Home » Kolom Epilude » DAUD DAN AYU

DAUD DAN AYU

DI antara banyak anaknya, Daud paling mengasihi Absalom. Selain paling tampan, ketampanan yang tak tertandingi di seluruh Israel, dia paling mendekati perangai sang ayah. Tapi anak terkasih itu pulalah yang beberapa kali menorehkan luka di hati Daud si Raja Israel.

Yang pertama terjadi di suatu pesta para anak raja di Baal-Hazor, dekat kota Efraim. Di situ, dengan keji Absalom menggorok leher Amnon, saudara lain ibu. Amnon telah memerkosa si cantik Tamar, dan bagi Absalom, bayaran untuk pemerkosa adik sekandungnya adalah kematian.

Setelah pembunuhan itu, Kitab II Samuel dalam Perjanjian Lama meriwayatkan bahwa Absalom melarikan diri ke Gesur. Betapa sedih hati Daud. Dia telah kehilangan Amnon, calon pengisi takhtanya, dan juga Absalom, si anak kinasih. Itu bukan luka terakhir buat Daud. Sebab, setelah terkucil dari tanah Israel, Absalom yang mabuk takhta, memberontak terhadap ayahnya sendiri. Raja Daud yang ketika mudanya bisa menaklukkan Goliat (atau Jalut dalam versi Islam) hanya dengan sebuah jemparing, sempat terdesak hingga lari dari istananya.

Itu pun bukan luka terakhir karena Absalom yang terdesak oleh serangan balik prajurit Daud, mati mengenaskan. Mayatnya tergantung pada pohon terbantin dengan reranting menusuk kedua matanya. Anda yang pernah membaca kisah itu dalam kitab tersebut pasti tahu kesedihan tak terperi Raja Daud. Begitu mendengar kematian Absalom, dia naik ke anjungan pintu gerbang istananya, dan dalam derasan air mata, dia meratap, ”Anakku Absalom, anakku, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!”

***

ADA sebuah film yang menurut saya menarik dalam pengisahan berbeda dari kisah Alkitab perihal peristiwa setelah pembunuhan terhadap Amnon. Benar, film itu dikritik karena banyak detail melenceng dari kisah asalnya. Judul film itu King David (1985) garapan Bruce Beresford dengan Richard Gere memainkan Raja Daud dan Jean-Marc Barr sebagai Absalom.

Dalam film itu, Absalom tidak melarikan diri, tapi ditangkap dan disidang di hadapan raja, penegak hukum, dan pemuka agama. Absalom harus dihukum mati, apalagi dia membunuh Amnon dengan sayatan belati secara mendadak, bukan lewat perang tanding. Ini juga agak berbeda dengan Alkitab yang menyebutkan Amnon dibunuh dengan parang oleh para pengikut Absalom. Itu keputusan dilematis bagi Daud. Dia yang sudah kehilangan Amnon, tak ingin lagi kehilangan seorang anak terkasihnya. Dia raja dan dari mulutnyalah keputusan terakhir bagi nasib Absalom. Kalau keliru, martabatnya sebagai raja adil, jadi taruhan. Dan benar, demi sang anak, Daud mengorbankan martabatnya dengan memerintahkan hukum buang selama beberapa tahun untuk Absalom.

***

SECARA subjektif, saya bisa memahami dilema Daud ketika harus mengambil keputusan untuk menghukum anaknya yang ”nakal” itu. Dia memang mengabaikan hukum dan itu semata agar si anak kinasih tetap hidup dan berharap suatu hari dia bisa jadi anak manis. Kalau pada akhirnya pembuangan itu berbuah dendam dan pemberontakan terhadap dirinya, Daud hanya bisa meratap. Dilema yang mungkin hampir setara itulah yang saya bayangkan mendera Ayu Azhari ketika harus melaporkan anaknya sendiri, Sean Azad, ke polisi. Dia sudah tak sanggup berhadapan dengan kenakalan si anak dan butuh bantuan penegak hukum untuk membuatnya jera. Buatnya, ini bukan semata soal pencurian 50 ribu dolar AS oleh Sean dari brankas ibunya, atau kenakalan-kenakalan lain si anak. ”Ini ikhtiar mendidik dia,” ujar Ayu.

Ada banyak reaksi, tentu saja. Ada yang menyayangkan cara Ayu. ”Itu bisa bikin trauma dan sangat mungkin si anak bakal berdendam pada Ayu,” ujar Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait.

Dan seperti biasa, ketika seorang aktris polah, banyak yang kepradah.  ”Ayu cari sensasi saja.”

Memang dalam tahun ini saja, pemilik nama asli Siti Khadijah itu beberapa kali menyita berita. Maju dalam pilkada Sukabumi sebagai calon wakil bupati dan telah gagal, dia direpotkan oleh kisah Facebook milik anaknya yang lain, Axel Gondokusumo, yang konon dihina secara terbuka oleh seorang putra pejabat militer. Biarlah komentar itu berkelindan, yang jelas, sebagai ibu, dia tak pernah ingin seorang anaknya meringkuk di jeruji besi. Sebab, saya yakin, Ayu pasti sadar bahwa bui sering jadi lembaga bimbingan belajar tercespleng untuk jadi kriminal betulan. Seperti Daud, Ayu pasti meratap kalau Sean suatu saat bisa serupa Absalom.

Waduh, ketimbang melihat Ayu meratap mendingan mencermati ekspresi wajahnya dalam film Without Mercy saat dia di bathtub dengan seseorang… ups, disensor saja, ya. Cekrek! (* )

 

Epilude, Suara Merdeka, 7 November 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: