Home » Kolom Epilude » PESBUK

PESBUK

SATU dari lima perceraian disebabkan Facebook. Tenang dulu, Anda yang masih jadi ”jamiatul faisbukiyah” tak perlu kebakaran jenggot atau bulu mata lentik mereaksi kalimat itu. Itu tak terjadi sini kok, tapi di Amrik sana, lewat survei American Academy of Matrimonial Lawyers beberapa waktu lalu. Lagi pula ini bukan berita baru, kan? Anda bisa bilang, ”Ah, itu mah basi. Lagian kenapa sibuk survei segala, wong sebelum ada pesbuk, sudah banyak pasangan yang cerai, kok.”

Benar, seiring kemonceran Facebook, muncul pula kisah-kisah heboh tentang hubungan di antara orang-orang pemilik akun jejaring sosial tersebut. Maklum, tagline Facebook adalah ”membantu Anda terhubung dan berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda.” Tak ketinggalan cerita soal perselingkuhan dan pertengkaran, juga saling fitnah. Sampai-sampai beberapa negara mengeluarkan fatwa haram untuk situs itu seperti Mesir. Wacana pengharaman itu juga sempat meletik di sini, tapi lalu macam gelembung sabun saja nasibnya. Sebab, lebih banyak yang ”No” ketimbang yang ”Yes”.

Ya, barangkali sudah basi kalau wacana seperti itu diluncurkan lagi sekarang, betapa pun itu berasal dari survei lembaga yang kesahihan simpulannya tepercaya. Kalau begitu, buat apa pula saya menuliskan hal itu di kolom ini? Entahlah, tapi mungkin alasannya lebih bersifat personal dan ndilalah alias kebetulan semata. Saya sedang berada dalam bus untuk pulang ke Semarang sehabis menghadiri pernikahan seorang teman. Pernikahan itu terbuhulkan lewat mak comblang zaman global bernama Facebook. Saya tahu, sudah banyak cerita seperti itu. Pun cerita sebaliknya, banyak buhul perkawinan rusak dipicu si biang kerok bernama Facebook.

***

MAKA, waktu teman itu bercerita awal mula ”persentuhan” dengan istrinya lewat Facebook, saya tak terlalu menunjukkan reaksi heboh. Buat saya, kalau memang suatu hari mereka bakal terikat sebagai suami-istri, wasilah alias perantaranya bisa apa saja, dan kebetulan ini kali adalah Facebook. Jadi, tak ada yang luar biasa dalam hal ini. Tapi, mungkin inilah yang saya sebut ndilalah, di bus itu, penumpang lelaki di belakang saya dalam durasi yang lumayan lama, juga suara keras, bertelepon dengan topik utama Facebook. Nada suaranya yang genit, khas orang yang lagi merayu, bagaimana pun juga membuat saya tak bisa tak mencuri simak.

Pernikahan teman saya dan laku sederhana di atas bus itulah yang membuat saya menyimpulkan: oalah, ternyata Facebook masih begitu penting bagi banyak orang. Pasalnya, hal itu datang saat saya sudah menarik diri dari gemuruh Facebook. Saya sudah kehilangan passion bermain-main dalam soal update status, berkomentar, sharing sana sharing sini, atau chatting di situ. Dan ndilalah-nya lagi, ketika berinternet, ada sebuah berita mengenai hasil survei seperti tersebut di atas.

***

LANTAS apakah saya akan aktif pesbukan lagi? Jawabannya: kalau tidak menganggap buang-buang waktu, Anda bisa mengecek sendiri di akun saya, hahaha….

Yang jelas, ini soal perbedaan sudut pandang semata. Kalau pernikahan yang diawali lewat Facebook itu sesuatu yang baik, maka situs itu pembawa kebaikan. Tapi kalau melahirkan perceraian, akun itu jelas pembawa keburukan. Anda bisa saja menganggap Facebook (juga Twitter dan teman-temannya) (masih) penting, tapi Anda tak berhak melarang kalau saya bilang situs itu tak lagi penting dan hanya main-main. Bagaimana tidak main-main, kalau semasa aktif saya bisa mengganti sesuka hati fitur relationship status; kadang lajang, kadang komplikasi, kadang lainnya. Komentar atas itu pun beragam. Ada yang serius mempertanyakan kelajangan saya, ada juga yang menuduh saya tengah ”mencari mangsa” karena tahu saya sudah beristri.

Sekali lagi, ini soal perbedaan sudut pandang. Yang menurut saya main-main, bisa berarti serius buat Anda. Jadi, kalau Eva Longoria, aktris Hollywood, marah-marah dan menggugat cerai suaminya pebasket Tony Parker lantaran tahu si lelaki berhubungan dengan seorang perempuan dari Facebook, maka, bisa saja di belahan bumi yang lain, Sri Kesemek tengah banyak tersenyum bersanding di pelaminan dengan Bang Tigor, dan itu juga karena Facebook.

Dan karena Facebook bisa bermuka dua, jangan sampai keliru membedakan mana wajah garang Betari Durga dan mana wajah ayu Dewi Uma. Kalau keliru, berabe, kan? (*)

Epilude, Suara Merdeka, 5 Desember 2010


5 Comments

  1. Pratisila says:

    saya merasa tertarik dgn ulasan anda di atas. menarik, kata itulah yg tepat untuk tulisan anda. maka setelah saya membaca artikel anda di koran, saya kemudian mencoba mencari dan meninggalkan jejak di blog anda ini . .🙂 terima kasih

  2. saya sering membaca tulisan2 anda melalu suara merdeka, meskipun tertulis jelas anda mempunyai blog.. dan saya juga punya.. baru kali ini saya bisa mampir ke blognya sampeyan.

    back to topic.
    karna fesbuk berwajah 2: wajah garang Betari Durga dan wajah ayu Dewi Uma, itu brarti fesbuk bisa menjadi tempat mencari nafkah dgn cara halal ataupun yang nipu.

  3. Musik Pribumi,
    tampaknya Anda memiliki interes besar pada bidang musik. terutama reggae. Dari selintasan melongok blog Anda, ada interes pada dunia showbiz, termasuk gosip-gosipnya. Dalam tataran ini, kita satu interes, setidaknya begitulah Epilude dimunculkan sebagai kolom.

    Omong-omong soal pesbuk dalam dua wajah, saya yakin Anda lebih suka memilih kecantikan Uma. Yang dahsyat seandainya pesbuk berwajah rahwana yang dasamuka. repot nanti milihnya, hehehe. Salam kenal.

  4. salam kenal balik kang… saya menanti-nanti suara merdeka hari minggu.. EPILUDE!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: