Home » Kolom Epilude » MIRSANI NIKITA MIRZANI

MIRSANI NIKITA MIRZANI

DALAM dunia jurnalistik, ada aksioma bad news is good news. Kabar buruk itu jadi kabar yang baik. Misalnya, perselingkuhan seseorang (apalagi pelakunya pesohor) itu jelas kabar yang buruk buat yang dikabarkan. Tapi bagi pelaku jurnalistik, itu bagus dikabarkan ke publik.
Saya jurnalis, tapi saya juga berhak tidak menyepakati aksioma itu. Namun, atas alasan profesionalitas, kalau diminta meliput dan menulis ”kabar-kabar buruk”, saya wajib menunaikannya. Dalam hidup, kewajiban dan hak memang tak selalu sejalan. Lalu, kalau muncul dilema, paradoks, konflik, atau ironi, yakin saja itu dinamika pemanis kehidupan.
Ups, kok terlalu rumit dan berkesan serius, ya? Begini saja deh, yang tidak suka berita buruk sebagai berita baik, pasti tak hanya saya seorang. Nikita Mirzani yang jadi subjek berita mungkin juga tak suka aksioma seperti tersebut, setidaknya bila dirinya si kabar buruk itu. Dengar saja, ”Kalau aku mikir gosip yang keluar ini bukan aku cari popularitas, ya. Itu kan suatu kejelekan buat aku. Juga buat keluarga kan nggak enak selalu diomongin yang jelek-jelek. Kenapa orang selalu melihat negatifnya Nikita?” Itu ucapan Nikita tentang foto perabaan dadanya oleh Daus Mini, pertengahan Januari lalu.
Anda bisa menganggap itu kilahan Nikita semata. Sudah jamak bukan, seorang selebritas di mana saja, di dunia hiburan, panggung politik, atau birokrasi pemerintahan, bila digosipkan, buru-buru mengeluarkan jurus Bantah Sekilan alias membantah dengan sangat cepat. Itu dilengkapi dengan ”menanam tebu di sudut bibir” seperti kata Siti Nurhaliza, atawa memanis-maniskan muka dengan senyuman. Bila terpojok lantaran gosip itu dilengkapi bukti, jurus selanjutnya Kilah Seribu alias berkilah. Lantas, bila gosip itu bukan kasus yang sampai ke pengadilan, keluarlah itu jurus Enyah Sekejap atawa kabur dan dilupakan orang hingga suatu hari muncul untuk memainkan jurusjurus baru. Pembaca, kalau jurus-jurus itu terlalu mengada-ada, ya maafkan, dan kalau boleh berkilah, saya ini kan bukan pendekar silat atau jago kungfu, hehehe….

***

YA, terhadap gosip, pola ’’bantah-kilah-enyah’’, lalu ’’entahlah’’ hampir selalu berlaku, lebih-lebih di jagad hiburan. Nah, mari kita mirsani Nikita Mirzani. Akhir bulan lalu dia mengaku berselingkuh dengan Indra Birowo. Pengakuan seorang selebritas selalu melahirkan kehebohan, dan karena selingkuh dianggap buruk, ada bonus hujatan. Tak sampai sepekan, Nikita sudah membantah dan berkilah-kilah, dan kita tinggal menunggu jurus berikutnya yang sangat mungkin jurus enyah dan entahlah.
Kembali ke aksioma di atas, gosip itu kabar buruk. Mungkin Nikita tak suka kabar buruknya itu bagus dikabar-kabarkan. Tapi mungkin pula, dia memang memberdayakan aksioma itu sebagai cara mengibarkan bendera kemonceran. Itu sebabnya sebagian orang menganggap pengakuan Nikita hanya sensasi. Dan benar, sensasi sering jadi jembatan seseorang ke jalan popularitas di dunia showbiz.
Menurut saya, sebenarnya Nikita tak perlu sensasi untuk populer. Dia seksi, dan keseksian sering jadi modal bagus untuk seorang artis. Siapa yang tak suka melihat keseksian?

’’Tapi dia seronok,’’ ujar banyak teman saya yang perempuan. Ini pasti bukan ’’seronok’’ dalam bahasa Melayu Riau atau Malaysia atau KBBI yang artinya ’’menyenangkan’’ melainkan dalam pengertian yang kita kenal sebagai norak atau yang mengarah ke pornografi. Dan sama seperti saya, mereka suka yang seksi-seksi tapi benci yang seronok-seronok.
Jadi, aduhai Nikita, kalau kau bisa bermodal keseksian, juga modal lain seperti kepandaian berakting dan menyanyi, kenapa harus memainkan jurus keseronokan? Ah, terserah kau sajalah. Kau juga boleh bernyanyi begini: Iwak peyek iwak peyek sega bothok. Sampek tuwek sampek elek Nikita tetep seronok. Alamak jah! (*)

masih Epilude, Suara Merdeka, 8 april 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: