Home » Kolom Epilude » INTERMEZZO DARI OBAMA

INTERMEZZO DARI OBAMA

PEKAN lalu, satu hingga dua hari, televisi seolah menomorduakan laporan dari barak pengungsian Merapi. Pasalnya, ada kisah tentang ”barak” yang lain, yang menurut televisi ”wajib” dinomorsatukan, yaitu Barrack Obama. Jelas, tak ada hubungan antara barak pengungsi dan Barrack Obama, selain bunyinya saja yang hampir serupa. Apalagi, Presiden AS itu tak bertandang ke barak-barak pengungsian Merapi, makan nasi bungkus, dan menyalami para pengungsi. Obama tak ke Merapi sembari mengajak para tukang sate dan tukang bakso, dan menikmati penganan itu bareng-bareng para pengungsi.
Seperti pemirsa lain, saya bisa rehat sejenak dari Merapi. Ya, semacam intermezzo. Lagi pula, kalau menyimak laporan tentang Merapi, saya yakin, kita tak mungkin bisa tertawa. Kita tak pernah bakal merasa gembira melihat bencana. Tapi ketika melihat aksi Obama, kita bisa tertawa, terutama ketika dia mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa kita saat berpidato di UI. Mungkin mirip ketika anak kita yang baru belajar bicara, kita merasa terhibur dan sering tertawa setiap kali dia mengucapkan sesuatu. Ups, jangan berang dulu, sebab ”mirip” tak berarti ”sama”, bukan?
Saya juga terhibur dan tertawa. Tapi saya tidak bertepuk tangan seperti hadirin yang ada di UI itu. Sebab, saat menyimak pidato Obama, saya sedang asyik membayangkan diri saya itulah yang tengah berdiri di podium megah dan agung tersebut. Bukan, bukan sebagai Presiden AS melainkan Presiden Republik Indonesia, dan tempat itu bukan UI melainkan, sebut saja, Harvard University.
Sebelumnya, ketika saya terpilih menjadi Presiden RI, media massa di AS sudah sibuk menceritakan bahwa saya, anak dari perkawinan campuran Indonesia-Amerika, pernah tinggal di salah satu sudut di Harlem sebelum kembali ke Indonesia, meniti karier di kancah politik, dan nasib baik membawa saya jadi orang nomor satu di negara itu, negara yang sekian lama disebut sebagai sang adidaya.

***

BEBERAPA hari sebelum kedatangan saya, para pejabat AS sudah sibuk menyiapkan segala sesuatu demi keamanan dan kenyamanan saya. Pokoknya, apa pun agar saya merasa sangat diterima dan diharapkan kedatangannya. Satu jam sebelum pesawat saya mendarat di John F Kennedy International Airport, dalam radius tertentu, semua sudah disterilkan. Agen-agen CIA sudah disebar di mana-mana. Dan jalan-jalan yang bakal dilalui mobil saya, sudah dikosongkan dalam penjagaan ketat pihak keamanan. Gedung-gedung di sepanjang daerah lintasan sudah dikosongkan. Ini agar para teroris atau sniper tak bisa leluasa mengincar kepala saya. Singkat cerita, saya aman dan nyaman sampai di Gedung Putih dan disambut dengan lagu ”Indonesia Raya”.
Ya, dan kini, di aula gedung semegah Harvard University, di hadapan para pejabat Gedung Putih, Pentagon, dan mahasiswa Amerika, saya bilang (tentu saja dalam bahasa Inggris dalam aksen Amerika): ”Amerika Serikat adalah bagian dari diri saya. Ini saya pulang kampung, dan saya masih ingat saat menyusuri gang-gang di Harlem sambil makan hotdog.”
Hadirin bertepuk tangan karena barangkali mereka merasa saya adalah bagian dari diri mereka juga. Dan tentu saja, saya mengumbar senyum sembari berkali-kali bilang, ”Thank you.”

***

SAYA tergeragap begitu melihat di TV, Obama sudah turun dari podium. Saya kembali ke dunia nyata dan agak sedih ketika sadar bahwa Indonesia (masih) bukan negara adikuasa. Tak mau terlarat-larat oleh kesedihan, saya kembali mengenang kejayaan Majapahit, dan satu sosok lain muncul di benak. Soekarno. Konon, hanya dialah seorang presiden dari republik yang baru beberapa masa merdeka, yang bisa ”duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi” dengan para petinggi Amerika Serikat. Dan hanya dialah, Presiden RI yang dielu-elukan di Negeri Paman Sam itu.
Soekarno sudah tak ada secara fisik, dan kita memang tak seyogianya selalu hanya bermimpi akan kejayaan silam. Memang mungkin enak jadi seorang presiden dari negara adikuasa, sebab selalu dielu-elukan di mana saja, dan disambut bak King of the King.
Ya, Obama di Indonesia barangkali hanya sebuah intermezzo. Tapi saya patut mengiyakan semua respons positif dan harapan besar yang bisa digaungkan atas kedatangan singkatnya. Sebab, bukankah khusnudzon (berbaik sangka) lebih mulia ketimbang su’udzon (berburuk sangka)? Lebih-lebih lagi intermezzo itu sangat menghibur pikiran kita yang sekian lama ini penat oleh kisah kesedihan akibat bencana demi bencana.
Baiklah, sebagai intermezzo pula, bayangkan Obama yang sudah ada di rumahnya, sembari mandi di jacuzzi, bilang pada Michelle, ”Honey, kalau nanti Indonesia sudah jadi negara adikuasa, mau juga rasanya jadi presiden di sana.” Hahaha…. (*)

 

Epilude, Suara Merdeka, 14 November 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: