Home » Kolom Epilude » TEATER ARUMI

TEATER ARUMI

ARUMI lari lagi, dan saya seperti berada di deretan kursi penonton teater. Di panggung, ada beberapa pemain, tapi tak ada dialog. Yang tersaji lebih mirip beberapa monolog. Masing-masing berbicara sendiri. Dan monolog-monolog itu mengusung beberapa tema berat. Ada tema tentang eksploitasi anak oleh orang tua, pelecehan seksual anak di bawah umur, pembunuhan karakter, pencucian otak, hingga soal sensasi pendongkrak popularitas.
Di kursi penonton, selama pertunjukan berlangsung, saya bertanya-tanya: ini cerita tentang seorang anak gadis belum 17 tahun yang merasa tidak bahagia dengan keluarganya, atau kisah spionase gaya James Bond atau kisah-kisah dari perang Nazi? Ahai, mungkin saya ikut-ikutan membesar-besarkan tema. Sebab, sebenarnya saya cukup diam saja di kursi penonton, dan (kalau bisa) menikmati saja yang tersaji di panggung. Apalagi, sebenarnya saat itu saya lebih suka menonton teater bisu.
Ya, saya yakin, Anda sudah tahu kisah tentang Arumi Bachsin itu. Beberapa bulan lalu, dia kabur dari rumah keluarganya, dan ngendon beberapa hari di sebuah rumah penampungan di kawasan Bambu Apus, Jakarta. Pekan terakhir Oktober lalu, gadis molek itu kembali kabur. Konon, kini dia tinggal di sebuah rumah atas fasilitas Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

***

SELAMA lebih dari sebulan tak berada di rumah keluarganya itulah, tema-tema berat di atas bergaung. Dan karena sudah telanjur berada di kursi penonton ”teater Arumi”, mau tak mau saya harus menerima tema-tema berat yang diusung para pemainnya.
”Arumi dijual ibunya lewat perjodohan paksa dengan pengusaha asal Kudus berusia 30 tahun,” ujar seorang pemain. Ups, ini bukan tema <I>enteng-kreweng<P>. Sebab, <I>hari gini<P>, hal seperti itu sudah zadul. Apalagi, ketika orang tua mengekploitasi anak mereka, maka mereka harus siap berhadapan dengan hukum. Dan kalau benar, itu agak mirip dengan yang dilakukan Arumi Bachsin dalam film <I>Not for Sale<P>. Dia berperan sebagai Sashi, seorang mucikari muda yang menjual gadis-gadis remaja. Seorang ”mucikari” dimucikarikan? Wah!
”Di Singapura, dan juga di Jakarta, saya dipaksa sekamar dengan dia (tokoh yang disebut pengusaha Kudus-Red). Baru kenal kok sudah minta cium-cium,” ujar pemain yang memerankan Arumi.
Hmm, baru 19 Februari 2011 nanti, Arumi 17 tahun. Itu artinya, sekarang dia masih di bawah umur. Dan kalau benar omongan ”pemain” Arumi itu, dia yang disebutkan itu bisa diseret dengan tuduhan pelecehan seksual anak di bawah umur. Dan konsekuensinya pasti berat.
”Dia kabur karena ada yang mencuci otaknya. Dialah dalang di balik ini semua dan ini pembunuhan karakter untuk keluarga kami,” ujar pemain yang memerankan ”wakil orang tua Arumi”.
Ucapan itulah yang saya bayangkan mirip kisah spionase atau cerita pencucian otak pada anak-anak muda oleh orang-orang Nazi. Istilah yang sangat mengerikan. Dan dia yang ”mirip” Hitler itu konon bernama Miller, lelaki muda yang konon pula berandil terhadap proses kaburnya Arumi yang pertama.

***

ANDA bisa saja mengatakan, ucapan itu hanya sebentuk keputusasaan dari orang tua Arumi yang lebih suka menuding orang ketimbang menunjuk dirinya sendiri. Anda bisa saja bilang, alih-alih menuduh, sebaiknya orang tua Arumi berintrospeksi. Kalau misalnya suatu hari kaki anak saya terbentur meja, rasanya aneh kalau saya menyalahkan pembuat mejanya, bukan? Sebab, bisa saja anak saya itu kurang hati-hati ketika berjalan, atau saya yang keliru dalam menata meja itu.
”Arumi itu pintar akting. Paling-paling ini untuk mendongkrak popularitasnya, khususnya film Heart 2 Heart yang dia mainkan,” ujar seorang pemain.
Ini bukan tema baru. Sudah banyak selebritis yang dianggap suka bikin sensasi untuk mendongkrak popularitas. Beberapa kali dalam Epilude ini, saya selalu menyebutnya sebagai ikhtiar yang wajar. Saya selalu menyebutnya sebagai hak si selebritis. Arumi mungkin termasuk salah seorang di antaranya. Tapi rela sembunyi lebih dari sebulan hanya untuk keperluan itu, kok rasanya heroik banget.
Sekali lagi, saya hanya salah seorang di antara para penonton. Dan sampai beberapa lama berada di kursi, saya tetap tak tahu apa lakon yang sedang dimainkan. Masak saya bertanya pada Ki Manteb Soedarsono. ”Lakone napa, Ki Manteb?” Hahaha….
Maka, sebenarnya saya ingin segera pulang saja, dan memandangi anak-anak saya, mungkin sambil berdoa, semoga mereka tak pernah berniat kabur dari rumah. Semoga, bila suatu hari, seberapa jauh pun mereka pergi, mereka tetap ingin pulang. Dan, untuk membuat mereka selalu ingin pulang, saya mesti menyediakan kenyamanan di rumah, bukan? (*)

Epilude, Suara Merdeka, 28 November 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: