Home » Kolom Epilude » MENDADAK IRFAN

MENDADAK IRFAN

SETAHU saya, tak ada pemain sepak bola Timnas yang ”mendadak seleb” seperti Irfan Bachdim. Tidak juga Bambang Pamungkas, atau dulu Kurniawan Dwi Yulianto. Keduanya butuh unjuk bola beberapa kali dulu untuk merebut hati pencinta sepak bola nasional. Tapi memang, setiap orang punya daya pikat dan keberuntungan yang berbeda-beda, bukan?

Irfan mungkin memang beda. Waktu kali pertama main dalam Timnas lawan Malaysia di pertandingan pembuka Piala AFF 2010, dia seperti memenuhi ujaran Julius Caesar: ”Veni, vidi, vici”. ”Aku datang, aku melihat, dan aku menang”. Timnas tak hanya menang telak 5-1, dan Irfan pencetak gol terakhir, tapi dia juga memenangi hati suporter timnas kita. Suporter cowok memuja, yang cewek, gandrung. Setidaknya itu terbaca lewat Twitter. Infotainment juga mengamini. Di atas, saya sudah menyebut soal daya pikat dan keberuntungan yang berbeda-beda dalam diri setiap orang. Irfan punya daya pikat itu. Meski seandainya dia tak berkiprah di sepak bola, tampangnya saya yakin jadi rebutan rumah produksi sinetron atau biro iklan. Lebih-lebih dia indo. Sudah sejak lama, dunia hiburan kita itu booming sosok berwajah blasteran. Dan kebanyakan blasteran dengan ras kaukasian. Saya belum pernah tahu ada indo-afrikan yang muncul sebagai artis (kalau Anda punya informasi soal itu, jangan lupa berbagi dengan saya, ya?)

Apakah Kurniawan Dwi Yulianto (bukan Kim Jefri kurniawan, nama lain yang mungkin bakal menyusul Irfan) tidak punya daya pikat di wajahnya? Saya pikir, dia juga cukup layak berkategori tampan. Bambang? Ya, lumayan gantenglah. Tapi, kenapa urusan wajah menjadi salah satu yang harus diperhitungkan sebagai daya pikat untuk pemain sepak bola sementara mereka tak sedang mengikuti pemilihan wajah?

Entahlah, tapi sejak beberapa tahun ini, sepak bola telah menjadi industri pencipta para selebriti di luar lapangan hijau. Sebut saja David Beckham, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Kaka, dan banyak lagi. Meski begitu, industri tersebut masih memberi tempat untuk pemujaan kepada Wayne Rooney (kalau Anda menganggap sosok ini tampan dan ganteng, terpaksa saya berseberangan dengan Anda), atau Drogba dan Samuel Oto’o. Itu bukti, pemujaan terhadap pemain bola tak melulu lahir dari kegandrungan pada wajah sang pemain.

***

NAH, bagaimana dengan soal keberuntungan, maksudnya keberuntungan Irfan dibanding Kurniawan atau Bambang? Ini ikhwal yang bisa diperdebatkan. Sebab, keberhasilan atau popularitas seseorang tak bisa diraih hanya dengan mengandalkan keberuntungan, bukan? Misalnya, Ponari (masih ingat?) jadi dukun kondang pun tak semata lantaran dia beruntung, sebab (konon) dia harus tersambar petir dulu (mana mau Anda tersambar petir?).

Maka, maksud saya soal keberuntungan Ifran sebagai pemain bola adalah ”keberuntungan lantaran zaman”. Dia muncul di zaman ketika dunia maya menjadi trendsetter untuk banyak aspek kehidupan. Ketika Kurniawan atau Bambang muncul, kita belum dihebohi Facebook atau Twitter. Mereka tak bisa ”menjual” diri dengan sekali update status. Kita ingat kisah lainnya juga: dengan sekali mengunggah video lipsync, Sinta dan Jojo langsung mendunia. Secara personal, saya sering merasa agak ”tersengat” setiap kali menyaksikan seseorang moncer dengan cepat. ”Sengatan” yang disertai rasa khawatir. Khawatir kalau-kalau kemonceran itu tak bisa berlangsung lama. Sebab, tak setiap orang bisa menanggung keserbamendadakan. Tak setiap orang bisa mempertahankan kemonceran yang mendadak. Ibarat meteor, sekali melesat, kalau tak besar banget, ia hilang di angkasa. Berapa banyak, khususnya dari lapangan sepak bola, pemain yang mendadak populer lalu hilang, dan kalau pun beruntung, dia hanya menghuni klub semenjana.

Dan bukankah kebintangan seseorang selalu menuntut daya tahan mental berlebihan? Bambang Pamungkas, misalnya, kita hampir saja menjadi ”sosok-sosok kejam” yang meniadakan nama dan kontribusinya dalam persepakbolaan nasional ketika Irfan datang. Tapi dia yang masuk menggantikan Irfan, jadi hero dengan dua penalti ke gawang Thailand. Bukankah kita sering mendengar, seorang bintang sejati datang pada saat paling dibutuhkan? Meski pertandingan lawan Thailand itu tak memengaruhi posisi Timnas di Grup A, tapi sudah sejak lama kita terobsesi bisa mengalahkan mereka di lapangan.

Ya, saya pribadi suka gaya main Irfan di lapangan. Gestur tubuhnya dan cara bermainnya memang agak mirip-mirip dengan yang biasa saya tonton dari para pemain di klub-klub Eropa. Karena saya, dan juga Anda yang berharap banyak padanya, juga tentu pada semua pemain Timnas, tak ingin dia hanya semacam meteor kecil yang tak pernah sampai ke bumi. Lebih-lebih kalau meteor itu cuma melesat di Twitter, alamak! (*)

Epilude, Suara Merdeka, 12 Desember 2010


1 Comment

  1. “pemain salon”??
    waktu geger transfer CR7 dr MU ke Madrid, krn melibatkan angka yg sangat spektakuler.. Xavi Hernandez, bilang: “Tim kami tak butuh selebiritis, yg kami butuhkan adl pemain sepakbola sejati spt Leonel Messi”. Dan terbukti, para gladiator Barca melibas habis real madrid dgn skor telak 5-0.

    Mudah2an para skuad merah putih bukanlah para pemain salon, para bintang lapangan yg terjangkit celebrity euphoria syndrome dan kehilangan jati diri, roh, jiwa sbg petarung sejati dilapangan, bukan pesolek didepan media, bukan pula lakon di dunia maya spt twitter dan facebook.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: