Home » Kolom Epilude » N A M A

N A M A

KITA pasti sudah akrab dengan ungkapan Shakespeare ini: ”What’s in a name?” dalam lakon Romeo and Juliet. Dan umumnya, kita menafsir kalimat itu sebagai ”nama hanyalah nama, tak ada yang penting atau perlu diributkan maknanya”.
Secara tekstual, penafsiran seperti itu benar karena diucapkan Juliet Capulet yang telanjur gandrung kapirangu pada Romeo Montague. Bagi Juliet, sebuah nama hanyalah konvensi artifisial dan tak bermakna. Montague yang disandang Romeo, hanyalah nama belakang lelaki yang dia cintai, dan bukan nama keluarga yang jadi musuh bebuyutan keluarga Capulet, keluarganya sendiri.
Tapi, ”Everything is in a name!” teriak Soekarno. Dalam sebuah nama, pasti ada sesuatu. Ya, dan kita umumnya meyakini hal itu. Nama adalah sebuah doa, sebuah pengharapan. Misalnya, Slamet, Bejo, Untung, Ayu, Endah, adalah doa orang Jawa yang dinisbatkan pada anak mereka.
Jadi, sebuah nama memang punya makna. Tapi lantaran punya makna itu pula, nama sering menimbulkan soal. Entah itu soal serius, atau hanya sebuah candaan. Waktu sekolah di MTs di kota kelahiran saya, ada seorang teman lelaki, tampan dengan kumis tipis yang sudah mulai tumbuh. Namanya Albaqarah. Suatu hari, seorang guru membacakan presensi dan kami harus mengucapkan ”Hadir” sambil mengacungkan tangan. Tiba giliran nama teman saya itu disebut, sang guru agak kaget, tapi lalu berujar sambil tersenyum. ”Albaqarah itu nama yang bagus karena itu salah satu surah Alquran. Artinya ‘sapi betina’. Tak apa-apa, kalau ternyata sapi betinanya punya kumis.” Sejak itu, kami sering memanggilnya ”sapi betina”, dan untungnya dia tak pernah marah sampai akhirnya kami bosan menggodanya.

***

NAMA saya pun kerap dipersoalkan. Suatu kali, beberapa teman mencandai saya: ”Mas Saroni, bagaimana kabar Mas Bonangi, Mbak Pekingi, Mas Demungi, dan Mbak Slentemi?” Wah, meski cuma tertawa, tapi tetap saja rasanya kurang asyik disamakan dengan salah satu instrumen gamelan bernama ”saron” yang punya saudara macam bonang, peking, demung, atau slentem.
Kadang dalam candaan pula, saya sesumbar, ”Nama saya ini multibangsa. Banyak orang Italia punya nama Saroni. Kalau ingin mirip orang Arab, nama saya Sya’roni. Tapi bukan dari kata sya’run yang artinya rambut, lho. Dan meski namanya mirip dengan Ariel Peterpan, eh Ariel Sharon, yakinlah, saya bukan zionis.”
Dalam satu kesempatan mewawancarai KH Sahal Mahfudz, beliau menyindir nama saya. ”Nama bagus-bagus begini kok di-jawa-kan. Maknanya jadi hilang.” Maksud ”penjawaan”  itu bahwa penulisan nama saya tak mematuhi kaidah bahasa Arab. Kata beliau, seharusnya nama saya ditulis ”Sya’roni Asyiqien.” Lalu beliau menjelaskan bahwa ”Sya’roni” itu nisbat atau sebutan seorang ulama, dan ”Asyiqien” itu artinya orang yang selalu asyik dan riang.
Itu memang hanya intermezzo di sesela wawancara. Tapi kalau menuliskan nama saya dengan kaidah yang disarankan beliau, saya pasti lebih menyukai nama kedua. Sebab, pasti tidak ringan menanggung beban nama pertama yang artinya nisbat seorang ulama. Dan orang Jawa seperti saya, kalau dianggap ”terberati oleh namanya”, pasti akan sibuk menyiapkan upacara ganti nama, bukan?

***

SAYA tak bisa membayangkan pula apa jadinya kalau menuruti anjuran Kiai Sahal dan menaruhnya di paspor saya. Saya pernah dikarantina sebentar oleh petugas imigrasi Singapura hanya karena nama saya Saroni Asikin. Saat itu kisah Bom Bali masih hangat dan petugas imigrasi Singapura mirip penderita psikopat setiap menjumpai paspor dengan nama kearab-araban. Apa jadinya kalau nama saya Sya’roni Asyiqien? Padahal, percayalah wahai pembaca nan aziz, nama dan wajah saya sangat jauh dari tampang teroris, hehe….
Kerap benar pula orang salah menuliskan nama saya, dan yang terbanyak adalah ”Syahroni”. Lebih banyak saya cuek, tapi kalau lagi iseng, saya bilang, ”Karena saya bukan pacar atau kakak dari Syahrini, maka cukup Saroni saja nama saya. Saya cukup asyik dengan nama itu, kok. Kalau kurang, ya di-asikin lagi.”
Lantaran sudah asyik, kenapa harus mengubah ejaan nama saya? Tapi, Anda jelas berhak mengganti nama sesuka hati. Siapa tahu nama baru Anda memang menyimpan tuah hoki seperti yang diyakini Syaiful Jamil waktu mengubah nama belakangnya menjadi ”Jamiil”. Atau Prianti Nur Ramadhani (Nia Ramadhani) mengganti namanya, lengkap dengan akta kelahiran baru, menjadi Ramadhania Ardie Bakrie.
Saya sih mendoakan Nia tak bercerai dengan putra Aburizal Bakrie itu. Sebab kalau bercerai, dan ”mau” dengan saya, apa iya dia mau mengubah lagi namanya menjadi Ramadhania Asikin. Wah, nggak asyik deh! (*)

Epilude, Suara Merdeka, 21 November 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: