Home » Kolom Epilude » IBU AYU

IBU AYU

KALAU suatu ketika, anak kita menyapa diri kita secara formal, misalnya ”Halo, Pak X, Ibu Z”, apa reaksi kita? Mungkin kita tertempelak. Sebab, sebagai keluarga, lumrahlah kita membayangkan sebuah sapaan yang intim dan mesra. Dan bahasa kita memberi banyak alternatif. Sebut saja Bapak, Ayah, Papa, atau Papi dan Bunda, Ibu, Mama, atau Mami. Kalau ingin nginggris, ya ada Daddy, Mammy, dan Mommy.
Sapaan formal untuk orang yang dekat, apalagi yang dalam garis darah, pasti memunculkan ketidaknyamanan. Inilah yang saya sebut tertempelak.  Dan saya yakin, Ayu Azhari pasti tertempelak saat Sean Azad bilang, ”Selamat tinggal, Ibu Ayu.”
Sean adalah anak Ayu. Di kolom ini, dalam tajuk Ayu dan Daud, saya pernah menuliskan ihwal konflik mereka. Di situ juga ada ”kekhawatiran” saya seandainya Sean yang ketika itu dilaporkan Ayu ke polisi karena diduga mencuri uang ibunya sebesar 50 ribu dollar AS tersebut bakal menyimpan dendam.
Apakah ucapan Sean yang berkesan biasa itu merupakan letupan dendamnya pada sang ibu? Entahlah. Yang pasti, ucapan Sean mengungkap ketidakharmonisan hubungan ibu dan anak. Kalau mau ekstrem, ucapan itu bisa disebut sebagai penolakan pengakuan Sean bahwa Ayu adalah ibu kandungnya. Ayu bagi Sean, setidaknya lewat ucapan itu, hanyalah orang dewasa asing yang dia kenal namanya saja.

***

YA, ibu mana yang tak bersedih hati manakala anaknya sendiri tak mau ”berdekat-dekat”?  Ayu memang punya enam anak. Tapi saya tak yakin, dia tak bakal merasa kehilangan kalau salah seorang dari mereka, misalnya, tak pulang ke rumah.
Gandari yang memiliki seratus anak (Kurawa) pun tak pernah ingin kehilangan salah seorang dari mereka.  Bahkan ketika dia tahu, anak-anaknya tengah menggali kuburnya sendiri ketika terus-menerus berkonflik dengan Pandawa, dia masih berupaya untuk mencegah, setidaknya mencegah agar anak yang seratus tak berkurang seorang pun.
Dan pasti tak seenteng dan seringan kalau anak-anak kita berdendang, ‘’Tek kotek kotek, anak ayam turun sepuluh, mati satu tinggal sembilan.’’
Buat Ayu Azhari, ini mungkin yaumul huzni alias tahun kesedihan. Setelah gagal dalam pencalonan pilkada, secara berurutan anak-anaknya ”merongrong” kekuasaannya sebagai ibu. Bayangkan, tiga dari enam, atau separuh, secara nyata mengibarkan bendera ”pemberontakan”. Axel, anak tertua dari perkawinannya dengan Wisnu Djody Gondokusumo menuntut hak waris. Sean dan Atiq, dua anak dari Teemu Yusuf Ibrahim yang meminta tinggal di Finlandia, tempat ayah mereka.
Banyak dari kita berkomentar, semua yang dialami Ayu adalah buah perilakunya sendiri. Dia ngunduh wohing pakarti.  Setelah menikah dengan Mike Tramp, Ayu lebih banyak mengurusi suaminya dan dua anak buah perkawinan itu, dan ”menelantarkan” empat anak dari dua suami terdahulu. Ayu juga disebut-sebut sering melakukan kekerasan secara psikologis kepada empat anak itu.
Kalau menyimak reaksi, juga ucapan anak-anak yang ”terbuang” itu, kita bisa saja dengan gampang mengatakan Ayu bukan ibu yang baik. Dia sama sekali jauh dari gambaran seorang ibu yang melindungi anak-anaknya. Kalau mau ekstrem, kita bisa membandingkannya dengan ayam betina yang mati-matian melindungi anak-anaknya yang selain berbeda-beda warna bulu, sangat mungkin berasal dari telur hasil pembuahan beberapa jago.
Di kalangan pesohor, bukan cuma Ayu saja yang tertempelak digugat anaknya yang remaja.  Ada Arumi Bachsin dan Aurelie Moremans dengan orang tua mereka. Di luar para pesohor, mungkin banyak kejadian serupa.
Dan hal itu bisa saja terjadi pada kita. Perlukah kita, para orang tua mencemaskan hal itu? Boleh, tapi mungkin tak perlu kalau kita rawe-rawe rantas malang-malang putung terus-menerus membangun hubungan yang mesra dengan anak kita. Tak mudah, memang, tapi itulah konsekuensi sebagai orang tua, bukan? (*)

Epilude, Suara Merdeka, 19 Desember 2010


2 Comments

  1. Ayaaah says:

    Lihat website ini :
    http://roby.tremonti.webobo.biz
    untuk mengnerti kasus Aurélie Moeremans.
    Benar-benar.

    • Terima kasih atas info Anda. Setidaknya, saya bisa mengerti kasus itu.
      Tapi semangat tulisan ini adalah seperti yang saya tulis di alinea terakhir: “Dan hal itu bisa saja terjadi pada kita. Perlukah kita, para orang tua mencemaskan hal itu? Boleh, tapi mungkin tak perlu kalau kita rawe-rawe rantas malang-malang putung terus-menerus membangun hubungan yang mesra dengan anak kita. Tak mudah, memang, tapi itulah konsekuensi sebagai orang tua, bukan?” (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: