Home » Kolom Epilude » HUDSON DAN JESSICA

HUDSON DAN JESSICA

SAYA membayangkan suatu saat Hudson bernyanyi dengan wajah menghadap penonton.
Ya, kita memang sudah tak bisa melihat penampilannya di panggung Indonesia Mencari Bakat (IMB). Minggu lalu, dia telah keluar karena dari empat finalis, polling SMS untuknya paling rendah. Tapi dia tak sekadar numpang lewat. Pihak Trans TV, penyelenggara ajang kontes itu, sudah menawarinya kontrak eksklusif.
Dalam beberapa tulisan di kolom ini, mungkin Anda merasa saya ini sering agak nyinyir kalau bicara ikhwal kontes-kontesan. Mungkin. Kenyinyiran itu lahir dari ekspektasi besar bahwa pemenang ajang kontes pastilah sosok yang memang brilian. Mungkin pula saya agak konservatif dan ndesit, bahwa pemenang kontes atau lomba seyogianya ditentukan dewan juri yang telah diakui kapabilitasnya.
Benar, para juri itu manusia, dan ketika menentukan juara, bisa saja mereka tak sempurna. Mereka bisa saja salah menentukan. Tapi sekhilaf-khilafnya para juri, itu lebih bagus ketimbang pilihan ditentukan lewat SMS yang nama pengirimnya pun tak jelas.
Itu sebabnya saya lebih suka memindah saluran televisi pada saat tertayang acara seperti itu, atau mematikannya saja. Apalagi kalau sudah masuk acara tangis-tangisan karena ada yang dieleminasi, atau tayangan soal latar belakang peserta yang mengharu-biru, menguras air mata, menggugah simpati, yang ujung-ujungnya membuncahkan kiriman SMS. Sudah banyak, peserta yang pas-pasan, tapi kisah hidupnya mengharukan, beroleh dukungan besar. Ah, jangan-jangan kita memang orang-orang yang mudah terharu dan sangat dermawan!

***

TAPI entahlah, saat ada IMB, lumayan sering saya menontonnya. Semua menarik. Tapi Hudson paling menarik. Saya tak melihatnya dari sisi bakat atau kemampuannya di atas panggung karena saya bukan juri dan bukan pengirim SMS untuk kontes-kontesan seperti itu.
Saya juga tidak terkesan pada suara dan penampilannya. Sebab, maaf, suaranya ketika menjadi Jessica, rasanya seperti dipaksakan biar mirip suara perempuan. Saya juga tak tertarik dengan wajahnya yang ”mendua”. Mungkin itu menarik secara visual. Tapi saya tak melihat wajah manusia, karena citra yang tergambar lebih mirip sebuah topeng. Topeng dengan dua sisi muka yang bertabrakan: satunya macho dan acapkali berkesan garang, satunya lagi feminin, cantik, dan mata yang sering begitu lentik.
Lalu kenapa saya betah menonton Hudson lebih dari tiga finalis lain yang masih bertahan dalam IMB? Klanthink bagus, tapi saya sering menjumpai di jalanan pengamen yang serupa mereka. Penampilan Brandon? Saya juga sering melihat aksi seperti itu tapi tetap saya akui, itu dahsyat untuk anak seusia dia. Tapi hal itu tetap tak membuat saya tertarik. Putri Ayu juga dahsyat ketika bernyanyi seriosa. Tapi untuk anak seusia dia, bolehlah dia itu hebat.
Sekali lagi, ini anggapan subjektif. Ketiga finalis iitu bagus, tapi tak memiliki nilai pembeda. Hudson punya: presentasi alter ego. Dia merelakan tubuhnya diisi oleh dua orang yang berbeda. Ini mengingatkan saya pada penderita skizoprenia, orang-orang yang mengalami keterbelahan kepribadian. Tapi sedahsyat-dahsyatnya Sybil yang punya 16 kepribadian, Hudson lebih hebat. Semua karakter Sybil hadir dan merepresentasikan dirinya dalam keadaan si pemilik tubuh tak sadar. Hudson menyadari benar kapan harus jadi Hudson dan kapan jadi Jessica. Tak banyak orang bisa melakukan hal itu.
Hanya saja, kadang saya juga berpikir, apakah Hudson akan terus tampil seperti itu: merias muka dan merancang busananya dalam dua jenis kelamin, dan menyanyi tanpa pernah menghadap muka penonton? Dunia hiburan adalah dunia yang cepat bosan. Bayangkan, Deddy Corbuzier pun merasa perlu mengubah riasan wajahnya setelah beberapa tahun dengan wajah bercitra tertentu. Ada yang suka, dan jelas ada pula yang tidak suka. Kalau orang menyebut Deddy lebih mirip Kaisar Ming dalam film Flash Gordon, ya itu konsekuensinya. Dia tak boleh marah atau bahkan menyulap yang tidak memuji menjadi katak atau apa, hehehe….
Tapi saya juga tak mengharapkan Hudson merias mukanya menjadi sepuluh bagian. Sebab, itu hanya milik Dasamuka alias Rahwana. Di negeri kita, tokoh Rahwana tak pernah diidolakan. Sepakat, Hudson… eh Jessica? (*)

Epilude, Suara Merdeka, 3 Oktober 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: