Home » Kolom Epilude » PRIKITIEW

PRIKITIEW

Prikitiew adalah Sule. Dia mungkin tak pernah mengira ucapan itu bakal jadi tagline yang berdaya magis di televisi. Tapi setelah populer, orang pun mengira-ngira maknanya. Dalam banyak milis, muncul diskusi asyik yang mencoba menafsir makna kata itu. Prikitiew itu sepadan dengan ”ihiy” atau ”ihir”, begitu kata mereka. Ada pula yang menafsirkannya dengan gaya-gaya jarwa dosok: prikitiew sama saja dengan pretty gitu. Wah, betapa globalnya untuk ucapan yang mungkin hanya dilontarkan asal cuap itu.
Setelah itu muncul kisah yang mirip Cinderella atau Ali Baba yang dapat harta karun di sebuah gua. ”Sule, bekas penjual jagung rebus itu jadi miliarder.” Cerita mengharu-biru seorang pelawak yang merangkak dari bawah, dilengkapi kisah soal kemiskinan, dan diakhiri dengan prediksi kekayaannya sekarang yang wah.
”Hidup elit alias ekonomi sulit, sudah nempel pada diri saya sejak lahir. Rasanya benar-benar pahit sekali. Karena itulah, keinginan terbesar saya saat itu ingin mengubah hidup sebaik-baiknya dengan bakat yang saya miliki,” ujar Sule.
Dia sudah membuktikannya. Dan kita selalu terharu setiap ada kesuksesan seseorang yang dicapai lewat kesulitan berlarat-larat. Sebelum Sule, kita sudah disodori kisah serupa tentang Tukul Arwana. Tapi sebenarnya ini bukan monopoli dunia hiburan. Di panggung-panggung lain, baik politik maupun bisnis, suatu saat kita disodori kisah kesuksesan orang yang berangkat dari titik nol.
Mungkin kita terharu tapi tidak terkejut lagi. Saat kecil, orang tua kita demen menceritakan kisah-kisah heroik, cerita tentang orang-orang from zero to hero. Ken Arok yang tidak jelas asal-muasalnya dan hanya dikenal sebagai berandal saja bisa jadi akuwu sebelum mendirikan kerajaan besar yang dikagumi. Damarwulan yang hanya pencari rumput dan tak pernah diketahui belajar kepemimpinan dan olah kanuragan saja bisa mengalahkan orang segahar dan sesakti Menak Jingga sebelum menjadi raja. Belum lagi kisah Cinderella yang mirip-mirip Bawang Merah-Bawang Putih.

***

MUNGKIN sekarang dunia hiburan adalah milik Sule. Di dunia yang serbacepat dan serbabosan itu, sulit mencari sosok penghibur yang bisa bertahan lama disukai orang, dan tentu saja disukai orang televisi. Setelah Sule, saya yakin pasti akan muncul nama baru, baik dengan kisah awalan sepahit Sule maupun yang lebih dahsyat lagi. Prikitiew itu pasti bakal berganti. Bukankah beberapa tahun lalu kita begitu hapal ungkapan ”taksobek-sobek” dan ”katrok” dari Tukul?
Tapi kisah Sule ini menarik kalau saya melihatnya dari tahapan dia mulai meraup popularitas besar. Ada semacam anomali dalam dunia kontes-kontesan di televisi kita. Lagi-lagi, televisi tak tertahankan lagi selalu jadi ukuran. Mungkin karena medium itu yang hadir pada kita setiap detiknya. Ya, orang baru mengenal lelaki yang aslinya bernama Entis Sutisna di televisi ketika bersama Ogi Suwarna (Oni) dan Obin Wahyudin (Oding) dalam grup SOS jadi juara I audisi API (Akademi Pelawak Indonesia) 1 TPI.
Kenapa anomali? Karena ajang kontes-kontesan tak pernah bisa menjamin pemenangnya bisa bertahan di dunia hiburan. Lihat saja, kenapa hanya Sule yang masih terus laku? Di mana Oni dan Oding? Mungkin mereka melawak di panggung-panggung off-air, tapi karena ukurannya on-air televisi, kita tak tahu nasib mereka. Infotainment pun lebih demen mengabarkan (dan menggosipkan) yang lagi berada di puncak popularitas. Itu beda misalnya dengan Bajaj (juara 2 API 1) yang terlihat selalu bersama, baik dalam Cagur Naik Bajaj maupun Para Pencari Tuhan.
Bolehlah API memunculkan beberapa orang yang masih bertahan di panggung televisi kita. Selain Bajaj, ada Rina. Seperti Sule, gadis itu punya pulung sendirian, karena sebenarnya dia berangkat lewat Jurnal bersama Jujun dan Zenal. Ya, secara subjektif saya selalu tidak percaya pada kontes-kontesan untuk mengukur kemampuan seseorang. Sule atau Rina memang baru muncul lewat kontes, tapi saya yakin mereka tak bakal bisa bertahan kalau tidak membawa modal dari sono-nya. Bakat dan kedayatahanan. Contoh kecil saja, Sule punya ”prikitiew” dan Rina punya suara yang mirip siapa saja, dan pasti itu menghibur.
Saya tak memaksakan Anda untuk tak percaya kontes-kontesan seperti yang lagi hangat kayak Indonesia Mencari Bakat. Tapi tolong beritahu saya kabar tentang Veri AFI, Tia AFI, Siti KDI, Ihsan Idol (sekadar menyebut beberapa) karena saya kangen mereka membuktikan diri punya sesuatu ketimbang jadi cempiang lewat SMS. Jangan-jangan itu lantaran mereka tak bisa seriang Sule saat mengucapkan: prikitiew….(*)

(Epilude, Suara Merdeka, 29 Agustus 2010)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: