Home » Kolom Epilude » L U P A

L U P A

TAHUN lalu, menjelang pergantian tahun 2009 ke 2010, ada yang saya tunggu dengan harap-harap cemas. Apa? Jelas bukan bonus akhir tahun atau transferan nyasar dari orang macam Gayus Tambunan melainkan ramalan Mama Lauren lewat tayangan infotainment. Saya berharap cenayang yang jadi seleb itu mewedarkan ramalan baik-baik untuk satu tahun selanjutnya. Saya cemas kalau yang keluar dari mulutnya cuma perulangan ramalan tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak bikin cemas saja.
Sebenarnya, saya bukan orang yang taklid buta terhadap ramalan seseorang. Selain tidak suka menyodorkan diri untuk diramal, kalau kebetulan ada peramal yang kelebihan waktu meramal saya secara cuma-cuma, prinsip saya cuma begini: senang dan percayai saja ramalannya yang bagus-bagus, dan buang ke laut ramalan yang jelek-jelek. Itu semata biar saya tak menghitung hari dalam gelimang kecemasan.
Sayangnya, selama beberapa tahun Mama Lauren selalu mengabarkan berita kecemasan lewat ramalannya. Sayangnya lagi, beberapa ramalannya diakui cespleng oleh orang-orang yang memercayainya. Walhasil, bak ritus rutin, setiap menjelang pergantian tahun, para pekerja infotainment selalu merubungi si Oma.
Ya, saya sih bisa abai sama sekali terhadap semua ucapan cenayang itu. Boleh saja saya anggap angin lalu ketika dia bilang ”Pulau Jawa bakal terbelah dua” atau ”Pulau Madura bakal tenggelam”. Buktinya, saat menulis ini, meski ada beberapa bencana, Pulau Jawa masih utuh, kan?
Tapi ketika anak saya jadi cemas dan gelisah, bahkan sampai tak bisa tidur setiap habis mendengar ramalan si Oma terutama soal bencana demi bencana, apa ya saya tak boleh ikutan cemas? Setidaknya, saya mencemaskan anak saya yang cemas karena ramalan itu.
Sudahlah, yang jelas tahun ini saya tak lagi mendengar ramalan setahun ke depan dari Mama Lauren. Dia sudah berpulang, Mei lalu. Dan saya berharap, kalau nanti ada tayangan atau tulisan di koran atau majalah perihal ramalan, semoga isi semua ramalannya serbabaik, dan kita menyongsong tahun 2011 dengan banyak rona cerah di muka.

***

MARI bicara soal lain. Usia kolom Epilude ini belum juga setahun. Ketika baca-baca kembali yang sudah pernah dimuat, saya menjumpai banyak dinamika menarik seputar dunia showbiz kita. Tapi bisa saya sebutkan adalah betapa cepatnya sebuah isu atau kasus berganti, dan begitu cepat pula kita melupakannya.
Itulah sebabnya media massa punya tradisi menayangkan atau memuat sebuah kaleidoskop. Dalam KBBI, salah satu makna kaleidoskop adalah ”aneka peristiwa yang telah terjadi dan disajikan secara singkat”. Tujuannya jelas: mengingatkan kita akan banyak hal yang barangkali sudah kita lupakan dalam setahun. Dalam wilayah politik dan hukum, berapa kasus dan peristiwa yang belum selesai tapi sudah dilupakan?
Wilayah showbiz pun punya kecenderungan sama. Berapa kasus dan peristiwa yang begitu mudah kita lupakan? Yah, sekadar meniru sebuah kaleidoskop, saya ingin menyebutkan beberapa hal yang sudah pernah saya tulis. Misalnya, bagaimana kabar hubungan Anang-Syahrini? Bagaimana kabar orang-orang yang mau berdoa kalau mereka tidak berpacaran dan bahkan menikah? Belum juga ada realisasi soal demo itu, Anang sudah ”berselingkuh”, eh berduet dengan anaknya sendiri.
Bagaimana juga kabar ”pertikaian” KH Zainuddin MZ dengan Aida Saskia? Ah, sudahlah, masih banyak lagi kasus yang terlupakan karena kemunculan kasus baru. Untungnya, ketika Epilude ini hendak dijadikan kolom berkala mingguan, tujuannya tidak muluk-muluk. Hanya semacam sentilan tanpa ”sentilun” terhadap kisah-kisah di kalangan pelaku dunia hiburan. Syukur bisa menyentil sekaligus menghibur. Kalau tidak, maapin ane, ya…. Hahaha.
Yang jelas, karena mudah melupakan sesuatu yang telah lewat, kita butuh orang lain untuk mengingatkan. Itulah pentingnya proses saling mengingatkan. Dan karena sering dan mudah lupa pula, setiap menjelang pergantian tahun, selain kaleidoskop, sebagian orang butuh menuliskan catatan resolusi mengenai keinginan, harapan, dan hal-hal yang wajib dilakukan selama setahun mendatang. Yah, semacam reminder.
Konon, salah satu gejala kepikunan adalah karena otak kita jarang dipakai untuk mengingat-ingat. Dan saya yakin, Anda tak pernah mau mengalami kepikunan, apalagi kepikunan dini. Hehehe. Selamat menyongsong tahun 2011 dengan bergelimang optimisme, ya….(*)

Epilude, Suara Merdeka, 26 Desember 2010


1 Comment

  1. safrowi says:

    ditulis tahun lalu, tapi dibaca masih enak jg. kalo dimakan ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: