Home » Kolom Epilude » JULIA PERSSIK, DEWI PEREZ

JULIA PERSSIK, DEWI PEREZ

WAKTU SD, dalam acara api unggun kemah Pramuka, saya diminta guru jadi sutradara drama dengan pemain teman-teman sekelas. Lakonnya sederhana saja. Itu pun dibuat menjelang pentas hanya lewat rembukan di antara kami. Ada seorang pencuri sial tepergok massa, dan si pencuri dipukuli. Sebelum tampil, kami sudah sepakat bahwa pukulan itu hanya main-main. Kalau terpaksa kena tokoh pencuri, ya tak boleh keras-keras.
Rupanya ada pemain yang memukul betulan dan keras-keras ke teman ”pencuri” itu. Tidak terima, ”si pencuri” itu membalas. Hancurlah drama itu karena pukul-memukul di arena pentas bukan lagi akting melainkan perkelahian sebenarnya, sampai-sampai beberapa guru melerai. Itu kali pertama saya jadi sutradara teater, dan gagal total! Hikmahnya, saya sadar, saya ini tak pantas jadi sutradara kekerasan, hehehe….
Setahu saya, di antara penonton drama kacau itu tak ada Dewi Perssik (Depe) atau Julia Perez (Jupe). Itu tahun 1981, dan Depe baru lahir empat tahun kemudian. Jupe pun baru berusia satu tahun, dan seingat saya tak ada anak seusia itu di antara penonton. Jadi, saya tak boleh ”sesumbar” kalau drama yang saya sutradarai secara gagal itu menginspirasi keduanya untuk berkelahi betulan saat akting untuk syuting film Arwah Goyang Karawang. Lebih-lebih lagi, mana mungkin kedua artis top itu mau bertingkah gaya anak-anak SD seperti kami ketika itu.
Kedua teman saya yang berkelahi itu memang sempat tak mau saling bicara. Hanya semalam saja. Keesokan harinya, mereka sudah tertawa bersama ketika keliru membaca tanda saat mengikuti acara ”Mencari Jejak”.
Barangkali itulah asyiknya jadi kanak-kanak. Kalau pun berbaku hantam sampai sama-sama babak-belur dan menangis, keesokan harinya bisa main layang-layang atau cari belut bareng. Pun tak perlu berurusan dengan kepolisian. Depe dan Jupe sudah bukan kanak-kanak lagi, jadi perkelahian mereka itu soal serius dan perlu melibatkan kepolisian.

***

YA, orang dewasa kadang suka merumit-rumitkan diri. Setidaknya itu kata Antoine de Saint-Exupery dalam Le Petit Prince (Pangeran Kecil). Orang dewasa, tulis dia, selalu butuh penjelasan-penjelasan yang logis, dan itu sering menciptakan kerumitan. Tapi dengan kerumitan itu, mereka bangga karena merasa selalu bersikap logis.
Itu berbeda dengan kanak-kanak. Mereka bisa bebas berfantasi tanpa harus mempertanyakan logis-tidaknya fantasi itu. ”Kutunjukkan karya besarku pada orang-orang dewasa dan bertanya pada mereka apakah gambarku itu membuat mereka takut. Mereka malah menjawab, ‘Kenapa sebuah topi bisa membikin takut?”’ begitu tulis Saint-Exupery. Itu karena orang dewasa tak bisa melihat gambar mirip topi sebagai ular boa menelan seekor gajah besar seperti yang dimaui tokoh aku. Sebab, orang dewasa selalu butuh penjelasan rumit.
Saya tak bermaksud mengatakan Jupe dan Depe membuat rumit diri mereka dengan saling melaporkan ke kepolisian. Tapi mungkin mereka sudah kehabisan kalimat, ”Oke, cukup sampai di sini saja. Kita berdamai.” Ya, tampaknya mereka tak merasa cukup dengan kesepakatan seperti itu. Apa pasal? Mereka merasa ingin disebut sebagai ”yang benar” dalam suatu kasus. Ini yang tak ada dalam diri dua teman saya yang berkelahi di arena pentas. Masing-masing tak perlu ingin menunjukkan dirinyalah yang benar.
Kisah seperti Depe-Jupe itu sudah beberapa kali kita dengar dari kalangan artis. Ketika kasus bergulir dan diperbincangkan, sebagian kita yakin, itu semata sebuah sensasi. Ini seperti ucapan Depe bahwa Shankar RS, produser Arwah Goyang Kerawang sengaja memanfaatkan perseteruan dua pemain dalam film itu sebagai sensasi untuk berpromosi. Entahlah, yang jelas Shankar bukan guru-guru SD saya yang mampu melerai pertikaian dua orang muridnya.
Kalau soal sensasi, sama-sama kita tahu, baik Depe atau Jupe, termasuk beberapa artis yang piawai memainkan itu. Lihat saja, nama singkatan mereka saja mirip, bahkan kalau misalnya saya mengusulkan mereka bertukar nama jadi Julia Perssik dan Dewi Perez. Sensasi mereka paling gres misalnya, foto topless Depe di internet, atau rencana bra laser Jupe yang tak jadi dipakai saat nonton Final AFF Leg Kedua di Stadion Gelora Bung Karno akhir tahun lalu.
Memang tak mudah menyatukan dua orang dengan tabiat dan karakter serupa. Itu sebabnya para pelatih sepak bola sering tak mau menurunkan dua striker bertipe sama. Lebih-lebih saya, menyutradarai anak-anak kecil saja gagal, apalagi bila harus berhadapan dengan orang dewasa macam Jupe dan Depe secara bersamaan. Kalau sendiri-sendiri sih…hahaha….(*)

Epilude, Suara Merdeka, 23 Januari 2011


5 Comments

  1. Reny Indarti says:

    Epiludenya kok gak nongol lagi di Suara Merdeka minggu knapa?Padahal tulisannya selalu satwaya tunggu lho untuk refresh pikiran.Buat senyum di minggu pagi buat ngetawain diri sendiri juga.2tumb bwat Bung Asikin.Saya tunggu Epiludenya

    • Terima kasih, Mbak Reny, atas penyimakan Anda selama ini. Memang kami mengubah format halaman. Jadi, epilude (semoga sementara saja) menghilang. Saya ingin memindahkannya ke blog ini. Tapi mungkin tak rutin setiap minggu. Semoga kali lain, saya munculkan kolom sejenis, mungkin tak hanya berkisar dalam dunia hiburan.
      Salam.

  2. strght says:

    iya mas, satu-satunya yang bikin saya baca koran ya itu, kolom epilude-nya mas…
    oh ya mas, saya masukin blog epilude99 mas di blogroll saya ya….?

  3. Silakan masukkan di blogroll Anda. Terima kasih atas apresiasi Anda

  4. ayah gandhi says:

    hahahaha,,, memang pada dasarnya manusia 1 bentuk tp tak sama,, tak sama d otaknya,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: