Home » Kolom Lain-lain » AKU DAPAT TEROMPET, KAU DAPAT TEROMPET

AKU DAPAT TEROMPET, KAU DAPAT TEROMPET

PADA waktu duha di bulan Juni 1948, aku bangun tidur dan menjumpai dunia dengan matahari bersinar cerah. Itu pagi spesial, penuh aroma dari toko roti yang terbawa angin ke kamarku, dan aku takjub bahwa tanggal 18 telah tiba: tanggal kelahiranku dan aku kini lima tahun. Lorenzo, adik lelakiku, anak tiga tahun yang selalu berisik, berbagi tempat tidur denganku. Dan setiap petang saat seluruh keluarga berkumpul untuk bernyanyi, kami berbagi suara yang sama: tenor. Monroe yang kami sebut `’Kakak” bernyanyi dengan suara sopran, dan LausDeo yang tertua, bersuara alto.

Kami semua menyelaraskan nada di dapur berantakan di dekat papan tulis hitam. Setelah serangkaian latihan memperkuat paru-paru dan diafragma, beberapa kali menghadap dan membelakangi dinding, menahan napas untuk mengembangkan paru-paru, mengeluarkan dan menarik napas lagi, dan selanjutnya meniup selembar kertas yang tergantung pada sebuah tali, meniupnya dengan embusan napas sekuat mungkin, akhirnya kami berdiri dengan tangan saling bergenggaman dan menyanyi `’O Mary Don’t You Weep”, `’I Heard the Preaching of the Elders. Kami menyanyikan `’O Where You Running Sinner”. Kami bernyanyi solfeggio untuk lagu `’Onward Christian Soldiers” dan `’I Got a Robe, You Got a Robe”.

Ketika mendengarnya, Kakek yang datang dari Florida pasti segera membayangkan jubah imajinernya dan berjingkrak-jingkrak di dapur.

Bila Kakak bernyanyi tentang mahkota, Kakek akan membayangkan mahkota. Kami semua takjub melihat itu. Kami tak pernah melihat ayah kami bertingkah semenyenangkan itu, terutama saat bernyanyi lagu gerejawi. Lorenzo dan aku menyanyikan ‘’I Got Shoes, You Got Shoes’’ dan melihat Kakek segera memakai sepatu imajiner sambil mengedip ke arah kami dan menyenandungkan ‘’all over God’s heaven.’’. Lalu terdengar suara alto LausDeo meningkahi, ‘’I got a horn, you got a horn. All God’s children got a horn!’’ Di luar rumah kami, orang-orang menyanyikan ‘’Old Man River’’ dan ‘’Irene, Good Night.’’ Tapi hanya menggumamkan beberapa nada saja dari kedua lagu itu akan membuat kau terancam bahaya berupa tamparan mendadak, atau pukulan bertubi di pinggang seperti yang rutin terjadi di rumah kami, dan membuatku tercekat bermalam-malam karena aku menahan tangisku. Suara berat ayahku telah meluluhlantakkan sistem syarafku. Aku tercekat karena dia memukuli kakak-kakak lelakiku. Untuk apa? Untuk tidak menyanyikan kedua lagu itu dengan keras. Untuk mencegah benak mereka mengembara. Untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Untuk kenakalan yang mungkin mereka lakukan. Untuk jadi anak laki-laki. Untuk menghancurkan jiwa

kelelakian di dunia yang dapat menyeretnya ke sifat-sifat jahat, berkuasa, dan kelaki-lakian. Ayah menghela mereka di kepala, di depan kami semua, membelenggu lutut dan memukuli pantat mereka dengan cambuk kulit.

Bermalam-malam aku telah dihantui mimpi buruk. Dalam kegelapan, beberapa lama setelah tak terdengar detak jam, sesosok bayangan mendekat ke tempat tidur. Sesaat bergeming sebelum wajahnya seolah-olah mendekati wajahku. Kedua orang tuaku yang tidur di kamar sama hanya dipisahkan sebuah tirai, tapi seolaholah terlalu jauh untuk menyelamatkanku. Hanya Lorenzo yang tahu bagaimana sosok itu datang, bergeming sebelum mendekati muka kami, lalu berputar dan berlalu.

Keesokan paginya, kami menceritakan hal itu pada kakak-kakak kami.

‘’Apa?’’ mata Kakak melotot kegirangan.

‘’Kami lihat.’’ ‘’Tak ada hal seperti itu.’’ ‘’Benar kan, Lorenzo?’’ ‘’Um, yah!’’ Kakak-kakakku terus tertawa. ‘’Seperti apa wujudnya?’’ tanya LausDeo masih dengan tersenyum. Kulitnya lebih terang dari kulitku. Tapi kami sama-sama bermata sipit dan bibir tebal.

‘’Punggungnya bersinar.’’ Tanpa perasaan mereka tertawa sampai air mata keluar dari mata kelam mereka. Setelah berhasil mengendalikan diri untuk berbicara, mereka bertanya, ‘’ Apa yang ia lakukan?’’ ‘’Memandangi wajahku,’’ jawabku.

‘’Lalu ia berlalu ke kamar mandi,’’ tambah

Lorenzo.

`’Itu bukan hantu. Itu Papa!” Mereka bergedabikan sambil cekakakan saat aku berdiri lemas dan bertanya-tanya.

Selama ini, aku selalu ingin bergabung bersama mereka, kedua kakakku yang lahir di Florida itu. Saat aku masih janin di perut ibuku, mereka telah bersama-sama sebagai saudara dan saling berbicara. Sekarang, mereka berangkat sekolah bersama. Mereka tahu cara menelepon di telepon umum. Mereka bisa menyeberang jalan. Dan mereka dapat menyebutkan waktu. Mereka tak pernah memukulku, dan bahkan Deo tak benar-benar mengusiliku.
Tapi si Kakak! Sekali dia pernah bilang bahwa aku ini bakal mirip perempuan tua berkeriput yang menjemur pakaian sambil menghirup-hirup aromanya, dan penderitaanku akan lengkap. Ya, Kakak yang selalu membelaku lebih dari siapa pun. Dia yang meninju anak tetangga penggodaku. Dan tentu saja aku ingin menikahinya karena dia dinamakan atas nama ayah dan aku atas nama ibu: Monroe menikahi Ellease.

Itu fakta yang tak ingin aku diskusikan, bahkan dengan dia. Tahun-tahun mendatang, dia akan mengajariku aljabar dengan sabar, meluangkan sejam lebih setiap hari di musim panas, di halaman, di bawah naungan tanaman anggur.
Pada usia 13 tahun, aku bakal dapat nilai 99 dalam tes akhir, dan itu karena dia. Tapi saat usiaku 5 tahun, dia pulang sekolah sambil memegangi tangannya yang berdarah.
Tangannya terluka akibat kawat berduri.

“Kenapa kau memanjat pagar kawat?” tanya Mama padanya.

Buih peroksida dibalurkan pada lukanya.
`’Aku ingin memetik kembang untukmu.” Lukanya dijahit, tapi dia tidak menangis. Mungkin lantaran dia juga tak pernah menangis saat ayahku memukulinya lebih lama dan lebih keras untuk membuatnya menangis. Air mata mungkin saja bakal jatuh di masa-masa kedewasaannya. Tapi kenapa begitu banyak pukulan dalam cerita ini? Mungkin pada tahun-tahun mendatang, seorang guru menulis kreatif akan bertanya seperti itu. Pertanyaan retoris, dan pada saatnya aku toh harus menjawabnya. Aku akan mengingat suatu hari di sekolah dasar saat guru mengatakan, `’Saudara-saudaramu terlalu pendiam. Kau banyak bicara, Ellease, tapi saudara-saudaramu sangat pendiam.” Tapi pada bulan Juni 1948, aku benar-benar memiliki satu hari penuh keriangan. Mama memberiku buku saku yang pertama, tas bahu plastik warna putih yang berisleting. Di dalamnya ada sebuah sapu tangan dan dua penny. Dan tak lama setelah kakak-kakakku pergi sekolah, dan Papa di toko roti tengah menghias kue untukku, Mama, Lorenzo, dan aku pergi ke luar, ke jalan sempit di permukiman kaum jembel yang saat itu terlihat indah bermandikan cahaya matahari.
Sesuatu di jalan tertangkap mataku, tapi aku segera sadar tangan lembut ibuku menutupi pandangan kamera; lalu aku dengar bunyi klik ringan. (*)

Ellease Southerland, kelahiran Brooklyn, New York 1943, esais, cerpenis, dan novelis yang banyak menulis tentang cerita rakyat. Dia juga kerap menulis tentang masa kecil dan kegembiraan dalam keluarga seperti esai ini. Esai ini diterjemahkan Saroni Asikin dari `’I Got a Horn, You Got a Horn” dalam Live through Literature: A Thematic Anthology (hal.199-200) oleh Helane Levine Keating & Walter Levy, terbitan Macmillan Publishing Compay & Collier Macmillan Canada (1991)

Serat, Suara Merdeka, 8 April 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: