Home » Kolom Epilude » S O D I K I N H O

S O D I K I N H O

PERNAHKAH, wahai Pembaca Budiman, suatu hari ketika bercermin, Anda melihat wajah yang ada dalam cermin itu mirip seseorang yang lain, yang bukan ibu atau ayah atau siapa pun yang bertalian darah dengan Anda, melainkan seorang selebritas? Kalau pernah, ucapkanlah dahulu rasa syukur, selanjutnya siapkan mental siapa tahu dalam waktu tak lama lagi Anda akan menjadi orang yang begitu tenar dan diguyur banyak keberkahan, termasuk kucuran duit.
Sodikin sudah membuktikan itu. Kemiripan wajahnya dengan pesohor sepak bola Ronaldinho membuat lelaki asal Bandung itu seperti mendadak terbang ke bulan. Itu sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan menjadi lebih heboh tatkala Fabio Cannavaro, pesepak bola yang juga tersohor, memasang foto dirinya bersama Sodikin di akun Twitter-nya: @FabioCanna17. ‘‘Il vero Ronnie,” begitu Fabio menulis. Dalam sekejap, Ronaldinho dari Tanah Parahyangan itu menciptakan linimasa di situs microblogging tersebut. Tak kurang seorang pesohor sepak bola lainnya seperti Wesley Sneijder pun memberi respons.
Popularitas memang bukan sesuatu yang gampang diraih. Ia butuh diburu dengan segala daya dan upaya yang mungkin saja dengan mengorbankan segala yang dipunyai seseorang. Tak sedikit orang yang telah gagal ketika berusaha merengkuhnya.
Namun dalam hukum kehidupan, selalu ada perkecualian. Orang macam Sodikin, Norman Kamaru, atau siapa pun juga yang menjadi sangat populer tanpa ”perjuangan superkeras” bisa saja termasuk perkecualian itu.
Perkecualian biasanya susah dinalar. Sebagai orang beriman, kita hanya harus meyakini hal itu sebagai rahasia Tuhan. Kemiripan wajah Sodikin dengan Ronaldinho adalah rahasia itu sendiri. Bagaimana bukan rahasia kalau di antara mereka tak ada pertalian darah? Entah kalau ternyata mereka punya nenek-moyang sama yang berpencaran pada zaman baheula: ada yang ke Brasil dan ada yang nyasar ke Bandung.
Pun rahasia Tuhan belaka kalau kita mau mempertanyakan siapa yang sebenarnya mirip siapa. Kita telanjur menyebut Sodikin mirip Ronaldinho sehingga nama yang diberikan Ronaldikin bukan Sonaldinho atau Sodikinho.
Maklum, Ronaldinho sudah sangat populer sebelum seorang bobotoh Persib Bandung yang ”terselip” di antara para bobotoh lain memiliki wajah sangat mirip pesohor sepak bola itu. Padahal, bisa saja sebe narnya Ronaldinho-lah yang mirip Sodikin. Cek saja, Sodikin sudah berumur 10 tahun ketika Ronaldinho lahir pada 1980. Jadi, sangat mungkin ketika Tuhan menciptakan Ronaldinho gam baran rupa yang dirancang adalah milik Sodikin, bukan? Benar-benar rahasia ilahi.

***

MESKI ada popularitas yang bisa digenggam hanya dengan abrakadabra, saya tetap meyakini bahwa popularitas tetap harus dicapai, bukan diberikan secara gratis. Coba kita baca beberapa orang yang lantas populer karena kemiripan dengan orang-orang yang telah lebih dahulu terkenal. Kiwil dan AA Jimmy tentu saja su dah melakukan perjuangan keras agar bisa mirip mendiang KH Zainuddin MZ dan AA Gym. Tak semua orang bisa meniru lagak lagu lageyan kedua kiai tersebut dengan tiruan nyaris sempurna.
Maka, saya berusaha berpra sangka baik setiap ada orang yang mendadak populer oleh suatu keberuntungan belaka. Norman Kamaru mungkin berun tung. Tapi mungkin dia sebenar nya telah ”menjudikan” hidupnya. Bagaimana bila dia sebagai polisi kariernya menanjak ke puncak sehingga popularitasnya bakal lebih dari sekadar seorang artis?
Jadi, setelah membaca tulisan ini, silakan ambil cermin dan berkacalah, siapa tahu wajah Anda mirip Antonio Bandeiras, Brad Pitt, atau Agnes Monica. Kalau wajah di cermin yang Anda pandangi itu begitu mirip Nazaruddin, Gayus Tambunan, atau Angelina Sondakh, tarik nafas dalam-dalam kalau Anda men dadak ingin menghancurkan cer min itu. Yakinlah bahwa cermin kadang-kadang menipu. Dan ditipu oleh sebuah cermin sungguh tidak keren. (*)

(masih) Epilude, Suara Merdeka, 4 Maret 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: