Home » Kolom Epilude » ELEGI UNTUK ADE

ELEGI UNTUK ADE

BIMA merengek-rengek meminta sesuatu. Dalam kisah pewayangan, hal itu agak kurang lazim. Selain jujur dan lugas, dia itu sosok yang tak pernah mau merendahkan diri untuk dibelaskasihani. Tapi itu terjadi, setidaknya lewat antawacana Ki Anom Suroto dalam lakon Abimanyu Lahir.
Saat itu, Sembadra, istri Arjuna, melahirkan seorang bayi. Bima yang sejak mengetahui Sembadra hamil telah begitu gembira, menyambut si bayi dengan histeria kegirangan. Saking histerisnya, dia bahkan lupa akan pantangan mendekati bayi sebelum 40 hari setelah beroleh Wahyu Widayat. Tak sebersit sesal pada diri Bima meski wahyu yang dia peroleh dengan susah payah itu babar. Dia hanya meminta kesediaan Arjuna agar dia bisa mengakui sang keponakan sebagai anak angkatnya. Kalau tak diperbolehkan, ya cukup memberi nama atau merawatnya.

Tapi Arjuna, si ayah biologis, menolak. Lelaki yang dalam pewayangan dianggap sebagai sosok idaman para perempuan itu juga menampik semua permintaan Bima. Penampikan tersebut membuat Bima yang gagah itu merana dan termehek-mehek.

Kenapa Arjuna bisa “sekejam“ itu? Mungkin benar Arjuna itu landep dengkul pikirane alias bodoh seperti yang dikatakan Kresna. Sebab, si jabang bayi akhirnya hanya mau minum air yang keluar dari jari-jemari Bima. Dari situ pulalah nama Abimanyu berasal, nama yang paling populer di antara sebutan lain seperti Angkawijaya, Jaka Pengalasan, Raden Banjaransari, atau bahkan Partatenaya yang secara harfiah berarti anak si Parta (sebutan lain Arjuna).

***

BARANGKALI tak terlalu pas mengidentifikasikan mendiang Ade Namnung dengan Abimanyu. Tapi kisah yang seperti biasa dibesar-besarkan infotainment mengenai “perseteruan“ Ramon Papana, ayah angkat Ade dengan keluarga kandung sang mendiang, mengingatkan saya pada cerita kelahiran Abimanyu itu. Hubungan persaudaraan Bima dan Arjuna yang tanpa cacat dalam hampir semua lakon wayang yang dimainkan para dalang, tercoreng menyusul kelahiran si jabang bayi. Andai tak ada Kresna, kakak-beradik itu bakal terus berada dalam ketegangan.

Antara Arjuna dan Bima siapakah yang lebih berhak menyebut Abimanyu sebagai anaknya? Kalau ukurannya aspek biologis, itu jelas Arjuna. Tapi Bimalah yang akhirnya membesarkannya. Dia jugalah yang mencarikan takhta dengan merebut Kerajaan Plangkawati untuk si anak pupuh. Nah, yang secara biologis milik keluarga kandungnya mungkin bukan Ade Namnung melainkan Syamsul Effendi. Peran Ramon ikut “mencetak“ Ade Namnung tak bisa juga dinafikan. Lantas, kalau Ade punya harta warisan, sudah ada hukum yang jelas mengaturnya jatuh ke siapa. Dan Ramon tak menyangkal hal itu.

Lantas kenapa bersirebut? Aha, kalau tak ribut ya tak ramai. Kalau tak ramai, infotainment mati angin meski “makhluk“ itu cempiang bikin urusan yang bersahaja menjadi bersimaharajalela. Kalau tak bersimaharajela, mana heboh dunia hiburan?

Buktinya, kita sebagai konsumen kisah Ramon versus keluarga mendiang Syamsul Effendi itu ikut mengelus dada sambil berkata lirih, “Kenapa baru beberapa hari Ade dibaringkan di pembaringan abadi mereka sudah ribut? Kasihan Ade. Dia mungkin lebih butuh doa, madah, atau cukup sebuah elegi, bukan ‘musik ribut’ yang tidak harmonis sama sekali seperti itu.“

Ya, kasihan juga Abimanyu. Dalam perang Baratayuda, dia mati diranjap ratusan panah dengan luka arang kranjang. Bima dan Arjuna, juga semua keluarga Pandawa bergeming dalam kesedihan. Arjuna kehilangan anak, begitu juga Bima. Tapi mereka berdua sama-sama berkabung dengan kesedihan yang sama-sama dalam. Mereka tak lagi meributkan anak siapa yang baru gugur itu.

Benar, itu hanya kisah fiksi. Tapi dalam kehidupan nyata, kita juga sering perlu becermin pada sesuatu yang fiksional. Betul? (*)

Kolom (masih epilude, Suara Merdeka, 12 Februari 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: