Home » Kolom Epilude » DUH, KANG EPUL…

DUH, KANG EPUL…

UNTUK terkenal, seseorang harus punya setidaknya sebuah prestasi. Itu pun prestasi istimewa. Dan untuk memilikinya, seseorang mesti melakukan setidaknya lebih dari sebuah upaya superkeras. Tapi itu tidak gampang, bukan?

Beberapa tahun ini, saya “terpaksa“ harus meragukan konsep pencapaian popularitas yang seperti itu. Kini, untuk jadi begitu populer, seseorang cukup melakukan aktivitas biasa-biasa saja, atau sekadar berisengiseng. Orang itu cukup megal-megol di depan komputer jinjing dan nyanyi tanpa suara, atau cukup duduk menggerak-gerakkan kedua tangan dan separuh badan meniru tarian Bollywood, atau bahkan hanya berdiri di suatu tempat.

Sesederhana itu? Bisa saja! Buktinya, anak yang baru melek televisi saja sudah kenal ShintaJojo, Norman Kamaru, dan yang paling gres Bripda Saeful Bahri si Polteng. Kali pertama mendengar sebutan “Polteng“, saya pikir itu nama provinsi atau kota yang kalau tidak Polawesi Tengah, ya Polimantan Tengah, hehehe…. Tapi bolehlah kalau itu singkatan dari “Polisi Ganteng“. Toh, sebutan Polteng enak diucap dan dituliskan, ketimbang nama dia sendiri yang entah mana yang benar penulisannya. Di internet, saya menemukan fotonya berbaju seragam kepolisian dengan nama dada “Saeful Bahri“ dan “Saeful Bachrie“. Dalam hal nama diri, akurasi begitu penting. Bayangkan kalau nama depan saya ditulis jadi “Syahroni“ atau bahkan “Syahrini“, pasti itu “sesuatu banget“ yang bukan saya, hahaha…. Okelah, entah mana yang benar dalam akta kelahirannya, tapi sebagai orang Sunda, panggilan akrabnya mungkin Epul atau Ipul. Jadi, bagusnya kita sebut dia Kang Epul saja, ya?
***

DULU, saat pertama mendengar jenis pekerjaan bernama keren umbrella girl atau gadis payung, saya sempat merasa aneh. Memayungi orang yang baru keluar dari sebuah mobil meski itu mobil balap mahal, ternyata juga sebuah pekerjaan toh? Untuk bisa punya keteram pilan memayungi orang, pasti tidak perlu sekolah, apalagi sampai perguruan tinggi yang mesti berlarat-larat bikin skripsi, belum nanti kalau keharusan menerbitkan jurnal sudah jalan. Ya, asal berjenis kelamin perempuan, punya setidaknya sebelah tangan, dan dua kaki, atau satu pun boleh dan satunya dibantu kruk, yang penting bisa berjalan, maka seseorang pasti mampu memayungi si empunya mobil.
Kalau soal kualifikasi untuk seorang umbrella girl harus gadis, cantik, menarik, langsing, tinggi, atau punya sex appeal bak memiliki mantra Sabuk Mangir, itu soal lain.

Saya memang sering dianggap nyinyir oleh teman-teman karena kerap mempersoalkan hal remeh-temeh seolah-olah heboh. Tak hanya melisankan tapi juga menuliskannya untuk para pembaca yang pasti tak suka kenyinyiran (Maafkan sahaya, Puan dan Tuan!). Tapi apa boleh buat, saya merasa aneh ketika pekerjaan atau kualifikasi tertentu hanya diukur dari sesuatu yang bersifat fisik. Sama seperti umbrella girl, ukuran yang lantas membuat heboh pada diri Kang Epul juga fisik: wajah ganteng. Suer, pembaca, saya tidak iri pada kegantengannya. Tapi apakah pembaca sepakat bahwa satu-satunya ukuran prestasi yang membuat seseorang terkenal adalah kegantengan wajah? Saya kok tidak yakin Anda bersepakat soal itu.

Jadi, saya berharap suatu saat kita mendengar banyak prestasi Kang Epul yang fenomenal sebagai polisi sehingga kariernya bisa lancar dan selalu cepat naik pangkat. Bukan tak mungkin suatu hari dia jadi kapolda atau kapolri, tetap dengan kegantengannya. Dan kalau tertarik jadi presiden, lalu terpilih berkat segudang prestasinya bukan kegantengannya, dia bisa menjadi presiden kita yang ganteng. Tapi maaf Kang Epul, kalau sudah jadi presiden, jangan suka mengeluh, ya. Nanti hilang kegantengan Akang. Masih mending tampak unyu-unyu, kalau malah mellow dan tampak selalu ingin menangis? Duh Akang, ulah gitu atuh…. (*)

(masih) Epilude, Suara Merdeka, 26 Februari 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: