Home » Kolom Epilude » LARANGAN

LARANGAN

SAYA selalu teringat pada fatwa para pakar psikologi anak setiap kali hendak mengatakan ”Jangan” untuk anak-anak saya. Kata mereka, semakin dilarang, anak-anak semakin membangkang. Tapi itu tak selalu mudah. Pemahaman terhadap suatu konsep tak selalu berbanding lurus dengan perbuatan. Dari mulut kita, para orang tua, sering begitu lancar bilang, ”Jangan begini!” atau ”Tidak boleh begitu.” Apalagi kalau kita merasa berkuasa atas anak-anak itu, dari mulut kita hanya keluar kalimat perintah dan larangan.
Saya masih ingin patuh pada fatwa di atas ketika suatu hari menemukan sebuah DVD film horor Indonesia di meja belajar Elok Bunga, anak saya yang kelas 6 SD. Selama ini, setiap ingin menonton film tertentu, dia dan adiknya mengajak saya atau mama mereka ke rental DVD. Dan film yang kebanyakan horor konyol terbungkus erotika murahan seperti banyak dijumpai dalam film-film kita itu pasti bukan pilihan mereka. Lalu, kenapa film yang sukar saya cari kemanfaatannya, dan ada keniscayaan hanya memberi kemudharatan bagi anak saya itu, sampai bertakhta di situ?
Ketika menanyakan hal itu pada Elok Bunga, saya terus berusaha meyakinkan diri untuk tidak bilang, ”Jangan tonton film begituan!” atau ”Kamu tidak boleh menonton film kayak gitu.” Ya, untuk ini kali alhamdulillah, saya bisa menahan diri jadi tukang larang. Tapi bukan berarti saya dibebaskan dari kecemasan yang galibnya diderita orang tua ketika dia bilang, ”Itu teman-teman yang pinjam. Aku penasaran, jadi ya ingin nonton juga.”
Ya, anak saya tidak suka jenis film seperti itu. Dia juga punya tradisi tak memilih yang serupa itu ketika pinjam di rental atau beli di gerai DVD. Tapi ada kenyataan lain: tradisi dalam keluarga sering dikalahkan oleh kepentingan peer group. Kepenasaran anak saya membuat dia memilih kesepakatan bersama teman-teman sebayanya.
Itu bisa terjadi untuk banyak hal. Anak-anak kita akan lebih suka merapat ke teman sebaya ketimbang ke orang tua mereka. Apalagi, jika orang tua mereka berbakat menjadi tukang perintah dan tukang larang. Ingat, anak dilarang, anak membangkang, dan penasaran!

***

KETIKA muncul rencana K2K Production memasukkan nama Tera Patrick dalam produksi film berikutnya dan memicu kontroversi, saya ingat kisah DVD film horor di meja belajar anak saya itu. Bukan lantaran saya mencemaskan anak itu bakal menonton Rintihan Kuntilanak Perawan, judul yang konon bakal melibatkan Tera di dalamnya. Bukan. Saya memercayai omongannya yang berjanji tak bakal menonton film-film seperti itu.
Ingatan itu muncul lantaran (selalu) ada penolakan setiap kali akan ada bintang porno dalam produksi film kita. Dulu Maria Ozawa alias Miyabi dari Nippon kita tentang sampai berbuih-buih. Tapi filmnya, Menculik Miyabi, tetap diproduksi, didistribusikan, dan bak kacang goreng dikudap penonton kita.
Kali ini Tera, si bintang porno dunia dari Amerika yang punya darah Thailand. Kita lalu bicara soal ”penjajahan” atau ekspansi bintang porno dunia ke perfilman kita. Maklum, selain Miyabi dan Tera, ada beberapa nama lain yang terselip dalam film horor-hororan mesum-konyol produksi orang kita. Sebut saja Rin Sakuragi dalam Suster Keramas, Leah Yuzuki dalam Rayuan Arwah Penasaran, dan Erika Kirihara dalam Arisan Brondong.
Buat saya, tak ada yang keliru ketika seorang produser film memainkan siapa pun, asal punya duit untuk membayar honornya. Dan kalau pakai logika orang awam macam saya, tak mungkin mereka mau keluar uang banyak kalau tak akan beroleh duit yang lebih banyak lagi. Jadi, ini lebih pada soal dagangan semata. Pedagang berani kulakan besar-besaran kalau dia tahu dagangannya bakal diserbu pembeli. Dalam hal film, pembeli itu siapa lagi kalau bukan ”arwah penasaran”, eh maaf, penonton yang penasaran. Dan terbukti , pelarangan memunculkan pembangkangan, dan kontroversi memicu kepenasaran. Yah, mungkin saja kita berpikir sesekali memelototi akting Miyabi atau Tera atau Rin dan teman-temannya yang berpakaian.
Ya, tentu kita boleh berteriak menolak Tera arau siapa pun, tapi lebih baik tidak menonton filmnya. Yakinlah, produser tak akan mau lagi membuat film yang tak laku. Kalau film-film sejenis sebelumnya cuma buang duit doang, mereka pasti tak bakal lagi bikin misalnya Suster Mandi di Sungai atau Rintihan Sundel Bolong Janda Kembang atau Hantu Perawan di Sarang Siluman Buaya Putih. Hmm, judul-judul yang kayaknya membuat selera makan kita lenyap, bukan?
Dan ketimbang menonton Suster Mandi (itu kalau produser Suster Keramas ingin bikin sekuelnya), mendingan mandi sendiri biar kayak Nagabonar yang bisa pamer sama Kirana, ”Hei Kirana. Awak sudah mandi. Pakai sabun cap Merak. Kata si Bujang, wanginya sampai ke Medan.” Hahaha…. (*)

Epilude, Suara Merdeka, 10 Oktober 2010


1 Comment

  1. Trend tak dapat dilawan. Biarkan Trend berlalu. Nanti akan muncul Trend Baru Lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: