan tubuh, menelekan kepala dengan pandangan ke langit-langit saat peserta tengah berjuang keras agar penampilannya memukau dan lolos audisi. Dhani bisa seenaknya pergi ke belakang panggung ketika seorang peserta unjuk nyanyi untuk diapresiasi.
Dari gambaran itu saja, barangkali kita berhak menyebut keduanya tak menghargai peserta. Bahkan, saya kadang seperti melihat adegan: seseorang pengemis lapar tengah mengiba-iba kepada tiga orang di meja makan yang lagi melalap berbagai hidangan lezat tanpa menggubris si pengemis. Dan ketika selesai makan, ketiganya bersendawa dengan suara besar dan ada dari mereka yang sengaja mengembus-embuskan uap dari mulutnya ke muka si pengemis. Bagaimana bila mereka makan petai juga?
Analogi itu mungkin terlalu ekstrem. Itu muncul lantaran saya juga sering mengkal hati melihat cara mereka. Tapi kita mesti ingat, semua hal yang tampak tidak manusiawi itu adalah bagian dari sebuah kontes yang sedari awal diformat serupa reality show. Jadi, apa pun yang tersaji semata tontotan yang diharapkan bisa mendongkrak rating. Lalu apa semua komentar merendahkan martabat itu hanya ”anjing menggonggong kafilah berlalu”? Semoga saja hanya begitu. Sebab, siapa pun tak suka menyaksikan tindakan merendahkan martabat manusia. Dan kalau Anda menganggap Indonesian Idol 2012 bagian dari program perendahan martabat kemanusiaan, ya sudah, matikan televisi atau pindah saluran. Dan kalau sudah pindah saluran Anda tetap menjumpai orang-orang yang pandai bermanis-manis kata ketika berkilah atau curhat, meski tetap mengkal hati, berjuanglah menahan keinginan untuk memecahkan kaca televisi Anda. Sebab, buruk tayangan bukan kesalahan pesawat televisinya, kan? (*)

masih Epilude, Suara Merdeka, 15 April 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: