Home » Kolom Epilude » LAGU DAN BENCANA

LAGU DAN BENCANA

20 Februari 1979. Malam itu, orang-orang sudah merapatkan selimut ketika gempa itu mengguncang Kawah Sinila Pegunungan Dieng. Gempa itu membuat retakan-retakan di tanah yang menyemburkan gas beracun. 149 orang meninggal (Maaf, saya lebih suka tidak menggunakan kata ”tewas”. Meski KBBI memaknainya sebagai ”mati dalam peperangan, bencana, dan lain-lain, dan semua media massa memakainya, saya merasa kata itu mengandung arti agak keras, semacam mati yang kalap).

Orang-orang berduka. Juga Ebiet G Ade. Tapi tak semata berduka, sebagai penyanyi dan pencipta lagu, Ebiet ingin mengabarkan kisah sedih itu. Dan terciptalah ”Berita kepada Kawan” yang legendaris itu. Lagu itu kali pertama muncul dalam album Camelia II

(1979), menjadi salah satu hit, dan beberapa tahun berikutnya jadi semacam ilustrasi wajib setiap kali televisi menayangkan berita atau reportase tentang suatu bencana di Indonesia. Ebiet pun jadi semacam ”merek dagang” untuk tayangan bencana. Tak adakah penyanyi lain yang mendendangkan penderitaan akibat bencana? Tentu saja ada. Iwan Fals, misalnya pada lagu ”Celoteh Camar Cemar dan Tolol”. Lagu itu wujud kepedulian Iwan pada tragedi tenggelamnya kapal Tampomas II di perairan dekat Kepulauan Maselembu, sekitar 220 mil dari Ujung Pandang, 27 Januari 1981. Kapal itu mengangkut 1054 penumpang, dan hanya 149 yang berhasil diselamatkan.

Untuk tragedi yang sama, Ebiet juga menulis ”Sebuah Tragedi 1981”, tapi dengan sudut pandang yang berbeda dari Iwan. Kalau Ebiet berfokus pada kepahlawanan Abdul Rivai, sang nakhoda kapal, Iwan mengkritik kondisi kapal bekas itu. Beberapa tahun berikutnya, Iwan kembali menuliskan lagu tentang tragedi dalam ”1910”. Ini kali tentang tabrakan dua kereta di dekat Stasiun Bintaro Jakarta, 19 Oktober 1987, yang melayangkan nyawa ratusan orang.

Penyanyi lain yang menuliskan bencana dan tragedi adalah SAS dan Giant Step. SAS mendendangkan ”Larantuka” untuk mengenang bencana gempa di Larantuka, Flores pada 29 Februari 1979, sementara Giant Step menyanyikan ”Tinombala” yang mengisahkan tragedi jatuhnya pesawat Twintter MNA di Gunung Tinombala, Sulawesi Tengah pada 29 Maret 1977. Untuk yang terakhir, ada film Operasi Tinombala yang dibuat untuk menceritakan kepahlawanan tim SAR saat evakuasi korban.

***

MAAF, ini bukan senarai atau daftar tragedi yang disebut Thomas Robert Malthus sebagai salah satu cara jitu mengurangi kepadatan penduduk. Begitu banyak bencana dan tragedi di negeri kita. Baru beranjak ke milenium ketiga saja, berapa sudah bencana dan tragedi itu tercatat. Tsunami Aceh 2004 bisa disebut yang paling besar. Ya, begitu banyak bencana dan tragedi, dan dalam dunia hiburan, begitu banyak penyanyi dan band, dan begitu banyak lagu, tapi berapa yang berkisah tentang kesedihan dan penderitaan itu? Nyaris tak ada. Waktu cari lagu tentang tsunami Aceh, saya hanya menemukan satu video dari Youtube yang bertajuk ”Morning Sad”, ciptaan Adian Fuadi dan dinyanyikan The Flow. Yang ”banjir” dan meruah-ruah malah lagu cinta-cintaan, yang terkadang liriknya hanya bikin geli. Ebiet atau Iwan juga menulis lagu cinta. Tapi lirik mereka puitis dan pasti tak asal tulis.

Baiklah, kita tak perlu meributkan dan berpusing-pusing memikirkan ketiadaan penyanyi atau band yang menuliskan bencana sebagai lagu. Tak usah pula mempertanyakan kepedulian mereka terhadap korban bencana. Kita tahu, setiap ada bencana, ada pula rombongan artis yang menyumbang, bukan? Mungkin saja, mereka memang tak suka kisah yang sedih. Mungkin mereka berpikir lebih baik membikin lagu yang membuat riang pendengarnya. Orang yang sudah datang ke konser atau keluar uang untuk membeli album, jangan dibuat menderita oleh kesedihan lagu-lagunya.

Jadi, ada atau tak ada lagu tentang bencana, tak masalah bukan? Saya pun sebenarnya tidak ingin lagi mendengar ”Berita kepada Kawan” diputar radio atau ditayangkan televisi. Baru menyimak intronya saja, saya langsung membatin: bencana lagi, bencana lagi. Dan, agaknya televisi beberapa hari ini ”mengamini” keinginan saya yang tak memutar lagu Ebiet itu mengiringi kisah Merapi dan Mentawai.

Yang jelas, saya lebih suka mendengar lagu-lagu cinta Ebiet, lengkap dengan ”dududu dududu hoho hoho”-nya. Pasalnya selain sedih, ketika menyimak ”Berita kepada Kawan”, saya sering bingung kalau harus mengikuti ajakan Ebiet. ”Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.” Bagaimana bisa menanyakan bencana pada rumput yang bergoyang sementara tak ada lagi rumput di lereng Merapi selain abu putih? Mau tanya pada Mbah Maridjan juga sudah tak bisa. Jadi….(*)

Epilude, Suara Merdeka, 31 Oktober 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: