Home » Kolom Epilude » MENGHAPUS TATO

MENGHAPUS TATO

WAKTU kecil, saya mengagumi seorang lelaki yang mempunyai tato di lengan atau dada. Kayaknya macho banget. Saya pun ingin punya tato di lengan. Bukan gambar, melainkan nama saya. Tapi orang tua saya melarangnya. ”Itu gaya para preman,” ujar mendiang ayah saya.

Saya sami’na wa atho’na alias patuh saja meski dalam hati bertanya-tanya apa hubungan antara tato dan para preman. Preman yang dimaksud tentu berkonotasi negatif, yaitu berandal atau penjahat, bukan dari asal kata vrij man (Belanda) atau wong mardika (orang bebas).

Saat geger Markus, eh Petrus (Penembak Misterius) awal tahun 1980-an, ucapan ayah saya itu seolah terbukti. Mereka yang terbujur dengan lubang peluru di tubuh kebanyakan orang-orang bertato. Konon, mereka itu penjahat yang tak bisa diberantas selain harus ditembak mati. Mereka yang bertato dan masih selamat ketika itu buru-buru menghapus tato mereka. Itu menciptakan codet-codet buruk yang merusak keindahan tubuh.

Saat sudah kuliah, ada tulisan seorang ahli bahasa (saya lupa namanya) mengungkap asal kata ”bromocorah”. Menurutnya, kata yang kini bermakna ”orang yang melakukan pengulangan tindak pidana” alias penjahat kambuhan, sebenarnya dahulu untuk menyebut orang-orang yang mencap tubuh sapi agar gampang diingat lewat kode huruf dan angka. Untuk gampangnya, sebut saja ”tato sapi”. Apakah dari situ asal kemunculan anggapan bahwa yang bertato itu para bromocorah dalam makna sekarang, yang juga punya sebutan lain, misalnya preman?

Entahlah. Yang jelas, tak adanya tato di tubuh saya, selain larangan mendiang ayah dan mungkin karena kulit saya ”agak eksotis” (untuk menyebut tidak berwarna terang) sehingga seindah apa pun tato itu bakal tak mencolok (kecuali pakai tinta warna putih, hehehe….), tapi juga perkataan seorang guru ngaji saya sewaktu kanak-kanak yang bilang tato itu haram untuk orang Islam. Kata beliau, tato menghalangi kita bersuci dari hadas besar dan hadas kecil sehingga ibadah, misalnya shalat kita jadi tidak sah.

Sebagai kanak-kanak yang hampir selalu patuh pada omongan orang berilmu agama, saya mengiyakan saja. Lalu, beberapa tahun berikutnya, saya membaca sebuah hadits yang menyebutkan bahwa tato adalah haram dan salah satu dosa besar. Rasulullah melaknat al-wasyimah (yang menato) dan al-mustausyimah (yang minta ditato).

***

SAYA tak ingin mengajak pembaca nan bijak bestari membincangkan perihal hukum bertato. Selain hanya mengenal satu baris hadits itu, saya bukan ahli dalam soal itu. Dan saya punya banyak teman bertato yang (paling tidak) dalam KTP mereka tertulis kata: Islam, dan saya tak ingin menyiksa pikiran dan batin saya untuk menganggap mereka membawa-bawa dosa besar dalam tubuh mereka.

Saya hanya ingin membagi humor kecil ketika membayangkan kerepotan orang yang harus menghapus jejak-jejak tatonya. Misalnya yang mungkin akan dilakukan Olla Ramlan kalau nantinya sudah resmi bercerai dengan Alex Tian alias Alejandro Dom. Maklum, dari 12 tato di tubuh artis itu, ada satu yang bertuliskan nama Alex. Mungkin keribetannya tak akan seheboh penghapusan tato zaman Petrus dulu. Sebab, konon kini banyak obat penghapus jejak tato yang cespleng. Mohon dicatat, ini ikhwal tato permanen, bukan temporer yang dengan air atau minyak tanah saja bisa langsung tak berbekas.

Seorang teman saya setidaknya pernah menghapus tato nama seorang gadis dan bikin tato baru dengan nama gadis lain. Waktu pacaran dengan Wati, di lengannya ada tato bertuliskan nama si gadis. Ketika putus dan pacaran dengan Lina, tato ”Wati” terhapus dengan bekas samar-samar dan berganti nama ”Lina”. Saya tahu betapa kerepotan dan kegelisahannya ketika ingin membuang tato pertama. Saya tak pernah bertemu dia lagi, dan tak tahu apakah ”Lina” itu atau bukan yang jadi istrinya sekarang. Bagaimana kalau setelah Lina, dia beberapa kali lagi berpacaran dan ternyata istrinya sekarang adalah ”Siti Nuhaliza”? Wah, kalau seperti itu, saya tak bisa meniru mendiang Gus Dur dengan bilang, ”Gitu aja kok repot.” Yakinlah, pasti repot sekali.

Tapi orang seperti Olla bisa saja bilang, ”Aku yang punya tato kenapa kalian yang sibuk?” Dan ketika SBY mencucurkan air mata lalu kita sibuk mengomentarinya, Pak Presiden itu bisa saja bilang, ”Saya yang punya air mata, kenapa kalian yang repot?” Wah, tidak nyambung dengan soal tato, ya? Kalau ini, pasti penulis Epilude yang repot karena penulis mana pun pasti bakal belingsatan kalau tulisannya dianggap tak nyambung. Piss! (*)

(Epilude, Suara Merdeka, 24 Oktober 2010)


2 Comments

  1. nana says:

    bpak q pnya tato permanen,, tp pgn d hapus. Trz carana gmn???
    tlg ksh info yg slengkap2na y… thx.
    qt domisili d daerah semarang.

    • Saroni Asikin says:

      Terima kasih sudah mampir.
      Sayang sekali saya tak bisa memberi info di mana dan bagaimana cara menghapus tato permanen. Saya bukan ahli di bidang itu. Makanya, dalam kolom ini, saya menulis ”konon kini banyak obat penghapus jejak tato yang cespleng”. Saya baca di beberapa situs menawarkan ramuan tertentu. Entahlah khasiatnya.
      Semoga ada pembaca lain yang tahu hal itu. Sekali lagi terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: