Home » Kolom Lain-lain » BIAR REMPONG ASAL GOKIL

BIAR REMPONG ASAL GOKIL

Anggaser ngelasih palasing enasak mangasan. Kalimat itu sering saya pakai bersama teman-teman di kampung pada tahun 1980-an. Sebagai remaja di sebuah kampung di Brebes, kami bukan anak gaul dalam konteks sekarang. Belum banyak televisi, dan tayangannya pun hanya dari TVRI. Belum ada sinetron yang jadi pencetak tren berbahasa seperti sekarang ini. Bahasa gaya jakartanan sesekali kami dapatkan dari pewarteg yang pulang kampung. Itu pun sering membuat kami tak suka karena kami merasa jadi sangat udik. Kami sering meledek begini, “Wah, berapa dina di Jakarta, kok sudah betawian?”

Sebagai bukan “remaja gaul”, apakah kami tak punya bahasa pergaulan? Punya, sebab pada hakikatnya, remaja di mana pun, di metropolitan atau di pucuk gunung, selalu memiliki naluri berkreasi untuk berbeda dari yang lain. Contohnya kalimat itu. Kalau Anda mencermati “as” pada setiap kata dan menghilangkannya, maka Anda akan beroleh ”Angger ngelih paling enak mangan.” (Kalau lapar paling enak makan). Hanya dengan formula sederhana, yakni menyisipkan “as” sebelum huruf vokal terakhir setiap kata, kami sudah merasa ”gaul”, berbeda, dan ketika mengucapkannya bak ahli bahasa sandi. Dan “as” itu bisa setiap kali diganti dengan sisipan lain sesuai kesepakatan kami.

Orang lain boleh tak paham, yang penting kami bisa lancar mengucapkan dan memahaminya. Bukankah kata para ahli linguistik bahwa bahasa itu arbriter, yang berubah-ubah sesuai situasi dan kebutuhan pemakainya? Kami yang tak kenal ahli-ahli lingusitik macam Ferdinand de Saussure atau Avram Noam Chomsky, harus berterima kasih pada mereka atas pembenaran teoretisnya.

Tapi sayang sekali, tersebab kami bukan remaja gaul dalam konteks sekarang, bahasa pergaulan kami itu tidak dipakai dalam tayangan televisi. Kami tak pernah menjadi trendsetter. Padahal, sekitar dua dasawarsa berikutnya, pola yang hampir serupa dilakukan remaja metropolitan, dan hasilnya dipakai luas, baik oleh remaja maupun kalangan yang lebih tua.

Mau bukti? Cermati deretan kata ini: gokil, bokap, boker, tokai, atau bokep. Berapa dari kita yang sudah tak terkategori usia remaja begitu entengnya mengucapkan, “Oh, dia memang gokil.” tapi tak pernah (berusaha) tahu asal kata “gokil” untuk arti ”gila yang positif”? Ya, ada pencetak tren, lalu kita hanya memakainya begitu saja.

Kata ”gila” diambil tiga huruf pertama ”gil” dan setelah huruf pertama, ada sisipan ”ok”, jadilah ”gokil”. Untuk kata yang hanya terdiri atas tiga huruf, cukup memberi sisipan ”ok” seperti (maaf) ”tai” yang menjadi ”tokai”. Lalu bagaimana bisa BF (blue film) bisa menjadi ”bokep”? Inilah asyiknya kreativitas para pencetak bahasa baru. BF diambil ucapannya dalam lidah Indonesia menjadi ”be-ep”, dan rupanya karena tak suka ada dua vokal sama berurutan, jadilah hanya ”bep”. Pola yang ada lalu menghasilkan ”bokep”.

Apakah kecenderungan itu memperkaya bahasa? Saya bukan ahli bahasa, tapi saya yakin kata-kata baru itu memperkaya kosakata kita. Meski begitu, saya tetap merasa asing ketika misalnya mendengar kalimat-kalimat ini: “Omigod, WC-nya gokil abis, nggak bau tokai. Jadi enak nih boker-nya. Bisa mbayangin bokep. Bokap mau mokar-mokar, egp lah….”

 Bahasa Alay

Belum juga habis keheranan kita oleh kemunculan bahasa khas pergaulan, kita dihadapkan pada pola berbahasa baru dari (umumnya) remaja baru (ABG) yang disebut bahasa alay. Alay sering diartikan sebagai anak layangan atau anak lebay.

Ambil contoh kalimat ini: “Gaiia al4y phalynx byk dip4ke: p39aNg kAm3ra, b12r m4nyund 5oq imyuut… cyumand koq j3n9G0dtanh iiiaa?!” Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mengenali maksud ”Gaya alay paling banyak dipakai: pegang kamera, bibir manyun sok imut… cuman kok jenggotan ya?”

Ya, kalau lomba cepat-cepatan membaca itu, kita harus siap kalah dari anak usia 11 atau 12 tahun. Saya kadang heran dari mana asal ide mereka mengganti kata yang sudah ada menjadi deretan huruf kecil, besar, angka, dan simbol. Pasti mereka rempong (berumit-rumit) saat menuliskannya. Tapi pasti pula, ke-rempong-an itu membuahkan ke-gokil-an. Mereka merasa berbeda. Jadi, biar rempong asal gokil.

Tapi kita, khususnya guru dan pakar bahasa Indonesia, mungkin ”k3bAk4ran j3n9G0d” terhadap kecenderungan itu. Itu lantaran kita mencemaskan ”kematian” bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi pernahkah kita berintrospeksi, jangan-jangan kita yang tidak lagi remaja yang memulainya? Coba siapa yang kali pertama membuat pelat nomor kendaraan dengan gaya alay yang memaksa. Sekadar sebut saja, H 4 RI, R 1 NI, A 60 ES, atau B 37 O.

Saya bisa memahami kecemasan para guru atau pakar bahasa ketika mencermati perkembangan bahasa remaja. Mereka membayangkan suatu next generation yang payah cara berbahasanya. Mereka mempertanyakan kecintaan remaja terhadap bahasa Indonesia.

Ya, saya mendukung usaha semua pihak yang tak lelah-lelah mengampanyekan cara berbahasa yang baik dan benar, lebih-lebih untuk kalangan remaja. Tapi menurut saya, kita tak perlu terlalu rempong dan jadi jutek memikirkan usaha televisi menginisiasi bahasa lebih afdal ketimbang para pakar bahasa. Contoh lain, para pakar bahasa yang menyadari adanya net generation dan internet sudah menjadi bagian hidup kita itu telah menawarkan misalnya kata-kata ini: daring, tetikus, dagol, unduh, atau unggah. Tapi kita pun lebih suka memakai ”online (onlen/OL), mouse, flashdisk, download (donlot), atau upload (aplot).

Di luar itu, sebaiknya, kita tak perlu menyebut bahasa para remaja itu ecekeblek (tak jelas). Sebab saya yakin, begitu sudah tidak remaja, cara mereka berbahasa akan berbeda. Jadi, nyantai aja, Coy! Ngapain rempong segala. (*)

Saroni Asikin, Wartawan Suara Merdeka penyuka bahasa

SUARA MERDEKA, 2 OKTOBER 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: