Home » Kolom Epilude » TOMCAT DAN JERRYMOUSE

TOMCAT DAN JERRYMOUSE

MACHICA Mochtar meradang, “Saya bisa minta maaf. Tapi syaratnya, cuci dulu kaki saya! Kemudian minum air kaki saya. Nah, itu baru saya mau minta maaf.”
Pernahkah Anda minum air bekas cucian kaki seseorang? Bahkan bila kaki yang dicuci itu berbau kesturi, Anda tetap yakin bahwa minum air bekas cucian kaki seseorang, selain tidak keren, air seperti itu mungkin hanya akan menimbulkan sakit jiwa. Dan pasti Poppy Dharsono atau Derek Manangka, tak pernah punya keinginan meminum air semacam itu.
Kita sudah tahu kisahnya. Lantaran seorang mantan pembesar negeri bernama Moerdiono, Machica dan Poppy bak “tomcat” dan “jerrymouse” (bukan serangga yang lagi populer melainkan tokoh kartun kucing dan tikus yang tersohor itu). Memang itu konflik lama. Dan peluncuran bukuĀ Pak Moer-Poppy: The Untold Story mungkin jadi hulu ledaknya. Saya belum membaca buku itu. Tapi membaca pernyataan tokoh-tokoh yang berkonflik, juga lewat tayangan televisi, saya merasa sedang diajak menonton sinetron khas Indonesia: penuh umpatan dan mata yang melotot.
Itu tentu pendapat subjektif saya. Hanya saja, bahkan dari sinetron nirbea alias tanpa harus susah-susah keluar duit itu kita bisa merenungkan sesuatu. ”Terhadap seseorang yang tidak kita sukai, bisakah Anda menceritakan yang baik-baik tentang dirinya? Kalau Anda menyadari telah melakukan suatu kesalahan padanya, dapatkah kita meminta maaf kepadanya secara tulus?”
Buat saya, itu perjuangan batin yang sangat sulit. Terhadap nyamuk yang menggigit bagian tubuh saya saja, kadangkala secara instingtif telapak tangan saya cepat-cepat menepuknya dengan geram.

***

PERNAHKAH saya merenungkan bahwa nyamuk itu menggigit karena butuh ”setitik” darah untuk hidup, dan dengan merelakan yang ”setitik” itu saya tak harus menjalani transfusi darah? Tidak. Itu mungkin lantaran di ranah bawah sadar saya ada konsepsi bahwa ”nyamuk adalah sumber penyakit; sumber penyakit adalah musuh; musuh hanya layak dibantai”.
Saya sadar, nyamuk itu hanya mengambil haknya dari tubuh saya. Maka, saya biarkan nyamuk itu kenyang sampai sulit terbang. Iseng-iseng saya menyarankan hal sama pada seorang teman. Dengan tertawa, dia bilang, “Ah kau kayak nabi saja. Sok berfilsafat pula!”
Jelas saya bukan filsuf, apalagi nabi. Jadi, mari kembali ke pokok tulisan ini, yaitu soal betapa sulitnya mengelola orang yang tidak kita sukai, lebih-lebih dengan orang yang kita anggap musuh. Jadi, bagaimana kita harus memperlakukan seseorang yang kita bencimusuhi? Orang yang masih sering meledak-ledak ketika disakiti seperti saya ini tentu tak pas untuk menjawab.
Sewaktu kuliah, saya sering menjumpai iringan semut bergerak secara sporadis di beberapa sudut kamar. Beberapa dari mereka sering kurang ajar merayapi tubuh saya dan menggigit bagian kulit yang terbuka. Gemas dan jengkel, saya bunuh para penggigit yang lalu kuanggap sebagai musuh itu. Saya melakukan perlawanan dengan menutup lubang-lubang di tembok kamar agar para semut tak bisa seenaknya menjajah wilayah saya. Tapi ”musuh” itu tak pernah jera, selalu datang mengajak ”perang”. Apa akal? Pindah kamar atau menghancurkan kamar itu sama sekali, itu solusinya. Dan itu sungguh tidak bijak, bukan?
Lantas, saya menjumput gula pasir dan menaruhnya pada salah satu sudut kamar. Semut-semut merayap dan hanya berkerumun di sekitar situ. Mereka tidak berkeliaran di semua wilayah kamar. Setidaknya, saya tak lagi mereka gigit. Saya telah melokalisasi ”musuh” itu ke suatu tempat. Dan ketika ada teman yang terheran-heran melihat pola ”lokalisasi musuh” seperti itu, saya hanya bilang, ”Mereka semut-semutku makanya kuberi makan.”
Tentu saja, saya tak pernah mencintai semut-semut yang telah kuanggap musuh itu. Itu artinya, saya belum bisa mencintai musuh-musuh saya. Tapi memberi makan musuh bukan sesuatu yang dilarang negara atau agama, bukan? (*)

masih Epilude, Suara Merdeka, 1 April 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: