Home » Kolom Lain-lain » IRONI DI NEGERI TEMPE

IRONI DI NEGERI TEMPE

“KITA bangsa besar, kita bukan `bangsa tempe’, kita tidak akan mengemis, kita tidak akan min ta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak….“
Itu kutipan dari pidato Presiden Sukarno pada 17 Agustus 1963. Pidato khas sang Singa Podium: lugas, berapi-api, penuh gaya bahasa paralelisme, dan selalu bertujuan mengobarkan semangat rakyat. Tapi pidato ini pula yang belakangan disorot dan berusaha dikoreksi. Dalam banyak blog, para blogger menolak ungkapan “bukan bangsa tempe“ yang disebut Sukarno. Mereka menolak karena yakin, kita ini benar-benar bangsa tempe dalam pengertian sebagai bangsa yang menciptakan, memproduksi, dan mengonsumsi penganan dari kedelai itu.
Penolakan itu diimbangi persuasi bahwa selayaknya kita bangga lantaran tempe yang benar-benar milik kita sudah diakui dunia sebagai makanan sehat dan bergizi tinggi.
Kelirukah ungkapan Sukarno? Tunggu dulu. Bisa jadi Bung Besar itu sedang memainkan gaya bahasa metafora untuk merujuk bangsa yang suka bergantung terhadap bangsa lain, dan “tempe“ adalah kata yang dipilih lantaran tempe tak bakal menjadi tempe tanpa bantuan ragi. Kalau Anda baca kalimat-kalimat selanjutnya jelas sudah, Bung Karno mengajak rakyatnya mandiri dan tak suka mengiba bantuan asing. Ungkapan “Go to hell with your aids“ adalah contoh penegas lain yang menunjukkan sikap Sukarno.
Tapi dari sisi nasionalisme, kita memang patut berbangga ketika tempe mendunia. Masyarakat dunia sudah mengakui betapa tempe yang berasal dari tradisi masyarakat kita itu bukan penganan biasa. Kandungan gizinya luar biasa, dan berdaya obat karena mengandung antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif. Pokoknya, tempe itu teope begete alias top banget.
Wajar saja, banyak negara ingin memproduksi sendiri, tentu saja dengan mencontoh proses produksi kita. 20 negara sudah melakukannya, antara lain AS, Prancis, dan Jerman. Kita pun gembira ketika mendengar kesuksesan Rustono, lelaki asal Grobogan Jateng, yang “menempekan“ orang Jepang dengan tempe berlabel Rusto’s Tempe.
Bagaimana tidak berbangga sebagai bangsa ketika negara-negara itu baru bisa memproduksi tempe sekitar 400 tahun setelah kita melakukannya. Padahal, selama ini saya beranggapan, hanya di Indonesialah tempe bisa diproduksi dengan mudah. Tahun 2006, ketika di Osaka Jepang, saya melihat seorang staf KJRI Osaka membawa beberapa potong tempe dalam kemasan plastik. Dia lalu bercerita ten tang seorang Indonesia yang baru berhasil membuat tempe setelah belasan tahun melakukan riset dan percobaan. Bayangkan, berapa uang yang sudah dihabiskan untuk bikin tempe? Tempenya berukuran kira-kira 15 cm x 10 cm dengan ketebalan sekitar 5 cm. Harga sepotong 200 yen atau Rp 16 ribu (kurs saat itu 1 yen = Rp 80).
Kenapa sampai belasan tahun? “Saya tidak tahu, padahal kualitas air di Jepang terkenal bagus. Tapi sepertinya tak cocok untuk bikin tempe,“ kata staf tersebut.
Saya tidak tahu apakah orang yang diceritakan staf itu Rustono si pemilik Rusto’s Tempe atau bukan. Tapi dia telah sukses mengenalkan tempe sebagai kekayaan kuliner Indonesia di mata dunia, atas usahanya sendiri. Itu artinya, dia repre sentasi “bukan bangsa tempe“ seperti yang diingini Bung Karno.
Jadi, seperti Rustono, mari “menempekan“ dunia dan menduniakan tempe. Tapi bagaimana mau melakukannya kalau kedelai yang jadi bahan baku saja, kita terus mengimpornya, bahkan konon 60% dari jumlah kebutuhan? Ini ironi, di negeri produsen tempe kita selalu kekurangan kedelai.(*)

Suara Merdeka, 8 April 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: