Home » Kolom Epilude » S U A R A

S U A R A

KALAU menonton sinetron atau film asing yang telah disulihsuarakan bahasanya, saya selalu merasakan keampangan. Sebenarnya ini lumrah. Sebab, antara bahasa satu dengan lainnya berbeda cara pengucapan dan dialeknya. Gestur tubuh dan mimik pemakai bahasa satu dengan lainnya juga tak sama. Maka ampang rasanya saat menyimak telenovela berbahasa Spanyol yang telah disulihsuarakan ke bahasa Indonesia. Bahasa Spanyol, juga bahasa Roman lain seperti Prancis, Italia, Portugis, dan Rumania bersifat lebih ekspresif dan berlagu ketimbang bahasa Indonesia.
Okelah, ini bukan pelajaran bahasa. Saya hanya ingin bilang: meski ampang, saya dimudahkan menyimak dialog-dialognya. Untuk hal itu, saya pantas berterima kasih pada para penyulih suara. Mereka pasti telah berjuang keras ”mendekati” karakter yang mau dipinjami suaranya, sedekat-dekatnya. Apalagi mereka adalah orang-orang yang ikhlas untuk tidak muncul ke permukaan. Mereka ikhlas tak dikenal. Mereka hanya penjual suara yang tentu berbeda dengan para pengamen yang mengatakan, ”Selamat siang, izinkan saya menjual suara….” Hahaha, kalau suaranya bak buluh perindu, pasti kita akan merasa beruntung membelinya hanya dengan Rp 500 atau Rp 1.000

Sedikit berbeda dengan mereka adalah para pengisi suara. Anak-anak kita, juga sebagian kita, yang sudah akrab dengan Upin dan Ipin, Mail, Mei Mei, Kak Ros, Opah, dan lain-lain tak selalu mengenal Nur Fathiah (diganti Asyiela Putri), Mohd Hasrul, Yap EE Jean, Ida Shaheera, atau Hj Ainon Ariff. Itu lantaran mereka ”mengikhlaskan” suaranya untuk tokoh-tokoh kartun itu. Mereka hanyalah pengisi suara. Dalam hal ini, citra fisik sang tokoh dengan pengisi suaranya tidak harus sama. Setahu saya, hanya tokoh kondektur kereta cepat yang secara fisik mirip dengan pengisi suaranya, Tom Hanks, dalam film The Polar Express (2004). Jadi, lumrah saja yang menonjol adalah tokoh-tokoh yang diisi suaranya. Mereka hanya sesekali muncul ke permukaan saat jumpa fans atau acara meet and greet.

Agak lain kisahnya dengan Ria Enes dan Susan atau Gatot Sunyoto dan Tongki. Pemilik suara sekaligus boneka yang disuarakan sama-sama muncul dan dikenal. Sebab, secara ekstremnya, tak ada Susan tanpa Ria Enes dan tak ada Tongki tanpa Gatot Sunyoto. Itu beda dengan Upin dan Ipin yang bisa terus muncul meski kemudian Nur Fathiah digantikan Asyiela Putri.

***

KALAU penyulih suara dan pengisi suara itu menjual suara mereka, bagaimana dengan yang lip-sync? Mereka bukannya menjual melainkan membeli suara orang, lalu yang mereka jual hanyalah gerak bibir, plus akting. Masih bagus kalau membeli, bagaimana kalau hanya memakainya begitu saja tanpa permisi sama yang empunya?

Frank Farian pada 1988 membeli suara Charles Shaw, John Davis, dan Brad Howel dan membentuk Milli Vanilli. Tapi yang dijual adalah Rob Pilatus dan Fab Morvan. Orang lalu mengenal personel kelompok dengan album perdana (All or Nothing) laris manis itu Rob dan Fab sementara Charles, John, dan Brad hanya gigit jari di suatu tempat. Ketika diremix dengan judul baru, Girl You Know It’s True untuk peredaran di AS, ada 4 singgelnya yang hit, dan 22 Februari 1990, album itu diganjar Grammy Award untuk Best New Artist.

Tapi orang punya batas kebohongan. Ketika Rob dan Fab tak mau mempromosikan album kedua, Farian berang dan membongkar rahasia yang sebenarnya dia bikin sendiri. Tiga penyanyi asli dimunculkan dan itulah skandal lip-sync terbesar dalam sejarah industri musik dunia. Alasan awal Farian me-lip-sync adalah ketidakmenjualan tampang tiga penyanyi aslinya.

Ketika ada gagasan membuat album lip-sync untuk Sinta-Jojo, buat saya itu aneh. Saya tak yakin, kita ini orang-orang yang suka membeli sesuatu dari kemasannya saja. Benar, kemasan suatu produk menjadi daya tarik pertama sebelum orang mempertanyakan kualitas.

Dan Farian adalah orang yang limpad dalam menjual kemasan. Tapi kalau Anda membeli sabun yang di kemasannya ada artis supercantik tapi ketika dipakai tak wangi dan bikin gatal, saya yakin Anda akan membuang sabun berikut kemasannya. Anda yang suka perkutut, dan burung Anda itu tak mau mengeluarkan ”koong”, pasti Anda tak akan mengambil tape-recorder dan memutar CD suara burung, lalu sambil berleha di kursi goyang memandangi perkutut yang suaranya sudah diwakili CD. Kalau Anda melakukan itu, bahkan dilengkapi dengan bibir bergerak-gerak me-lip-sync suara dari CD, wah jangan sampai istri atau tetangga Anda tahu. Konsekuensi paling seram, bisa-bisa Anda dirujuk ke psikiater atau RSJ. Hihihi…(*)

(epilude, Suara Merdeka, 15 Agustus 2010)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: