Home » Kolom Epilude » INISIAL BEBY

INISIAL BEBY

WAKTU porkas dan togel jadi sarana bermimpi tanpa perlu tidur, yang panen rezeki tak hanya bandar, agen, atau penjual kertas ramalan, tapi juga dukun. Ketika beberapa teman dan tetangga punya ”tradisi” meminta nomor jitu pada para dukun, saya pernah iseng bertanya pada mereka. ”Kalau dukun itu tahu nomor yang bakal keluar, kenapa dia tidak memasang sendiri? Ia pasti menang, dan kalau taruhannya besar, ia bakal kaya raya dan tak perlu jadi dukun lagi.”
Saya selalu mendapat jawaban seperti ini. ”Dukun tidak boleh ikut memasang nomor yang diramalnya sendiri. Pamali. Dia bisa mengarahkan keberuntungan untuk orang lain, tapi tidak untuk diri sendiri.”
Terserahlah apa dalih Mbah Dukun. Yang jelas, meski sudah ke dukun, kebanyakan pemasang nomor itu bukanya untung malah buntung. Sebaliknya, para bandar dan agennya pesta kemenangan.
Meski selalu gagal, banyak yang tak bosan pergi ke dukun. Alih-alih menyalahkan sang dukun, mereka mengatakan kegagalan itu berasal dari ketidakmampuan mereka menafsir bahasa simbol dari mulut sang dukun. Konon, dalam hal tebak nomor, dukun tak memberi angka-angka tetapi simbol-simbol. Dengan begitu kalau ditanya seputar kegagalannya, sang dukun cukup berdalih, ”Jangan-jangan Sampeyan keliru menafsirkan simbol-simbol saya. Tapi jangan khawatir, saya akan tetap membantu Sampeyan.”
Hmm, agaknya mereka yang sering disebut sebagai ”orang pintar” itu cenderung punya tabungan dalih segunung, dan menyukai bahasa simbol (konotasi), apalagi kalau itu berkaitan dengan ramalan. Dan kita dituntut pintar-pintar menafsirkannya.

***

BEBY Djenar, juru terawang yang digadang-gadang jadi pengganti Mama Lauren, juga menyukai bahasa simbol ketika meramal. Berbeda dengan para peramal seperti Jayabaya atau Nostradamus, bahasa simbol Beby sangat tidak puitis, dan sebenarnya mendekati sebuah prosa. Pasalnya, dalam ramalannya lewat kartu tarot, dia sudah menyebut nama tertentu, tetapi dengan menyembunyikannya lewat inisial. Ya, persis polisi ketika menyebut tersangka.
Beberapa waktu lalu Beby bilang, di tahun 2001 ada artis yang begitu muncul langsung melesat ke puncak popularitas. Dia menyebut sang artis berinisial H. Yang menyukai berita dunia hiburan pun penasaran. Sesuatu yang ”terang-terang gelap” atau ”gelap-gelap terang” seperti itu memang memantik keinginan tahu orang. Dalam hal ini, kemampuan Beby untuk membuat penasaran orang lain sudah terbukti. Sebab, orang bersegera mereka-reka siapa H itu. Saya tak mereka-reka siapa dia, sebab saya sudah tahu, orang berinisial H itu pasti bukan Haroni Hasikin, kalau Heby Henar sih mungkin, hahaha….
Bagaimanapun, tak mungkin kita meminta kepastian pada seorang peramal. Sebab, ramalan bukan kepastian. Apa yang mereka katakan selalu dalam bentuk ke-akan-an atau ke-bakal-an. Jadi, kalau tak terbukti, mereka tak bisa sepenuhnya disalahkan. Juga bisa berdalih. Itu berbeda ketika saya sedang ingin iseng mengaku sebagai peramal jitu dengan mengatakan, ”Yakinlah, Kawan-kawan, dua hari setelah hari Minggu adalah Selasa.”
Saya yakin mereka bakal percaya. Kalau tidak, saya bakal bersedih karena harus mengajari mereka cara menghitung hari. Sebab yang jago ”menghitung hari” itu Kris Dayanti yang kata Mbah, eh Mbak Beby Djenar bakal melangsungkan pernikahan dengan Raul Lemos tahun ini. Hanya saja terhadap ramalan yang ini, orang yang tak bisa meramal pun pasti akan bilang begitu. Pasalnya, berita mengenai hal itu sudah beredar lama. Yang saya herani, wartawan yang menuliskan ramalan itu tak menanyakan lebih lanjut kepastian tanggalnya. Tapi biarlah, sebab kalau ditanya soal kepastian itu, Beby mungkin perlu waktu sebentar untuk BBM-an ke Kris Dayanti. Toh sebagai peramal, Beby sudah menunaikan tugasnya dengan mengatakan ”akan” bukan ”pasti”.

***

SEBENARNYA, kenapa kita menyukai ramalan? Barangkali para filsuf bisa menjawab hal itu. Mereka mungkin bilang, itu karena hidup kita selalu berada dalam ketidakpastian dan butuh suatu panduan untuk tahu mengenai kepastian itu. Atau bisa saja, kita menyukai ramalan untuk semata iseng. Dan keisengan sering juga diperlukan, bukan? Yang jelas, di koran-koran atau majalah, rubrik zodiak, horoskop, dan sejenisnya selalu disukai pembaca.
Apakah ramalan perjodohan, perceraian, atau karier para artis yang kini sering ditanyakan para juru infotainment pada Beby Djenar juga semata iseng? Entahlah. Tapi saya lebih suka begitu. Sebab, jawaban Beby, entah iseng atau benar-benar berdasarkan bacaan kartu tarotnya, akan lebih melegakan buat saya ketimbang dia ikut-ikutan Mama Lauren menakut-nakuti kita soal bencana atau kerusuhan lewat terawangannya. Saya bakal suka kalau dia bilang 2011 sebagai Tahun Kelinci ini bakal didominasi oleh energi cinta yang besar. Cinta selalu lebih menggairahkan ketimbang bencana, bukan? (*)

Epilude, Suara Merdeka, 9 Januari 2011


2 Comments

  1. nurrahman18 says:

    Wah udah nongol di koran sepi pembaca,saya komen pertamax deh OM,hehehehe

  2. safrowi says:

    Saya baca saja ah, tidak usah komentar apa2. hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: