Home » Kolom Epilude » L A N U N

L A N U N

MESKI ada dalam kamus, kata ”lanun” jarang dipakai sehingga lumrah kalau tak banyak dari kita yang tahu artinya. Coba tanyakan pada Upin dan Ipin, mereka bakal sigap menjawab. Tapi ups… sebentar! Hari-hari ini kita lagi peka pada segala hal yang ”berbau” Malaysia. Lha wong untuk menyebut namanya saja, banyak yang memplesetkannya jadi ”malingsia”, kok. Apalagi kalau sampai memuja dan memujinya, kita mesti punya daya tahan dahsyat untuk jadi sansak makian plus cap ”tidak nasionalis”.

Sama-sama kita tahu, Stadion Bukit Jalil Kuala Lumpur pada 26 Desember lalu, alih-alih menjadi ”theatre of dream” buat Timnas dan kita semua, dalam setengah jam justru menjadi ”theatre of nightmare” lewat dua gol Safee dan satu gol Ashari ke gawang Markus Haris Maulana, dan juga lewat laser hijau. Kita kalah dan marah.

Sebagian besar dari kita yakin, Timnas dikalahkan oleh ”Pendekar Laser Hijau”, dan atas anggapan itu kalau menilik isi Twitter atau Facebook, kita bisa menyimpulkan adanya kebencian tak terperi pada si jiran kita yang satu itu. Ucapan galak ”Ganyang Malaysia” yang dipopulerkan Soekarno, bermunculan lagi, terutama menjelang partai Final Leg Kedua pada 29 Desember lalu di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Apa daya, lalu kita mendapati kenyataan Timnas gagal memboyong trofi.

Ya, barangkali ajang AFF 2010 hanyalah puncak kekesalan yang sudah kita pendam sejak lama. Kita sudah kesal sejak lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan, dan klaim Malaysia atas batik, reog, dan tari pendet. Belum lagi kalau ditambah kisah penganiayaan para pekerja kita oleh taoke-taoke di sana.

Apakah kemarahan kita terhadap Malaysia mirip dengan saat lambang negara kita, ya Garuda, mereka injak-injak? Penghinaan yang begitu melukai harga diri Soekarno sebagai Presiden RI sehingga pada 27 Juli 1963, dia berteriak lantang, ”Yoo… ayoo… kita… Ganjang…Ganjang… Malaysia. Ganjang… Malaysia. Bulatkan tekad. Semangat kita badja. Peluru kita banjak. Njawa kita banjak. Bila perlu satoe-satoe!”

Mungkin tidak. Mungkin berbeda. Saya tak tahu, sebab saya belum mengalaminya saat itu. Ya, jangankan mengalaminya, mendiang ayah saya saja saat itu pun belum bertemu ibu saya, hehehe….

***

BELUM reda kemarahan itu, muncul Imaniar, seorang penyanyi kita, yang lagu miliknya dinyanyikan tanpa permisi oleh penyanyi Malaysia bernama Misha Omar. Menyanyikan lagu orang dan menjualnya untuk kepentingan sendiri sama saja mencuri karya.

Kalau ingin istilah lebih dashyat, Misha dan semua yang terlibat itu perampok lagu. Kalau ingin lebih dahsyat lagi, mereka adalah perompak lagu. Nah, ketika memikirkan itulah saya teringat kata ”lanun” yang jarang kita gunakan, tapi sering digunakan orang sana. ”Lanun” adalah bajak laut alias perompak. Mending kalau lanunnya macam Jack Sparrow yang membuat teror di Perairan Karibia. Jangan-jangan ini model lanun cemen seperti Jarjit yang bertekuk lutut pada Hang Upin dan Hang Ipin seperti terceritakan dalam serial yang sempat membuat beberapa orang tua melarang anaknya menonton hanya lantaran itu made in Malaysia.

Kalau dalam lirik lagu dangdut, perompakan lagu milik Imaniar itu mirip ”menyiram luka dengan air garam”. Saya bisa memaklumi, sebagian dari kita menganggap orang Malaysia cuma bisa ”merompak” milik kita. Tak bisa bikin batik seadiluhung batik kita, mereka cukup licik dengan mematenkannya. Syukurlah mereka kecangar, karena UNESCO lalu mengakui batik itu milik kita. Tak bisa menciptakan kesenian macam tari pendet dan reog, cukup koar-koar ke dunia internasional bahwa mereka maestronya. Siapa yang tak kesal, kalau kita yang berpulut-pulut, mereka yang makan nangkanya?

Imaniar menciptakan lagu ”Semoga Abadi” pada tahun 2000. Saya melihat klip video lagu itu dalam versi Misha Omar lewat Youtube sembari menyimak liriknya. Persis, tak satu suku kata pun yang berbeza, eh berbeda. Kalau sedikit lebih cerdas, kata ”kusadari” dalam baris kedua lagu itu, Misha lafalkan jadi ”kusedari”. Paling tidak seperti itulah ketika Siti Nurhaliza bernyanyi. Kata ahli musik, plagiarisme alias penjiplakan dalam lagu terjadi kalau minimal kemiripannya delapan (8) bar. Ini malah semuanya. Jadi, kalau bukan perlanunan, lalu apa?

Sebelum Imaniar, sudah beberapa lagu kita dibajak mereka. Sebut saja ”Tahukah Kau” karya Igor (Saykoji) atau ”Cari Jodoh” milik Wali. Waduduh, masak untuk ”tahu” dan ”cari jodoh” saja mereka tak becus sampai harus, misalnya, ”mengambil” Manohara? Atau, jangan-jangan sebenarnya orang Malaysia begitu kagum dan ingin seperti kita. Jadi, kalau tak bisa dengan cara baik-baik, ya pakai model lanun. Ih, nggak kita banget deh! (*)

Epilude, Suara Merdeka, 2 Januari 2011


3 Comments

  1. Reny Indarti says:

    13 februari tak kujumpai lagi tulisan Bung Asikin.Epilude yang biasa kubaca kucari kubolak balik koran takut terlewat hasilnya ….nihil.Akhirnya tumpukan koran jdi sasaran selanjutnya.Blum puas jga pinjem laptop anaku wong jaman modern kok berpeluh-peluh nyari koran minggu cma buat memuaskan hasrat senyum.Tulisan lama masih ap tu det kok.

  2. Andank says:

    Kemanakah untaian kata2 Kang Saroni Asikin di lembaran koran tiap minggu itu????

  3. saroni asikin says:

    Tunggu ya. Lagi gontaganti rubrik. Terpaksa kolomnya ngumpet dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: